Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
OPINI
Wajah Kesetaraan Gender di Pesantren
  • Wednesday, 13 December 2017 | 16:40
  • Syam
  • opini
Jaja Zarkasyi

Hari ini saya telat mengucapkan ulang tahun. Di wall facebook saya ramai kawan-kawan almuni yang mengucapkan selamat ulang tahun ibunda kami, Hj. Dzarrotul Jannah, pengasuh Ma’had Shighor. Saya sendiri sudah sedikit mengurangi berselancar di dunia maya. Apapun ceritanya, terima kasih FB telah mengingatkan saya akan sosok yang tak bisa dipisahkan dari perjalanan keilmuan saya.
 
Kami biasa memanggilnya Ibu. Beliau adalah nyai, sebutan untuk isteri kyai di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Saya sendiri begitu menikmati bimbingannya saat usia ABG, tepatnya di waktu MTs. Di masa itulah, ibu begitu dekat dengan santri-santri, seperti tak ada jarak. Untuk sekedar menyapa, menanyakan kabar keluarga, atau bahkan cerita-cerita pribadi. Memanggilnya dengan sebutan ”ibu”, kami merasa lebih dekat dan terjalin hubungan yang begitu erat. Bahkan hingga kini.
 
Bagi kalangan santri salaf, sosok nyai, apapun jenis panggilannya,memiliki peran penting dalam perjalanan pesantren. Sosoknya bukan sebatas mengurus dapur dan rumah tangga, namun juga pesantren beserta dapur dan seluruhnya. Ibu-lah sosok yang dahulu begitu pintar memutar keuangan pesantren, padahal pemasukan dari santri sungguh tidak sebanding dengan pengeluaran. Entah bagaimana caranya, beliau tanpa bersuara terus menjalankan dapur pesantren untuk para santri dan keluarganya.
 
Sososk nyai bagi kalangan pesantren salaf bukan sekedar pelengkap. Para nyai adalah tonggak berdirinya sebuah pesantren. Sosoknya begitu jelas berperan dalam membangun fondasi pesantren dan kesehariannya. Karena itulah, sosok nyai biasanya berasal dari sosok-sosok terpilih, teruji mental dan keilmuannya, serta memiliki kecakapan yang baik dalam berkomunikasi.
 
Secara keilmuan, nyai juga tak kalah dari para ustadz atau bahkan suami. Mereka juga ahli dalam kitab-kitab kuning. Hal ini seperti nampak dalam tradisi sorogan di Pesantren Gedongan, Cirebon, dimana ada banyak nyai yang menyelenggarakan pengajian sorogan dari para santri. Dalam hal fikih misalnya, para nyai mengambil peran besar dalam menjelaskan fikih secara detail.
 
Di saat bersamaan, sosok nyai juga melaksanakan fungsi ketauladanan, khususnya di hadapan suami. Meski memiliki pengetahuan yang tinggi dan juga kemampuan mengumpulkan santri, namun beliau tetaplah merendah di hadapan sang suami. Ketundukan itu ditunjukkan dengan pelayanan terbaik kepada sang suami, tunduk dan patuh atas titahnya, serta sopan santun yang begitu agung tak luput ditunjukan. Wujud rasa hormat itu misalnya dapat dijumpai saat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa jawa halus dan juga gestur tubuh yang menunjukkan rasa hormat dimaksud.
 
Sosok nyai bagi keluarga pesantren ibarat referensi sosok isteri terbaik. Bagi santriwati, sosok nyai biasanya menjadi panutan sekaligus contoh dalam berumah tangga. Hubungan yang erat itu pun terus terjalin bahkan hingga lulus. tak mengherankan jika banyak para alumni yang masih saja mencurahkan bebannya pada sosok yang begitu dekat dan dikaguminya itu.
 
Bagi saya, pesantren telah menerapkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, khususnya dalam sosok nyai, jauh sebelum masyarakat zaman now mengkampanyekan kesetaraan gender. Tak ada batasan bagi para nyai untuk berkiprah dalam mengembangkan pesantren, namun pada saat bersamaan teguh menegaskan identitasnya sebagai sosok isteri yang patuh terhadap suami.
 
Wajar jika majunya Pesantren selalu identik dengan sosok ibu nyai  yang visioner dan berkarakter. Karena kehadirannya bukan sebagai sub ordinat para lelaki, akan tetapi mengambil peran lebih besar pada sisi yang tak bisa dilakukan laki-laki. Di sinilah nampak kesamaan visi dengan para suami menjadi penegas ketundukan dan kepatuhan.
 
Pun, sosok itu begitu saya temukan dalam diri beliau. Di usia yang cukup muda, Ibu harus berada di samping Abuya, mengatur pesantren, membimbing santri, bahkan mengelola manajerial keuangan yang tak sehat itu. Di sinilah tidak hanya kecerdasan yang dibutuhkan, akan tetapi juga sikap istiqomah menjalaninya. Kesatuan visi dengan Abuya-lah yang telah menguatkan ibu sebagai sosok ibu dari seluruh anggota pesantren.
 
Selamat ulang tahun ibu. Sehat selalu dan doakan kami istiqomah di jalan-Nya. Amin.