Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
TOKOH
H. Jajang Ridwan, MA
  • Monday, 27 November 2017 | 07:46
  • Syam
  • tokoh
Profil kita kali ini adalah sosok pejabat muda yang ulet dan dikenal oleh teman sejawatnya memiliki mobilitas dan komitmen tinggi dalam bekerja.     

Adalah H. Jajang Ridwan, MA, Kasi Pengelolaan Sarana Prasarana KUA pada Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah. Pria yang murah senyum dan selalu tampil berkopiah ini sebenarnya memiliki nama yang  cukup panjang, tetapi karena sejak di Ijazah SD tidak muat ditulis dengan lengkap, maka disingkat menjadi Jajang Ridwan. Nama ini lah yang kemudian menjadi nama resmi yang ia sandang.     
Seolah tidak ingin melupakan nama lengkapnya yang panjang itu, lelaki kelahiran Garut, 17 Agustus 1976 ini pun lebih senang disapa Kang Jamar. Loh  kok jadi begitu? "Iya, karena JAMAR itu singkatan dari nama lengkap saya, Jajang Muhammad Ali Ridwan," ujar suami dari Yustitin Karmila ini.

Apabila tidak sedang melaksanakan tugas di luar kantor, Kang Jamar selalu terlihat di belakang meja kerjanya menyelesaikan segala pekerjaannya. Dia sanggup berlama-lama duduk dan memplototi personal computer di hadapannya.               

Pun ketika bimasislam bertandang ke ruang kerjanya, pegawai yang hobi membaca ini tampak sibuk sekali.  Kang Jamar orangnya tidak bisa melihat pekerjaan yang tidak selesai tepat waktu. Makanya, ketika ada pekerjaan rekan atau bawahan yang tidak dikerjakan, ia pun tak sungkan untuk mengambil alih.              

Itulah sebabnya mengapa saban hari ia pulang kantor tidak tepat waktu. "Kalau listrik belum padam, saya belum pulang, bahkan kalau pekerjaan lagi nanggung, saya minta agar listrik dinyalakan lagi," terangnya.

Rupanya karakter yang giat bekerja seperti itu sudah terbentuk sejak anak pertama dari lima bersaudara ini mondok di pesantren Al-Hidayah, Sentiong, Cicalengka, Bandung. Padahal, semasa kecil, dia termasuk anak yang pemalas.               

Selama mondok di pesantren, Kang Jamar dilatih untuk hidup mandiri dan disiplin. Karakter tersebut terus berlanjut ketika menjadi karyawan di Masjid Istiqlal Jakarta. "Jadi, ketika di Masjid Istiqlal, saya sudah terbiasa kerja borongan, mulai dari menyapu, mengepel, gelar karpet hingga menghubungi imam salat dan penceramah," ungkap santri asuhan KH. Surowardi ini.         

Sebelum merantau ke Jakarta, putra pasangan H. Asep Saefuddin dan Hj. Ade Mintarsih ini, menghabiskan masa kecil dan remajanya di kampung halaman. Pendidikan SD sampai SMA diselesaikan di Garut. Setamat SMA, Kang Jamar tidak langsung kuliah, melainkan memilih mondok terlebih dahulu di pesantren Al-Hidayah selama tiga tahun.              

Selesai nyantri di Ponpes Al-Hidayah, Kang Jamar memilih merantau ke Jakarta dan menjadi karyawan Masjid Istiqlal. Setelah tiga tahun bekerja, laki-laki yang hobi memasak ini melanjutkan pendidikannya ke Universitas Ibnu Khaldun Bogor dengan mengambil Fakuktas Agama Islam jurusan Dakwah. Pada semester lima ia pun menyunting wanita pujaannya, seorang putri Betawi di daerah Benhil, Jakarta. 

"Waktu itu menjadi pengalaman tidak terlupakan bagi saya, dimana saya harus bisa membagi waktu kerja, kuliah, dan membesarkan anak-anak," ujar bapak tiga anak ini.        

