Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Kamis , 19 Oktober 2017 - 29 Muharram 1439 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Tirakatan Tahun Baru Hijriyah

  • Saturday, 23 September 2017 | 06:22
  • Syam
  • opini
Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag
Ketua Prodi S.2 Ilmu Falak UIN Walisongo,
Pengasuh Pesantren Life Skill Daarun Najaah Semarang,
Komisi Seni dan Budaya Islam MUI Prov. Jawa Tengah
 
 
Setiap memasuki tahun baru Islam (bulan Muharam / Suro) sudah menjadi tradisi bagi kaum muslim untuk melakukan do’a yang disebut do’a awal dan akhir tahun. Do’a tersebut dengan harapan untuk revitalisasi kadar keimanan  dan agar dosa-dosa yang pernah dilakukan  selama satu tahun yang lalu dapat lebur dan membuka lembaran tahun baru dengan aktifitas yang lebih baik lagi. Namu bagi muslim Jawa,  momentum tahun baru semacam ini ternyata tidak hanya digunakan untuk  membaca do’a akhir dan awal tahun saja, tapi banyak melakukan tirakatan-tirakatan atau lakon-lakon (merujuk klasifikasi Clifford Geertz bahwa di masyarakat Jawa terklasifikasi menjadi kaum Santri,  Priyayi dan Abangan). Misalnya lakon  ngumbah keris  (perilaku mencuci keris), lakon ngumbah pusaka (mencuci pusaka), lakon ngumbah akik (mencuci batu permata) , lakon topo (bertapa / bersemedi),  lakon kungkum (meredam di dalam air), memulai tirakat poso dalail (puasa satu tahun penuh kecuali hari raya dan hari tasyrik),  lakon membuat rajah (sesuatu yang dianggap mempunyai kekuatan) dan masih banyak lagi lakon-lakon atautirakatan-tirakatan yang lain. Termasuk tradisi membuat Bubur Suro oleh masyarakat jawaatau upacara tobat (Minangkabau : tabuik). Ini semua karena adanya yakin – conviction -   bahwa momentum  bulan  Suro ( sebutan bulan pertama dalam kalender hijriyyah - bulan Muharram - menurut orang Jawa ) dapat mendatangkan berkah , dapat mendatangkan  kasekten / Kadigjayaan  (kekuatan). Sehingga tidak berlebihan manakala banyak orang yang menunggu kehadirannya  terutama oleh mereka pengamal tirakatan atau  lakon-lakon tersebut.  

Oleh karena itu, dengan datangnya tahun baru hijriyyah (1439 Kamariyah ; tahun baru 1951 Jawa),  yang berarti memasuki tahun baru Hijriyyah (disebut bulan Suro menurut orang Jawa), kiranya sangatlah tepat manakala dijadikan sebagai momentum tirakatan bagi bangsa kita dengan melakukan muhasabah kadar keimanan kita.  Dengan intropeksi : sudah baikkah kadar keimanan kita selama ini kepada Allah? Apakah kita masih berbuat dlalim yang dapat mengurangi kadar keimanan kita ?  Mengingat sampai sekarang belum nampak keberkahan hidup yang memberikan keberkahan bangsa.  Karena sebagaimana pesan Allah yang terkait dengan cerita kaum Saba yang semestinya diberi Allah berkah yang banyak, namun karena mereka berpaling ( tidak takwa – yang berarti melakukan kedhaliman ) maka Allah memberikan musibah (surat Saba’ 15-16).  Pesan ini selaras dengan pernyataan Alexis Careel bahwa jika pengabdian kepada Allah disingkirkan dari tengah kehidupan masyarakat, maka hal itu berarti menandatangani kontrak kehancuran sendiri. 

Asal Usul Suro
Suromerupakan nama bulan pertama dalam kalender Jawa yang sekarang berprinsip Asapon  tidak Aboge  lagi. Kalender Jawa tersebut  (yang disebut juga kalender Soko) asal muasalnya  merupakan kalender Jawa Hindu yang berdasarkan pada peredaran matahari (kalender Syamsiyah). Namun sejak 1043 H / 1633 M  ketepatan tahun 1555 tahun Soko, oleh  Sultan Agung  Hanyakrakusuma diassimilasikan  berdasarkan peredaran bulan (menjadi kalender Qomariyah). Selanjutnya menjadi Kalender Jawa Islam. (Baca Alfred A Knopt, h. 282-284). Sehinga muncul impression identifikasi dalam kalender Islam murni ( kalender hijriyyah )

Istilah bulan Suro dalam kalender Jawa (bulan Muharam dalam istilah kalender Hijriyah) kalau dilacak itupun berasal dari istilah Islam. Bahkan berasal dari penggalan sabda nabi  “Asyuro Yaumul Asyir” . Istilah Asyuro adalah hari kesepuluh dari bulan Muharam. Di mana pada tanggal 10 Muharam  tersebut terdapat banyak mitos yang terkait banyak dengan kemukjizatan para nabi. Dalam hadits lain juga disabdakan “Asuro adalah hari raya kemenangan para nabi sebelum kamu semua”.

