Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
TOKOH
H. A. Suhip Junaedi, S.Sos., M.Si.
  • Tuesday, 27 September 2016 | 15:20
  • sigit
  • tokoh
Kalau bicara tokoh kita yang satu ini, semua orang di Bimas Islam sudah tahu, Kasubbag TU ini merupakan figur yang humoris dan seringkali mengundang tawa. Pada pertemuan-pertemuan yang bagi sebagian orang terlalu melelahkan, Kasubbag TU pada Direktorat Pemberdayaan Wakaf ini acapkali bikin suasana jadi lebih cair. Hasilnya, pertemuan berjalan lebih akrab dan tujuan dapat tercapai tanpa ada urat yang menegang dan hati yang mendidih. Suasana akrab seperti itu seringkali dibuat oleh Pak Jun, demikian penyuka bulu tangkis itu akrab disapa, tanpa menghilangkan keseriusan pertemuan. Cara yang ia lakukan itu, tentu sudah dengan pertimbangan mana pertemuan yang memang harus sangat serius, dan mana yang bisa dikondisikan dengan lebih cair tanpa kehilangan substansi.
 
Nama lengkap tokoh kita kali ini adalah Ahmad Suhip Junaedi, pegawai kelahiran 20 April 1968 itu sudah menjabat sebagai Kasubbag TU selama enam tahun. Dalam masa pengabdian tersebut ia telah melayani sebanyak enam direktur, sejak era Pak Masyhudi (alm) hingga direktur saat ini, Pak Suardi Abbas.
 
Pak Jun tahu betul bahwa fungsi utama Kasubbag TU selain urusan administratif, adalah memberikan pelayanan terbaik kepada pimpinan. Oleh karena itu, bagi suami dari istri bernama Dzakirah ini, pelayanan prima kepada pimpinan merupakan tugas yang tak bisa ditawar-tawar.

“Jika ada pejabat yang menelepon saat saya menghadap pimpinan, selama si penelepon itu setara jabatannya dengan pimpinan saya, (telpon itu) tidak akan saya angkat. Sebab saya tentu prioritaskan pimpinan saya,” jelasnya tegas.
 
Ihwal hal ini, ia banyak belajar pada sejumlah Direktur yang ia layani. “Melayani sejumlah direktur memang rasanya seperti gado-gado. Macam-macam. Tapi semuanya baik dan kita bisa mengambil banyak pelajaran.”
 
Kisah Meja Pak Dirjen
 
Kepada Bimasislam, Pak Jun bercerita tentang pelajaran yang ia petik saat melayani pimpinan, yaitu kisah Meja Pak Dirjen.  Ada satu direktur yang memang dikenal ketakwaannya, ujar Pak Jun bercerita, “saat masuk ke ruang Dirjen, beliau tidak mau membubuhkan paraf di atas meja pejabat eselon satu itu sekalipun diperkenankan. Alasannya sederhana tapi mendalam, sebab meja tersebut adalah meja Dirjen. Digunakan untuk kepentingan Dirjen, sehingga direktur tersebut mohon diri untuk membubuhkan paraf di meja lain atau di luar ruangan.”
 
Menurut Pak Jun, hal ini memang sangat simbolis. Tapi etika yang dilakukan direktur itu memiliki makna yang tidak sederhana, betapa hal tersebut menunjukan bagaimana seseorang mampu menempatkan posisinya dengan benar, tidak menggunakan fasilitas yang bukan haknya, dan seterusnya. “Bukan mejanya yang dilihat, tapi filosofi di balik sikap tersebut,” terang pria yang tinggal di bilangan Mangun Jaya, Tambun Selatan, Bekasi itu.
 
Dari  puzle-puzle pengalaman itu, ia banyak belajar bahwa prinsip pelayanan terhadap pimpinan adalah taat pada ketentuan dan prosedur yang berlaku. Perkara segores paraf saja, berdampak tidak sederhana. Paraf adalah bentuk persetujuan yang memiliki nilai proteksi agar pimpinan terhindar dari hal-hal yang tak diinginkan. Oleh karena itu, ia menjelaskan, sebelum membubuhkan paraf, setiap pejabat harus membaca draft dengan teliti baris demi baris. “Betapapun sibuknya, pelayanan pada siapapun harus optimal,” katanya.
 
Saat ditemui bimasislam di ruang kerjanya, Gedung Kementerian Agama lantai 9, Jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat, Pak Jun nampak sedang sibuk. Selain mengoreksi materi ceramah direktur berjudul “Potensi dan Permasalahan Wakaf di Indonesia,” ia juga sedang mengatur tertib adminsitrasi surat undangan dari salah satu Kementerian Kabinet Kerja. Teleponnya pun berdering berkali-kaliSepertinya ia tengah mengoordinasikan pertemuan perwakafan yang berubah dari jadwal semula. Di sela kesibukan itu, ia masih menerima bimasislam dengan ciri khasnya, senyum lebar dan ramah.
 
