Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
TOKOH
H.Sutisna, S.Sos
  • Thursday, 06 August 2015 | 17:07
  • tokoh
Pembawaannya tenang, seperti tak punya beban. Ngobrol dengan Pak Tisna, demikian akrab disapa, umpama mengobrol dengan tiga orang sekaligus: dengan ayah yang mengayomi, dengan guru tempat menimba ilmu, dan dengan teman karib tempat melepas tawa. Gayanya yang kalem, membuat perbincangan serius bisa diikuti tanpa perlu mengeryitkan dahi.
 
Nama lengkapnya cuma satu kata, jelas dan singkat: Sutisna. Dari namanya mudah diketahui pria berkumis ini berasal dari tatar Sunda. Pria yang sudah mengabdi sebagai pegawai negeri sejak 1988 itu kini menjabat sebagai Kasubdit Pembinaan Nazhir dan Lembaga Wakaf, pada Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Ditjen Bimas Islam.
 
Kehadiran Pak Tisna di Direktorat Pemberdayaan Wakaf membawa suasana yang baru. Di mata para staf, Pak Tisna dikenal sebagai pimpinan yang sering membimbing, juga mudah akrab tanpa kehilangan keseriusan dalam bekerja.
 
Dalam kehidupan keluarga, ayah dari empat anak itu senantiasa mengakrabkan keluarganya dengan agama. Harapannya satu, ia bersama keluarganya bisa bersama-sama di surga kelak. “Anak itu perannya dua di akhirat. Ia akan menjadi penyebab syafaat bagi ayah bundanya jika kedua orangtua mengajarkan agama secara benar. Maka orangtua akan mendapatkan kebaikan dari hasil didikannya kepada anak. Namun demikian, anak juga bisa menjadi penyebab kecelakaan kita di akhirat. Jangan sampai, na’udzubillah, anak kita menuntut kita di akhirat sebab tidak pernah diajarkan agama oleh kita semasa di dunia.” tutur Pak Tisna kepada bimasislam. Untuk itulah, pria yang dilantik sebagai Kasubdit sejak 24 Februari 2014 itu selalu mengingatkan keempat anaknya untuk tekun belajar agama.
 
Sejak memimpin Subdit Pembinaan Nazhir dan Lembaga Wakaf, Pak Tisna mencurahkan segenap waktunya untuk melakukan bimbingan dan pembinaan kepada para nazhir dan lembaga-lembaga pengelola wakaf. Yang diinginkan oleh Pria kelahiran Jakarta, 22 September 1963 itu adalah bagaimana para nazhir memiliki kemampuan memberdayakan wakaf sehingga menghasilkan value secara ekonomi dan lebih produktif.
 
Saat ini, demikian Pak Tisna bertutur, masih banyak di antara pewakaf (wakif) yang menunjuk nazhir (pengelola aset wakaf) hanya lantaran kedekatan secara emosional, misalnya sebatas dipandang sebagai guru ngaji di kampung, tapi mengabaikan kompetensi manajerial. Tanpa mengurangi ihtiram terhadap para ustadz, hal ini mengakibatkan aset wakaf yang seharusnya dapat bernilai ekonomi menjadi aset beku yang tak produktif. “itulah mengapa kita berkewajiban untuk menyadarkan umat tentang sisi ekonomis dari pemberdayaan wakaf. Jangan sampai umat Islam menjadi miskin di negeri yang memiliki aset wakaf demikian besar, padahal peran wakaf bagi kesejahteraan ekonomi umat sebetulnya sangat besar” terangnya.
 
Saat ditanya harapannya pada pemberdayaan wakaf produktif di tanah air, mantan Kasubag Pelaksanaan Anggaran dan Perbendaharaan, pada Sekretariat Ditjen Bimas Islam itu berpesan agar para nazhir dan lembaga pengelola wakaf memiliki will untuk memajukan wakaf di tanah air. “Ayo kita belajar bagaimana cara ber-entrepreneur berbasis wakaf, ayo kita sama-sama belajar melakukan analisis pasar untuk melihat prospek ekonomi wakaf sesuai karakteristik lokasi, ayo kita sama-sama belajar manajemen dan ekonomi secara professional. Ini semua perlu agar kita bisa memberdayakan wakaf sebesar-besarnya untuk kesejahteraan umat.”tutur Pak Tisna.
 
Keberadaan Nazhir di masyarakat, katanya melanjutkan, harus menjadi sosok yang menjadi contoh pribadi-pribadi yang shalih secara agama, dan professional dalam hal manajemen usaha. “Jadi Nazhir adalah pribadi yang mencerminkan integritas atau perpaduan antara keshalihan dan profesionalisme.” tegasnya. (ska) []