Apa Saja Persiapan Sebelum Menikah? Ini Penjelasan Guru Besar UIN Jakarta

Tangerang Selatan, Bimas Islam — Mempersiapkan pernikahan tidak cukup hanya dengan memiliki keinginan untuk membangun rumah tangga. Calon pasangan juga perlu memiliki kesiapan psikologis, emosional, spiritual, sosial, dan finansial agar mampu menjalani kehidupan keluarga.

Hal tersebut disampaikan Guru Besar Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Bambang Suryadi, saat memberikan materi dalam kegiatan Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) yang diikuti 150 mahasiswa UIN Jakarta di Tangerang Selatan, Kamis (5/11/2026).

Menurut Bambang, keinginan menikah perlu diimbangi dengan kesiapan atau marriage readiness. Seseorang mungkin sudah ingin menikah, tetapi belum tentu siap menghadapi tanggung jawab dan dinamika kehidupan rumah tangga.

“Menikah itu sebuah seni. Seni berkomunikasi, seni berinteraksi, dan seni mengelola konflik. Ketika seni ini tidak dimiliki, seseorang bisa jadi belum siap untuk menikah,” jelasnya.

Ia menjelaskan, kesiapan menikah mencakup sejumlah aspek, antara lain kematangan pendidikan, kemampuan finansial, kematangan sosial, dan kesiapan spiritual. Seluruh aspek tersebut perlu dipersiapkan secara seimbang sebelum seseorang memutuskan membangun keluarga.

Bambang juga mengingatkan bahwa membangun rumah secara fisik berbeda dengan membangun rumah tangga. Kemampuan finansial dapat membantu seseorang memiliki rumah, tetapi kehidupan keluarga yang harmonis membutuhkan fondasi psikologis, seperti komitmen, kasih sayang, penerimaan, dan kemampuan memahami pasangan.

"It is easy to build a house but not a home.” Sangat mudah membangun sebuah rumah, tetapi membangun rumah tangga membutuhkan hal-hal yang bersifat psikologis,” ungkapnya.

Dari perspektif psikologi, Bambang menjelaskan bahwa pernikahan mempertemukan dua individu dengan kepribadian, emosi, nilai, dan pengalaman hidup yang berbeda. Karena itu, calon pasangan perlu melalui proses saling mengenal sebelum mengambil keputusan untuk menikah.

Proses tersebut meliputi beberapa tahapan, mulai dari pengenalan introduction, membangun kedekatan, mengungkapkan perasaan feeling expression, hingga mengambil keputusan making decision. Setiap tahapan perlu dijalani dengan pertimbangan matang agar keputusan menikah tidak diambil secara terburu-buru.

Selain itu, kematangan emosi dan kesadaran diri menjadi bekal penting dalam kehidupan rumah tangga. Pasangan perlu mampu mengendalikan emosi, mengelola stres, serta membangun harapan yang realistis terhadap satu sama lain.

Bambang mengingatkan agar pasangan tidak membalas kemarahan dengan kemarahan, menghindari pengambilan keputusan saat emosi, dan tidak bertengkar di hadapan anak. Persoalan masa lalu juga sebaiknya tidak terus-menerus diungkit ketika terjadi konflik.

Dalam menjaga hubungan, komunikasi terbuka dan rasa saling percaya juga menjadi fondasi penting. Pasangan perlu menyampaikan perasaan dan pikiran secara terbuka, tidak berasumsi bahwa pasangannya selalu memahami apa yang dirasakan, serta membangun keterbukaan dalam pengelolaan keuangan keluarga.

Ia menambahkan, perhatian dan sikap saling memahami lebih penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga daripada sekadar penampilan fisik. Rumah tangga perlu menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi setiap anggota keluarga untuk saling mendukung.

“Menikah bukan menyamakan dua orang yang memiliki perasaan, pikiran, dan emosi yang sama. Pernikahan justru mempertemukan dua orang yang berbeda untuk saling memahami, menerima kekurangan dan kelebihan, beradaptasi, serta berkembang bersama,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Ahmad Zayadi, menegaskan bahwa pernikahan merupakan awal dari proses panjang membangun keluarga. Dalam perspektif Islam, keluarga atau al-usrah merupakan unit dasar dalam membangun masyarakat, peradaban, dan mewujudkan umat terbaik.

Pandangan tersebut sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar mengenai pentingnya penguatan ketahanan keluarga. Keluarga memiliki peran mendasar dalam membentuk kehidupan masyarakat yang harmonis dan berkualitas.

Karena itu, persiapan pernikahan perlu mencakup berbagai aspek kehidupan, baik spiritual, ekonomi, maupun psikologis. Kualitas keluarga turut menentukan kualitas masyarakat dan masa depan bangsa.

الوسوم المتعلقة:
#InfoNikah#KUA#BinaKUA#BimasIslam#KemenagRI

المساهمون وجهة العمل

انقر على أي مساهم أو جهة عمل لعرض جميع الأخبار ذات الصلة.

المراسل
Inisial MSK · Tim Peliput
التغطية الإخبارية والتحريرعرض مقالات المراسل
المحرر
Inisial MR · Redaksi Pelaksana
مراجعة وتحرير المحتوىعرض مقالات المحرر
المصور
Dokumentasi Humas Bimas Islam
التوثيق المرئي والصورعرض أرشيف الصور
جهة العمل
Direktorat Bina Kantor Urusan Agama dan Bina Syariah
Bina KUAعرض أخبار الجهة
منشور رسمي لوزارة الشؤون الدينية في جمهورية إندونيسيا.

Baca Selanjutnya

Lihat semua