Geliat dakwah di Kampung Nelayan

  • Thursday, 12 October 2017 | 11:56
  • Administrator
Kota Tegal, bimasislam--Udara terik terasa menusuk pori-pori kulit. Siang itu menunjukkan pukul 11.00. bimasislam tengah berada di sepanjang pantai utara Kota Tegal, tepatnya di Kecamatan Tegal Barat. Bersama Pak Ali Murtadho dan Mas Agus, dua sosok yang penuh dedikasi melayani 5 kelurahan di Kecamatan Tegal Barat. Mas Ali berposisi sebagai penghulu, adapun mas Agus adalah penyuluh agama non PNS.
 
Bisa dikatakan wilayah dakwah mas Agus adalah kampung nelayan. Tegalasari dan Muarareja sebagai dua wilayah binaan Agus, didominasi oleh masyarakat nelayan. Tampak deretan kapal yang baru bersandar di dermaga maupun yang hendak berangkat melaut. Satu catatan penting dari perjalanan dakwah Mas Agus adalah rendahnya pendidikan remaja sebagai akibat kurangnya akses pendidikan.
 
Diungkap Agus, tak jarang anak-anak usia 13-16 memilih melaut bersama orang tuanya daripada menimba ilmu di bangku sekolah. Dampaknya cukup jelas. Anak-anak yang tidak terisi dengan wawasan dan ajaran agama ini sangat lemah saat dihadapkan pada tantangan zaman. Dengan penghasilan rupiah yang lumayan besar, sementara wawasan anak-anak tersebut belum dewasa, tak jarang mereka pun terjerumus pada dunia diskotek dan turunannya.
 
"Selepas sekolah dasar itu mereka tak melanjutkan ke jenjang SMP. Apalagi ketiadaan TPA maupun Diniyyah, mereka hanya mengandalkan pelajaran agam di sekolah dan itu pun sangat tidak maksimal," tuturnya.
 
Fakta ini bukan tidak ditangani oleh pemerintahan desa. Ustadz Muhidin, tokoh agama di Muarareja bercerita, pihaknya dan jajaran pemerintahan desa mengambil langkah-langkah penanganan melalui kegiatan pengajian di masjid. Diakuinya, meski masih sangat terbatas, namun itu sudah mulai menumbuhkan hasil, khususnya di kalangan orang tua agar anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik.
 
"Tapi di sini sangat susah nyari guru ngaji mas. Jadi ya kita maksimalkan saja penyuluh yang ada. Ini tentu tak sebanding dengan kebutuhan di lapangan," ungkapnya.
 
Pemberdayaan Perempuan
 
Aini Zulfawati adalah sosok penyuluh agama Islam fungsional yang telah bergabung dengan para ibu-ibu di Muarareja. Bersama tokoh setempat, Aini menggerakkan pengajian dari RT ke RT lainnya. Tak lupa, agar ibu-ibu tidak terganggu waktunya, jadwal pengajian disesuaikan dengan waktu berkumpul yang telah biasa, misalnya hari senin sore dan setelah sholat jum’at.
 
“Ada seratus lebih jamaah yang bergabung. Ya rata-rata ibu-ibu yang suaminya berprofesi nelayan. Jadi mereka mengaji saat para suami berangkat melaut,’ ungkapnya kepada bimasislam.
 
Aini menambahkan, menggerakkan ibu-ibu di kampung bukanlah sesuatu yang sulit, namun tak juga muda. Tidak sulit karena di sini ibu-ibu memang sangat senang berkumpul. Namun terkadang susah untuk dipertahankan jika materi yang disampaikan dirasa kurang bermanfaat, khususnya untuk perekonomian.
 
“Ini tantangannya. Jadi kami sepakat ibu-ibu pengajian ini juga dilatih mengolah ikan asin dan telor asin. Masih skalanya kecil seh, lumayan bisa menggairahkan ibu-ibu jamaah,” tuturnya dengan luas.
 
Perempuan yang sebelumnya bertugas di Provinsi Papua ini banyak bercerita tentang pentingnya pemberdayaan perempuan di kampung nelayan ini. Menurutnya, ibu-ibu di kampung nelayan ini menjadi garda terdepan pendidikan anak dan lingkungan. Merekalah yang paling sering berada di sisi anak-anak, mendidik dan mengasuh. Sementara peran bapak-bapak lebih banyak di laut mencari ikan. Walhasil, ibu-ibu harus dibekali wawasan agama agar mendidik anak sesuai ketentuan agama.
 
Tantangan Lain Bernama Kampung Tirang
 
Masih terletak di Kecamatan Tegal Barat, tepatnya di Desa Tegalsari, terdapat sebuah perkampungan yang jauh dari standar hidup layak. Bangunan tampak seadanya dan tanpa alas lantai. Beberapa bangunan bahkan hampir roboh. Tak ada aliran  listrik. Di sekeliling kampung terdapat tambak-tambak dengan beberapa pohon dan rerumputan liar yang membuat perkampungan ini seperti tersembunyi dari keramaian Pantai Muarareja.
 
Untuk mencapai Kampung Tirang, Agus harus menempuh waktu 20 menit menyusuri pinggir pantai Muarareja. Beberapa titik bahkan hanya jalan setapak tanpa pembatas, tanpa lampu penerang. Gelap dan licin terpaksa harus ia hadapi. Sampai di Kampung Tirang, ia hanya menjumpai satu dua orang jamaah dari total sekitar 100 penduduk. Menurutnya, pendidikan agama sangat jauh dari kehidupan masyarakat di sana.
 
Hal ini tentu sangat ironi. Padahal perkampungan ini terletak tidak jauh dari keramaian pantai Muarareja yang kerap didatangi para wisatawan dan juga perkampungan maju. Hanya terbelah sebagai dan beberapa tambak ikan, kampung Tirang terlihat sangat kontras dengan bangunan perumahan di sebelah selatan.
 
 
"Di sini hanya ada satu musala. Dan itu pun jauh jaraknya. Penduduk yang biasa ngaji di musala biasa membawa anjing saat berangkat. Jelas sekali pendidikan mereka jauh dari layak. Sangat terbelakang," tuturnya saat menemani bimasislam menuju kampung Tirang.
 
Musala tersebut bernama Nur Solehah. Berdiri pada tanggal 1 Februari 2017, musala ini hanya berukuran 6m x4m. Agus bercerita, di musala inilah ia menyampaikan materi pengajian. Berdirinya musala ini menjadi titik awal pelayanan penyuluhan di Kampung Tirang. Meski hanya dihadiri segelintir jamaah saja, Agus tidak menyerah. Bersama jajaran KUA Tegal Barat, ia terus melakukan inovasi agar masyarakat di Kampung Tirang mendapat materi keagamaan yang baik.
 
Bukan hanya tantangan medan yang masih gelap gulita, Agus juga dihadapkan pada kondisi masyarakat yang sepertinya “asing” dengan agama.
 
Tak banyak yang bisa disampaikan Agus di hadapan jamaah. Ia pun lebih menitikberatkan pada pengenalan Islam sebagai sebuah agama. Baginya, mengenalkan mereka dengan musala adalah sebuah pencapaian luar biasa. Karena itulah ia lebih banyak melakukan pendekatan hati ke hati untuk mengajak warga hadir di musala.
 
“Kasihan mereka ini kurang mendapat pelajaran agama. Wajar kalau lumayan susah mengajak hadir di musala. Tapi insya allah ini akan terus berkembang jika semua pihak berpartisipasi,” ujarnya seraya menuntun bimasislam menuju ujung utara perkampungan.
 
(Yoesni-Jaja Zarkasyi/foto: bimasislam)