Sebelum bertugas di Kementerian Agama, laki-laki berdarah Sunda ini terlebih dahulu mengabdi sebagai pegawai honor di Masjid Istiqlal Jakarta. Tujuh tahun kemudian, dia diangkat sebagai PNS yang terdaftar pada Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam yang diperbantukan di Masjid Istiqlal. Barulah pada tahun 2007, Kang Jamar dipindahtugaskan ke Ditjen Bimas Islam, tepatnya pada Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah.   

Di sini karir penyandang gelar Magister of Art dari Universitas Islam Asy-Syafi'iyah Jakarta ini mulai membaik.  Dia pun dilantik sebagai Kasi Pembinaan SDM KUA pada tahun 2012.        Setelah beberapa Subdit yang terkait dengan KUA dan Kepenghuluan bergabung menjadi satu unit eselon 2, yaitu Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Kang Jamar dipercaya untuk memberikan perhatian khusus kepada pemenuhan sarana dan prasarana KUA yang jumlahnya sebanyak 5.707 unit se-Indonesia. Dia dilantik sebagai Kasi Pengelolaan Sarana Prasarana KUA.     

Saat ini, Kementerian Agama di bawah kepemimpinan Lukman Hakim Saifudin, memang disibukkan dengan pembangunan gedung KUA yang berlabel balai nikah dan manasik haji melalui dana SBSN atau Surat Berharga Syariah Negara. Sampai saat ini, sudah sebanyak 463 KUA yang dibangun dari dana SBSN. "Tugas saya saat ini sedang konsen  pemenuhan lahan dan pembangunan KUA melalui SBSN," katanya menegaskan.           

Disinggung inovasi apa yang sedang disiapkan dalam pelaksanaan tugas di kantor, penghobi olah raga bulutangkis ini bercerita tentang persiapan pemenuhan IT berbasis android di KUA. Hal ini dilakukan karena tidak semua KUA tersambung dengan jaringan internet, akan tetapi SDM yang ada pada KUA rata-rata sudah memiliki smartphone android.   

Kang Jamar dan teman-teman di Subdit Mutu, Sarana Prasarana, dan Sistem Informasi KUA tengah menyiapkan aplikasi "e-Monitoring KUA" yang isi layanannya meliputi monitoring lahan, bangunan, SDM, dan pemenuhan sarpras berupa brankas buku nikah.       

"Pada tahun 2018 kita juga akan launching Kartu Nikah yang ukurannya seperti KTP. Untuk sementara terbatas hanya 700 ribu kartu untuk 350 pasang catin yang akan menikah," terangnya.          
Selain itu, Kang Jamar dan rekan juga sudah menjalin kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam hal pemasangan jaringan internet pada KUA yang berada di daerah 3 T sebanyak 300 titik untuk 1.039 KUA.        

Kerja sama tersebut juga untuk memenuhi kerja sama dengan Dukcapil Kementerian Dalam Negeri dalam hal penunggalan data penduduk, yaitu terintegrasinya data pada SIMKAH dengan SIAK.

Tingginya beban kerja dan menyita banyak waktu tentu saja membutuhkan semangat yang tinggi pula. Ditanya apa yang menjadi penyemangat dalam bekerja, penggila sambal lalapan dan ikan asin ini menjawab dengan singkat, yaitu cinta dan kemauan.           

Dengan mencintai pekerjaan dan kemauan yang kuat, Kang Jamar yakin seberat dan sebanyak apapun pekerjaan yang diamanahkan, akan bisa diselesaikan dengan baik. Bagi Kang Jamar, kepintaran bukan menjadi faktor determinan tercapainya tujuan suatu organisasi. "Saya selalu ingat dengan pesan Pak KH. Muchtar Natsir, Imam Besar Masjid Istiqlal waktu itu, dia bilang ke saya bahwa saya ini bukan orang yang pintar, tapi setiap pekerjaan yang diberikan kepada saya selalu terselesaikan dengan baik," ujar Kang Jamar mengenang.               

Oke deh Kang Jamar, selamat bertugas dan tetap semangat selalu..!
 
(insan/bimasislam)