Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Ahad , 30 April 2017 - 3 Syaaban 1438 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Dr. H. Mohsen, MM

  • Tuesday, 18 April 2017 | 13:53
  • sigit
  • tokoh
Profil kita edisi kali ini adalah salah satu pejabat eselon dua di jajaran Ditjen Bimas Islam yang dipercaya mengepalai sebuah diretorat baru yaitu Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah. Nama lengkap beliau cukup pendek, Mohsen. Lahir di Sugenti, Kabupaten Donggala,  Sulawesi Tengah tepatnya pada tanggal 6 Maret 1965. Lelaki keturunan Arab dengan marga Al Idrus ini beristrikan perempuan yang juga masih keturunan Arab, bernama Saihun Al Djufrie. Sang istri mengabdikan diri menjadi Kepala MTs Al Khairat Palu.
 
Lelaki bersahaja yang mengawali kiprahnya di Kementerian Agama sebagai pegawai KUA di salah satu kecamatan di kota Palu ini telah malang melintang diberbagai bidang di jajaran unit kerja di Kementerian Agama. Diantaranya sebagai Kepala Seksi Penerangan Agama Islam Kantor Departemen Agama Kota Palu, Kepala Subbag Ortala dan Kepegawaian Bagian Tata Usaha Kanwil Deparetmen Agama Provinsi Sulawesi Tengah, Kepala Kantor Departemen Agama Kota Palu, Kepala Bidang Mapenda pada Kanwil Departemen Agama dan sejumlah jabatan lainnya yang ikut mengantarkan beliau menjadi pejabat eselon dua seperti sekarang.
 
Dibesarkan dalam keluarga yang agamis, menumbuhkan semangat Mohsen kecil untuk menekuni pendidikan di bidang agama Islam. Berawal dari pendidikan dasar Tawaeli Donggala, kemudian berlanjut  ke pondok pesantren Al Khairat di kota Palu, makin mengokohkan tekad Mohsen untuk menguasai ilmu agama. Bagi orang tua Mohsen, ilmu agama adalah segala-galanya, karena dengan menekuni ilmu agama akan sekaligus mendapatkankan kebaikan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, Mohsen tidak setengah-setengah dalam menjalankan amanah orang tuanya. Sejak kecil Mohsen telah belajar bagaimana bisa berperan di masyarakat,  dari masa remaja Mohsen telah mengabdikan diri di pondok pesantren Al Khairat.
 
Setelah menamatkan Sekolah Menengah di MA Al Khairat, Mohsen melanjutkan kuliah S1 di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Makasar. Selesai menamatkan kuliah, Mohsen bekerja sebagai pegawai KUA di kota Palu, tidak lama kemudian Mohsen mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan S2 di bidang Sumber Daya Manusia (SDM) di Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan menamatkan S3nya di Universitas Islam Negeri Alauddin Makasar.
 
Kemandirian dan ketrampilan dalam memimpin organisasi, selain didapatkan Mohsen dari pesantren, juga didapat dari sejumlah pengalaman organisasi kemasyarakatan yang pernah dijabat lelaki yang dikaruniai empat putri dan seorang putra ini. Pengalaman menjadi ketua OSIS semasa sekolah, ikut mengantarkan beliau memangku sejumlah jabatan penting di beberapa organisasi, diantaranya, HMI, KNPI, NU dan MUI.
 
Berbicara pengalaman jabatan, Mohsen mengungkapkan kepada bimasislam salah satu pengalaman jabatan yang ikut memberi warna kepemimpinan Mohsen di Kementerian Agama, yaitu ketika menjabat sebagai Kepala Kanwil Departemen Agama Provinsi Maluku Utara dari tahun 2008-2010. Menjadi Kepala Kanwil di daerah yang baru bagi Mohsen, tidaklah mudah. Butuh strategi tersendiri dalam memimpin, apalagi dengan kendala demografi yang berbeda dengan daerah sebelumnya.
 
Datang ke Maluku Utara dengan niat menunaikan tanggung jawab dengan penuh keikhlasan, mematangkan Mohsen dalam mengelola segala perbedaan yang ada. Masih kuat dalam ingatan Mohsen, perjuangan dengan serba keterbatasan fasilitas.   Diantaranya ketika terjadi pertentangan kuat dari banyak pihak ketika Pemerintah mempunyai kebijakan untuk memindahkan pusat pemerintahan dari Ternate ke Sofifi. Pertentangan untuk memindahkan kantor tidak hanya didapat dari masyarakat, tetapi juga dari pegawai kantor sendiri. Dengan infrastruktur yang terbatas, akhirnya Mohsen mampu meyakinkan para penentang kebijakan tersebut untuk berkantor di Sofifi.
Sarat dengan tantangan dan hambatan yang dihadapinya di Maluku Utara, membuat Mohsen matang dalam merancang strategi kepemimpinan pada jabatan-jabatan selanjutnya. Termasuk ketika menjabat sebagai Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tengah dan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidikan Islam. Semua pengalaman itu mematangkan Mohsen dalam mengambil setiap kebijakan yang berkaitan dengan tugas dan fungsinya sebagai pejabat eselon dua.
 
Terkait jabatannya saat ini, Mohsen berharap dapat membawa pembaharuan dalam lingkungan instutusi KUA, yaitu mengubah paradigma Sumber Daya Manusia (SDM) KUA. “Pembangunan bidang agama merupakan upaya mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, maju, mandiri dan sejahtera lahir batin, dan untuk mewujudkan hal itu saya ingin mendorong pegawai KUA untuk menjadi sosok teladan bagi umat”, ujar Mohsen menutup paparannya.
 
(lady)
 
 
 
 
 

Lihat Tokoh Lainnya