Kehidupan Sehari-hari
 
Dalam kehidupan sehari-hari, Pak Jun dikaruniai seorang anak tunggal, Djembar Arafat namanya. Anak semata wayang itu kini tengah mengenyam pendidikan di Universitas Prof. Dr. Hamka (UHAMKA). Nama anaknya memang cukup unik. ‘Arafat’ sengaja dipilih sebab buah cintanya itu lahir saat Pak Jun tengah ibadah wukuf di Padang Arafah. “Saat wukuf itu saya merenung, alangkah indah jika satu saat anak saya pun berkesempatan menuju tanah mulia ini. Tempat yang mustajab dan penuh karamah,” kenangnya.
 
Sementara itu ‘Djembar’ dalam bahasa Jawa artinya luas. Istilah dari bahasa Jawa itu sengaja diambil  agar sang anak tak melupakan identitas kulturalnyaBagi Pak Jun, identitas kultural Nusantara memang mengandung kearifan yang penuh nilai-nilai filosofis. Perpaduan antara nilai Islam dengan simbolisme lokal akan melahirkan etiket hikmah dan kearifan. “Kita bisa lihat, kearifan lokal melalui tokoh-tokoh pewayangan yang banyak mengambil nama dari bahasa Arab. Misalnya Werkudoro, berasal dari kata Wadzkurullah, Janoko berasal dari kata Jannah, Semar dari kata Samara, Petruk dari kata fatruk, dan seterusnya,” terang Pak Jun panjang lebar.
 
Berangkat dari alam pikiran semacam itu, Pak Jun bercerita, kita dapat memetik pelajaran agar lebih luwes dalam kehidupan bermasyarakat, tetap menjaga Islam tanpa kehilangan akar dan tradisiHasilnya, dari pandangan hidup semacam itu Pak Jun dipercaya untuk aktif dalam berbagai organisasi dan beragam aktifitas lain di masyarakat.
 
Sejak muda ia sudah menjadi ketua karangtaruna. Sempat pula menjadi ketua RT dan Ketua RW. Saat ini, disela kesibukan bekerja, ia juga menjabat sebagai Ketua DKM Masjid Darul Khairat di kompleks rumahnya. Saat memimpin masjid tersebut, ia keukeuh  agar masjid hanya boleh digunakan sebagai tempat beribadah yang mendamaikan, bukan menceraiberaikan, tempat disemainya sikap tolernasi dan saling pengertian, bukan perpecahan dan permusuhan.
 
Selain itu, saat ini ia juga berperan aktif di berbagai instansi dan organisasi kemasyarakatan, di antaranya sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BKD),  Ketua MUI Desa Mangun Jaya, Badan Narkotika Kabupaten Bekasi, FKUB Kecamatan Tambun Selatan, Pembina di SMA 7, serta bertindak selaku nadzir wakaf dari Yayasan Nurul Jannah. Itu semua dilakukan semata agar dirinya memiliki peran positif bagi masyarakat di sekitarnya. Tekadnya, bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan Allah (habluminallah) dan hubungan baik dengan manusia (habluminannas). “Semua organisasi itu merupakan madrasah bagi kesabaran. Kita adalah pegawai Kementerian Agama, harus memiliki peran di masyarakat.”
 
Saat ditanya mengenai bagaimana cara mengatur waktu di tengah padatnya aktifitas tersebut, ia mengatakan ‘jika niat kita lurus untuk ibadah, pasti Allah akan memberikan waktu yang cukup.”

Alokasi waktu untuk masyarakat ia plot di hari Sabtu dan Minggu. Bahkan ketika delapan tahun didaulat sebagai ketua RW, ia membuka waktu bagi warganya mulai pukul delapan hingga 10 malam. Keaktifannya ini diimbangi oleh istri tercinta yang memilih khidmat sebagai ibu Rumah Tangga untuk fokus merawat keluarga dan melayani sang suami.
 
Tantangan Wakaf
 
Sebagai Kasubbag pada direktorat yang concern pada pemberdayaan wakaf, saat ini Pak Jun mendapat tantangan untuk mengoptimalisasi aset wakaf agar berdampak pada meningkatnya ekonomi umat. Tak tanggung-tanggung, potensi ekonomis tanah wakaf  menurut identifikasi Bank Indonesia mencapai Rp 370 trilyun, sebuah angka raksasa! Tentu saja, untuk mencapai angka dengan berderet digit itu bukanlah perkara mudah. Terlebih, masih banyak masyarakat yang memahami wakaf secara tradisional, belum mengarah pada konsep wakaf produktif. Pun demikian masih sangat sedikit organisasi atau yayasan yang concern pada pemberdayaan wakaf.
 
Meski telah dikenal sejak lama, secara umum wakaf masih dipahami sebatas pemberian berbentuk barang tidak bergerak seperti tanah dan bangunan. Wakaf lebih banyak dipahami sebagai instrumen ibadah dengan melupakan nilai sosialnya, tak jarang pula diahami sebagai pranata keagamaan yang membebani dari pada meningkatkan ekonomi. Untuk itulah menurut Pak Jun, menyadarkan masyarakat tentang sisi ekonomis wakaf selain merupakan bagian dari pekerjaan, juga langsung bersentuhan dengan sisi ibadah.
 
“Bekerja di Kementerian Agama itu enak, sebab kita bekerja untuk kepentingan dunia dan akhirat sekaligus,” pungkasnya.
 
(*sigit)