H. KUSMINDAR, S.Pd. MM

  • Wednesday, 26 July 2017 | 13:40
  • Administrator
Tokoh yang mengisi rubrik profil kita kali ini adalah H. Kusmindar, S.Pd, MM, seorang pria yang tak lagi berusia muda namun masih tampak enerjik, kelahiran Pulau Bangka lima puluh enam tahun silam. Pak Kus, demikian kerabat dan handai taulannya menyapa adalah pejabat esselon III yang kali pertama memimpin sebuah lokomotif baru bernama Subdit Kepustakaan Islam, pada Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Ditjen Bimas Islam.
 
Sosok dengan paras sederhana dan murah senyum ini sebelumnya dikenal sebagai aparatur “gaek” yang telah memiliki pengalaman memimpin bagian keprotokolan Kementerian Agama Republik Indonesia. Terhitung sedikitnya ada 9 Menteri Agama yang pernah menikmati abdi keprotokolan Kusmindar, yaitu dari era Munawwir Syadzali, Tarmizi Taher, Quraish Shihab, Malik Fadjar, Tolchah Hasan, Said Aqil Munawwar, Maftuh Basyuni, Suryadharma Ali hingga Lukman Hakim Saifuddin.
 
Ditemui di sela waktu senggangnya oleh reporter bimasislam, Kusmindar mengawali perbincangan dengan menapaktilasi karir pengabdiannya di Kementerian Agama, yang tercatat mulai sejak era 1980an. “Tahun 1983 adalah penanda awal karir pengabdian saya di Kementerian Agama. Saya yang lahir dari garis militer ini sebenarnya berniat bekerja untuk mengurangi beban yang dihadapi kedua orang tua di kampung, dan alhamdulillah dalam perantauan perdana tersebut, selepas mengikuti testing CPNS Kementerian Agama, saya dinyatakan lolos dan ditempatkan di Kementerian Agama Kotamadya Jakarta Pusat,” papar Kusmindar.
 
Berlanjut mengikuti riwayat perjalanan karirnya, lepas dari tahun 1995 Kusmindar muda pun hijrah menjadi staf pada Sekretariat Jenderal Kementerian Agama Pusat, dan mulai mendalami kerja keprotokolan di lingkungan yang sama hingga tahun 2002. Tak lama kemudian ketika masih menapaki karir kerjanya Kusmindar lanjut mendapatkan amanat sebagai Kasubbag Keprotokolan hingga tahun 2012. Pada masa sepuluh tahunan itu, Kusmindar seraya mengamini bahwa pengalaman demi pengalaman yang ia lewati telah menjadikan dirinya sebagai hamba Tuhan yang senantias bersyukur. “Ada garis tangan Yang Maha Kuasa, dalam setiap langkah pekerjaan yang saya lewati, dan apa-apa yang sudah dilewati itu semata-mata hanyalah titipin rezeki dari  Allah, ungkap Kusmindar.
 
Kusmindar yang dibesarkan di keluarga veteran menyadari benar bahwa kemampuan tertib administrasi serta penguasaan bidang keprotokolan adalah hasil tak langsung dari penggemblengan sang ayah. “Dunia keprotokolan itu terkait erat dengan kedisiplinan waktu dan kesesuaian penempatan tempat secara tepat. Dua modal penting itu alhamdulillah telah saya dapatkan mulai sejak kecil, bagaimana kami sepuluh bersaudara menikmati ketertiban yang diterapkan orang tua di rumah selama 24 jam, kenang Kusmindar.
 
Tak heran suasana kedisiplinan yang terbiasa dijalani Kusmindar mendapat tempat spesial dalam praktiknya di dunia birokrasi, bahkan meski status dirinya sudah menjadi Kasubdit Kepustakaan Islam, namun kepercayaan untuk menjadi “dalang” penentu atas tartibnya alur dalam beberapa even besar kebimasislaman, seperti Sidang Isbat Ramadan, Syawwal dan STQ Nasional 2017 lalu, sosok Kusmindar pun masih mendapatkan kepercayaan.
 
Adalah 3 S, yaitu serius, santai dan selesai yang selalu menjadi prinsip penting Kusmindar dalam mengelola segala jenis kerja kedinasan. Kusmindar pun melanjutkan, yaitu bahwa, “diperlukan pula sikap kemauan yang tinggi dalam mendasari upaya untuk menembus alotnya sistem kebirokrasian, serta jika diiringi dengan keyakinan kuat di awal dan tekad ketelatenan maka bingkai kesuksesan sebagiannya sudah tercengkram di tangan”.
 
Merambah dunia Subdit Kepustakaan Islam yang menjadi amanah terbarunya pun, diproyeksikan oleh Kusmindar dengan pola dan metoda yang serupa. Ikhtiar keras dari protokol senior yang menghabiskan masa pendidikan menengahnya di Kota Lampung ini, menilai bahwa tak ada satu hal pun yang benar-benar tak bisa dipelajari dan ditekuni oleh manusia, termasuk Subdit baru Kepustakaan Islam.  Karena “hakikatnya kita (baca; posisi saya) akan memulainya dari titik nol dan kelak waktu, serta kedisplinan masing-masing kita khususnya dalam mengelola pekerjaan niscaya dapat membuktikan laju tidaknya lokomotif yang dikemudikan bersama ini, pungkas Kusmindar.
 
Ayah dari Bayu, Reza dan Adwa Khairunnisa ini selanjutnya memimpikan sebuah akhir perjalanan karir yang mulus dan khusnul khotimah. Ungkapan di atas terkesan sangat reflektif, ia seakan menjadi rem sekaligus gas bagi Pak Kus dalam setiap kali membuka obrolan dengan segenap karyawan Bimas Islam yang ditemui. “Tahun 2019 adalah masa purna bhakti dari riwayat pengabdian saya kepada Negara, menjalaninya dengan kerja keras dan langkah ikhlas adalah bekal pamungkas yang akan saya persembahkan kepada institusi tercinta kita ini, tegas Kusmindar.
 
Penjabaran dari dua hal penting yang Kusmindar sampaikan kali terakhir itu adalah terjemahan tidak langsung dari keikhlasan niat dan kemaslahatan amal yang ia dan ajaran agamanya terapkan.
 
Tanpa mengurangi rasa takzim kepada Pak Kus, layaklah diucapkan sapaan hangat atas kedatangan Suami dari Supriastuti ini di Bimas Islam.  wal akhir, ahlan wa sahlan bi qudumikum Pak Kus, selamat datang dan selamat menuntaskan perjuangan.
 
(muhammad syafaat)