 Menurut Hasan al-Fayumy dalam  Nazhat al-Majalis, istilah suro  berasal dari kata “ ’Aasa Nurron”  (Hidup Dalam Cahaya Allah).  Inipun berpijak pada banyaknya mitos para nabi yang terjadi pada tanggal 10 Muharram. Sehingga istilah Suro  pada dasarnya  merupakan penamaan yang berpijak pada momentum tanggal 10 Muharaam yang penuh dengan mitos-mitos religius.

Mitos religiusyang muncul  pada tanggal 10 Muharam tersebut menurut al-Shohib al-Jawahir al-Makiyyah,  di antaranya :   peristiwa  pertama kali Allah menciptakan manusia yakni nabi Adam sekaligus memerintahkannya untuk menetap di Surga.  Ada peristiwa penciptaan bumi dan alam seisinya. Ada peristiwa  mendaratnya kapal nabi Nuh di gunung al-Judy setelah peristiwa banjir bandang yang menenggelamkan dunia. Ada peristiwa  penyelamatan nabi Ibrahim oleh Allah  dari kobaran api. Ada peristiwa  penyelamatan nabi Yunus keluar dari perut ikan besar setelah beberpa hari ada di dalamnya. Ada peristiwa penyelamatan nabi Ayub dari penyakit kulit yang sangat parah yang menimpanya semenjak lahir. Ada peristiwa keluarnya nabi Yusuf dari sumur setelah beliau dimasukkan oleh saudara-saudaranya karena iri dengki dengannya.  Ada peristiwa penyembuhan mata nabi Ya’kub. Ada peristiwa pertolongan Allah kepada nabi Musa dengan memiyak  (membongkar) lautan untuk keselamatan nabi Musa dan kaumnya dan menenggelamkan raja Fir’aun  serta pasukannya.

Sehingga tidaklah berlebihan manakala muncul banyak hadits nabi yang menganjurkan untuk menggunakan momentum tersebut untuk berpuasa. Di antaranya hadis  : “ Assuro’u ‘Idu nabiyyin qablakum fa shumuuhu antum”. Ada hadis : “ Barang siapa puasa pada hari Asyuro maka Allah mencatatnya sebagai ibadah haji seribu kali, umroh seribu kali, diberi pahala bagai seribu orang mati syahid, dan masih banyak lagi”. Intinya berisi anjuran untuk berpuasa pada bulan Muharram terutama pada tanggal sepuluh (Asyuro).   

Dari mitos-mitos  inilah kiranya, muncul bulan Muharam yang dikenal dengan bulan Suro  dianggap keramat dan membawaberkah,  sehingga digunakan  untuk  memulai tirakatan  atau lakon-lakon sebagaimana tersebut di atas baik oleh kaum santri maupun kaum muslim Jawa (Kejawen).

Berkah Suro
Merujuk pada banyak mitos suro tersebut, kiranya tidaklah berlebihan manakala di awal tahun baru Hijriyyah (1439 Kamariyah / 1951 Jawa ; sekarang ini) kita jadikan momentum muhasabah dengan melakukan tirakatan-tirakatan untuk mendapatkan berkah suronya.

Apa yang perlu kita muhasabahi atau kita intropeksi?Jika kita merujuk pada pesan cerita kaum Saba yang selaras dengan pernyataan Alexis Carrel, kiranya muhasabah kadar keimanan kita kiranya yang perlu kita dahulukan. Sehingga dengan prinsip “memulailah dari diri kita sendiri” kiranya perlu kita pertanyakan pada diri kita : Sudah tidak dlalimkah kita kepada Allah ? Sudah tidak dlalimkah kita pada diri sendiri ? Sudah tidak dlalimkah kita pada sesama kita ? Sudah tidak dlalimkah kita pada lingkungan sekitar kita ? Mengapa demikian, karena merujuk pada beberapa pengertian kedlaliman dalam Al-Qur’an ternyata memang itulah bentuk-bentuk kedlaliman. Dan kedlaliman itulah yang menghancurkan kebahagian kita sendiri, sebagaimana pesan Allah dalam surat al-Hijr:78-79 bahwa kehancuran penduduk Aikah karena kedlalimanya sendiri. 

Marilah momentum tahun baru Hijriyah ; 1439 Kamariyah / 1951 Jawa ; sekarang ini kita jadikan momentum tirakatan kita untuk meningkatkan kadar keimanan kita yang tidak bias dalam kedlaliman.  Semoga momentum tirakatan Suro 1439 Kamariyah / 1951 Jawa ; sekarang ini dapat benar-benar membawa berkah bagi kita dan bangsa kita. Amin.