Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Selasa , 22 Agustus 2017 - 30 Zulkaedah 1438 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Drs. H. Khoirudddin, MM

  • Wednesday, 14 June 2017 | 14:14
  • Syam
  • tokoh
Profil kita kali ini adalah sosok yang bersahaja, low profil dan penuh dedikasi. Pernah malang melintang di berbagai daerah sebagai kepala KUA. Memiliki nama lengkap Drs. H. Khoiruddin, MM,  kini dipercaya sebagai nahkoda baru Direktorat Penerangan Agama Islam.
 
Pak Khoiruddin, begitu kolega dan teman kerja menyapanya. Lahir di Jakarta pada 16 Desember 1964. Selain mengabdi di Kementerian Agama dia adalah seorang yang banyak mewakafkan waktunya untuk kegiatan sosial keagamaan. Selain aktif di organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama, saat ini tercatat sebagai Pengurus Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia.
 
Disela-sela kesibukan sebagai Direktur, Pak Khoiruddin menyempatkan diri berbincang-bincang dengan bimasislam. Ditemui diruang kerjanya (7/6), Khoiruddin mengisahkan tentang perjalanan panjang hingga diberi amanah seperti saat ini.
 
Sedikit menoleh kebelakang, Khoiruddin remaja adalah anak yang mudah bergaul dan patuh sama orang tua. berkat Kecintaanya pada ilmu agama mengantarkan dirinya menimba ilmu di Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur dan berlanjut ke Madrasah Aliyah Al-Masturiyah Sukabumi Jawa Barat.
 
Kedekatannya dengan dunia pesantren sedikit banyak mempengaruhi kesehariannya dalam memandang sesuatu. Bahkan hingga kini dirinya mengaku masih ingat betul dengan pesan-pesan para gurunya, salah satunya adalah pesan tentang kesederhanaan dan keikhlasan. “Di pesantren saya diajarkan untuk mengedepankan keihklasan, menerima rizki besar atau kecil sehingga apa yang kita lakukan tidak ada rasa lelah”, ujarnya membuka pembicaraan.
 
Beberapa Kyai yang sangat berjasa semasa dirinya di pesantren adalah Almarhum KH. Ishaq Latief, pengaush pondok pesantren Tebuireng. Dikatakan Khoiruddin, bahwa Kyai Ishaq senantiasa mengajarkan masalah kehidupan agar tidak selalu diukur dengan materi. “Beliau hidupnya sederhana tapi ilmunya sangat dalam”, ungkapnya.
 
Ada juga KH. Syamsul Ma’rif, sosok yang sangat dihormatinya, seorang Guru Kelompok Pengajian Dzikrul Ghofilin. “Pesan beliau itu tentang menggapai keberkahan. Keberkahan bisa dicapai siapa saja asal dijalankan dengan aturan yang berlaku dan atas ridha Allah”, kenang lulusan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini.  
 
Kecintaanya dengan dunia pendidikan Islam mengantarkan dirinya pada jenjang pendidikan formal tertinggi yakni S3 di Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta. 
 
Menjadi Abdi Negara
Mengawali karir sebagai Calon Petugas Pencatat Nikah (CPPN) pada tahun 1992 hingga 1996. Kemudian pada tahun 1996 dirinya diangkat menjadi kepala KUA Kec. Tanjo hingga 1998. Di tahun berikutnya suami dari Hj. Armi Setiana ini melanjutkan petualangan menjadi Kepala KUA Kec. Limo tahun 2000-2002 dan Kepala KUA Kec. Beji tahun 2002-2004.
 
Khoiruddn muda tercatat pernah menduduki beberapa Kepala Seksi (kasi) diantaranya Kasi Pondok pesantren, Kasi Penerangan Agama Islam dan Pemberdayaan Masjid Kota Depok, dan Kasi Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji Kab. Bogor.
 
Amanah yang lebih besar datang pada tahun 2011, dirinya diangkat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Sukabumi, hingga dua tahun kemudian diangkat menjadi Kepala Subdit Kemitraan Umat Islam pada Direktorat Penerangan Agama Islam Kementerian Agama RI.
 
Laboratorium Dakwah
Disinggung tentang tugas barunya, penyuka kopi hitam ini merinci beberapa obsesinya, diantaranya adalah tersedianya data yang komplit, akurat dan multifungsi. Selain itu, dalam rangka memberikan pelayanan yang maksimal dirinya menginisiasi pendirian laboratorium dakwah. 
 
“Pertama, semua data harus kita update, data penyuluh, ormas Islam, lembaga tilawah, majelis taklim dan lembaga seni budaya harus ada, dari situ baru kita membuat suatu program yang tepat sasaran”, terangnya.
 
Mengenai laboratorium dakwah, bapak empat anak ini mengungkapkan fungsinya nanti akan seperti geospasial yaitu mendeteksi wilayah kritis untuk segera diketahui kebutuhannya. “Melalui laboratorium dakwah kita akan fokus daerah 3T (terdepan, terdalam dan tertinggal). Selain itu, wilayah pesisir dan perkotaan juga”, ungkapnya.
 
Kepada seluruh jajaran di Direktorat Penerangan Agama Islam, mantan pengurus harian Jam’iyah Qurro’ Wal Huffazh ini menegaskan bahwa kedepan kegiatan ditempat yang dipimpinnya harus kreatif dan tepat sasaran.
 
“Kegiatan harus kreatif dan menyentuh langsung kepada kebutuhan masyarakat, contohnya kita harus hadir di majelis taklim dan pengajian perkantoran agar tidak ada lagi ujaran kebencian disana, seperti dugaan selama ini”, tegasnya.
 
Di Era Digital, tambah Khoiruddin dibutuhkan kecerdasan networking dari pusat hingga daerah. “Kedepan, kita harus terkoneksi dari pusat hingga daerah, baik dalam bentuk data maupun informasi terkait perkembangan Islam di desa maupun di kota”, imbuhnya.
 
Di sessi akhir perbincangan, Direktur Penais ini mengungkapkan sedang mencoba mengkaji kemungkinan dilaksanakannya Musabaqah Al-Hadis untuk pertama kali. “Selain peningkatan kualitas Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), kita sedang mengkaji penyelenggaraan Musabaqah Al-Hadis, kita sedang meminta masukan para ulama dari 34 provinsi”, ungkapnya.
 
Diluar kesibukannya di atas, Khairudin adalah pengurus DMI priode 2015-219 sebagai koordinator pengembangan dakwah. Saat ini dirinya juga aktif sebagai anggota Desk kebangsaan KEMENKO POLHUKAM RI menangani khusus masalah kerukunan umat beragama.
 
Aktifitas yang dijalankan di kantor sangat berhubungandengan kemitraan antara Kementerian Agama dengan BNPT, BNN dan Lembaga dakwah di Indonesia. “Kedepan bukan hanya bermitra dengan mereka tapi juga dengan majlis taklim/pengajian perkantoran  dan ormas Islam tingkat pusat”, pungkasnya.
 
Untuk diketahui, menjadi Direktur Penerangan Agama Islam adalah tugas yang tidak ringan. Selain membawahi +lima puluh ribu penyuluh agama Islam, Ditpenais juga mengemban tugas menyediakan materi dan peta dakwah diseluruh wilayah Indonesia. Selamat bertugas Pak Khairuddin.

(ahmad syamsuddin)

Lihat Tokoh Lainnya