Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
TOKOH
H. Arief Widiarto, S.E., M.Si.
  • Monday, 27 February 2017 | 14:42
  • sigit
  • tokoh
Saat disambangi bimasislam, pria berkacamata yang mengisi rubrik Profil kita bulan ini tampak terkejut. Wajar saja, pria kelahiran Bantul, 40 tahun lalu ini biasanya selalu sibuk di depan layar komputer yang dipenuhi angka-angka, sehingga ga kepikiran untuk dipilih sebagai ‘tokoh bulan ini’.
 
“Walah, apa yang mau diangkat?” ujarnya merendah.
 
Mas Arief Widiarto, demikian suami dari Rini Nurhayati itu akrab disapa, saat ini menjabat sebagai Kasubbag PNBP, Akuntansi, dan Pelaporan Keuangan BMN pada Sekretariat Ditjen Bimas Islam. Dari nomenklatur jabatannya saja, mudah dipahami sosok di balik meja tersebut pastilah orang yang maniak angka dan punya ketelitian ekstra.
 
Concern di angka-angka itu bukan hobi, tapi mesti ditekuni,” katanya membuka percakapan. Sebab itu, ia keukueh dan wanti-wanti agar seluruh pelaporan keuangan dilaksanakan dengan teliti dan tertib. “Saya selalu berharap teman-teman di seluruh unit di Bimas Islam melaksanakan pelaporan keuangan dengan tertib,” ujarnya.
 
Jabatannya sebagai “tukang verifikasi pelaporan keuangan” memang bukan sembarang jabatan. Posisi itu sangat strategis, pasalnya, jika pelaporan keuangan tidak dilaksanakan dengan tertib, dampaknya fatal. “Akibatnya saat dilaksanakan rekon, muncul angka-angka yang tidak match, kalau tidak match, akan berdampak pada terhambatnya proses pencairan,” urai Mas Arief menjelaskan.
 
Sudah barang tentu, terhambatnya proses pencairan keuangan akan mengganggu keseluruhan kinerja dan pelayanan Bimas Islam kepada masyarakat, sebab pelaksanaan program harus didukung oleh ketersediaan dana yang cukup.
 
Tak hanya itu, efek lebih jauhnya bahkan bisa berakibat pada predikat opini laporan keuangan Bimas Islam yang tentu saja akan berpengaruh pula pada opini laporan keuangan di tingkat Kementerian.
 
“Sementara ini, kadang-kadang setelah dilakukan rekon, kesesuaian data antara DJPB dan KPPN terkadang tidak match, ini cukup mengganggu proses akuntansi keuangan kita,” terang jebolan STIE Yogyakarta itu.
 
Merespon hal tersebut, Mas Arief selalu meminta kepada petugas terkait di daerah untuk terus berkoordinasi dengan DJPB wilayah masing-masing. “Tidak ada yang bisa dilakukan, selain meminta teman-teman di daerah untuk terus berkoordinasi dengan DJPB wilayah masing-masing,” katanya.
 
Pekerjaan yang menuntut ketelitian itu diakuinya memang rumit bahkan tak jarang menjenuhkan. Namun karena sikap amanah atas posisi yang diberikan, pekerjaan itu terus digelutinya dengan semangat pengabdian. Bahkan, pria yang sempat hobi badminton ini mengaku optimis laporan keuangan Ditjen Bimas Islam terus membaik dari waktu ke waktu.
 
Sejak masih menjabat sebagai Bendahara Pengeluaran Pembantu (BPP) pada Direktorat Pemberdayaan Wakaf medio 2010 lalu, Mas Arief memang dikenal sebagai sosok yang ramah, serius, dan seorang probem solver. Jika pekerjaan menemui kendala, maka yang bergelayut pertama kali dalam pikirannya adalah ‘bagaimana supaya bisa mendapat solusi?’ bukan malah berputar-putar mencari pelaku dan kenapa kesalahan bisa terjadi. Baginya, jalan keluar perlu dicari lebih dahulu, setelah itu baru lakukan evaluasi atas kesalahan yang terjadi agar tak terulang di kemudian hari. Ibaratnya, menolong orang yang jatuh ke dalam sumur harus didahulukan ketimbang mencari siapa yang mendorong dan kenapa korban bisa terjatuh.
 
Karena dedikasinya itulah, dua tahun selepas menjabat BPP, ia dipercaya menduduki amanah sebagai Kasi Pengelolaan Data Wakaf (2012) sebelum dimutasi ke Bagian Keuangan hingga sekarang.
 
Dalam kehidupan keluarga, pria yang sejak 2005 tinggal di kampung Gus Dur, di bilangan Ciganjur, Jakarta Selatan, ini dikaruniai satu orang putra yang diberinama Raka Athaya Argani (5 tahun). Buah hati yang kini tengah menikmati bangku taman kanak-kanak itu merupakan hasil penantian delapan tahun lamanya sejak menikah pada 2004 silam.
 
Bagi mas Arief, kelahiran Raka merupakan jawaban atas doa penuh khuyuk yang ia panjatkan di tanah suci saat menunaikan ibadah haji. “Kami menikah tahun 2004, delapan tahun lamanya belum dikaruniai anak,” kenangnya.
 
“Alhamdulillah”, ia melanjutkan, “Pada tahun 2011 berkesempatan mengunjungi Baitullah, dan putra kami lahir pada tahun 2012 sebagai jawaban doa.”
 
“Mohon doa agar Raka menjadi anak yang shalih, berbakti pada orangtua serta berguna bagi agama, bangsa dan negara” ujarnya menutup obrol-obrol dengan bimasislam.
 
Oke Mas Arief, sukses selalu!

[]sigit