Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Kamis , 19 Oktober 2017 - 29 Muharram 1439 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

H. Subhan Nur, Lc

  • Thursday, 12 October 2017 | 13:14
  • Syam
  • tokoh
Profil tokoh kita kali adalah sosok pegawai muda Ditjen Bimas Islam yang populer baik di lingkungan kerja maupun di masyarakat umum. Dibalik kesederhanaan penampilan sehari hari, ia adalah sosok yang memiliki kedalaman ilmu serta inovatif dalam bekerja. Menyandang gelar dari Timur Tengah tak membuatnya jumawa, sebaliknya ia justeru tekun membagi ilmunya kepada siapa saja yang bertanya, baik melalui surat elektronik maupun betatap muka secara langsung. Ia juga dikenal supel dan terbuka dalam dalam berkomunikasi, sebagai ciri khas putra asli Betawi.
 
Adalah Subhan Nur, atau akrab disapa Pak Subhan oleh rekan kerjanya, lahir di Jakarta pada 20 april 1978 silam. Saat ini sedang mengemban amanah sebagai Kepala Seksi Pengembangan Regulasi dan Metode Dakwah pada Direktorat Penerangan Agama Islam, Ditjen Bimas Islam. 
 
Subhan kecil tumbuh dan besar ditengah tengah keluarga yang sangat agamis. Ayahnya merupakan seorang guru ngaji tradisional. Dari kedua orang tuanya pula ia mulai belajar mengeja huruf hijaiyah hingga lancar. “Sosok yang paling berpengaruh dalam hidup saya adalah Bapak, beliau orang tua yang sangat peduli terhadap pendidikan anak anaknya, saya belajar  Al Quran darinya”, ungkap Subhan kepada BimasIslam saat ditemui diruang kerjanya, (10/10).
 
Kebiasaan mengaji sedari kecil berbuah kecintaan terhadap ilmu agama. Selepas tamat Madrasah Ibtidaiyah, dirinya memilih pondok pesantren sebagai sarana memperdalam ilmu agama. Selama enam tahun, Subhan menghabiskan masa remajanya di Pondok Pesantren Ilmu Al Quran Bogor, ditempat yang sama ia menjalani sekolah formal.
 
Tidak sia sia, ternyata pesantrenlah yang menghantarkan Subhan remaja dapat mengenal dunia luar. Pada tahun 1996 dirinya mendapat beasiswa studi ke Universitas Al Azhar Cairo, Mesir dengan mengambil disiplin ilmu Hukum Islam.
 
Setelah menamatkan studi di Univesitas Islam tertua di Dunia, Subhan bekerja sebagai penerjemah buku keislaman di PT Kuwais Internasional, tercatat dari tahun 2001 hingga 2003. Pengabdian di Kementerian Agama dimulai sejak 2003 hingga sekarang.
 
Lulus Sarjana dari Univesitas ternama tidak membuat dirinya lupa dengan guru yang telah memberikan banyak inspirasi. Bahkan, jalan dakwah yang kini digelutinya tidak lepas dari inspirasi dari guru yang sangat dihormatinya.  
 
“Ada seorang Guru yang sangat menginspirasi saya, namanya KH MurtadhoYusuf, Al Huffazh., Guru Al Quran yang selalu memotivasi saya dalam mempelajari Al Quran, itu kenapa saya membuka Majelis Tahfizh Al Quran dengan menggunakan metode belajar beliau”, kenangnya.
 
Pengabdian Masyarakat
 
Selain menjadi abdi negara Subhan memang aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Kini ia telah mewakafkan waktu senggangnya untuk membina Majelis Tahfizh Al Quran Al Hidayah khusus remaja di tempat tinggalnya, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Ada 78 santri berusia 13 —19 tahun yang kini diasuhnya. Kegiatan keagamaan ini dipilih karena ia melihat banyak lulusan TPA/TPQ yang berhenti belajar Al Quran setelah diwisuda.
 
Tidak hanya itu, ia kini tercatat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al Quran khusus anak yatim di Desa Jati Sampurna, Bekasi. Selain itu, kegiatan keagamaan yang telah lama dilakukannya yakni mengisi kuliah subuh di Kel. Lenteng Agung dan di Masjid Yusufiyah Lubang Buaya serta pengisi tetap Kajian Islam di Kantor Kejaksaan Agung RI.
 
Seiring dengan banyaknya aktivitas keagamaan yang dijalaninya, penghobi sepak bola ini menuturkan jika dirinya bekerja karena mengikuti para adat Nabi, dimana para nabi memiliki profesidalam menunjang aktivitas dakwah. Seperti nabi Nuh sebagai pengrajin kayu, nabi Idris sebagai petani, nabi Musa sebagai penggembala ternak, nabi Yusuf sebagai seorang bendahawan dan seterusnya.
 
“Dakwah bagi para nabi bukanlah profesi tetapi sebagai kewajiban individu dalam menyebarkan ajarantauhid tanpamemintaimbalan apapun dariobyekdakwah, karena biaya hidup berasal dari hasil pekerjaan”, terang Subhan.
 
Kewajiban kita, tambah Subhan adalah meneladani etos kerja para nabi, antara lain sebagaimana yang tertuang dalam lima nilai budaya kerja kementerian agama yakni integritas, profesionalitas, inovasi, tanggungjawab dan keteladanan.
Selain sebagai Kepala Seksi, kini ia juga aktif sebagai Anggota Tim Konsultasi Syariah Kemeterian Agama dan tercatat sebagai Mahasiswa Pasca Sarjana Prog. Magister Institut PTIQ Jakarta.
 
Beberapa karyanya yang dipublikasikan dalam bentuk buku, di antaranya: Energi Ilahi Tilawah Quran, Republika 2012, Mahir membaca al Quran Tanpa Guru, Kultum Media, 2011 dan Metode Tahsin Al Quran, Penerbit Hidayah, 2014.
 
Terkait dengan tugas yang diembannya saat ini, Subhan optimis kedepan akan terbit beberapa regulasi terkait kegiatan dakwah yang dapat dijadikan acuan seluruh mubaligh, terutama dakwah melalui media elektronik.
 
(syamsuddin/bimasislam)

Lihat Tokoh Lainnya