Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
OPINI
Santri Gedongan
  • Thursday, 16 November 2017 | 10:50
  • Syam
  • opini
Pesantren Gedongan adalah satu diantara warisan sejarah Islam di Cirebon yang hingga kini eksis menjaga identitasnya sebagai pusat pendidikan Islam. Di sini tersaji aneka ragam kajian ilmu-ilmu agama, berjejer pondok-pondok yang siap memberi pengalaman tak terlupakan bagi para saalik dalam menimba ilmu. Setidaknya, hingga kini Gedongan masih menjaga ciri khasnya.
 
Menikmati Gedongan itu tak mudah. Butuh pengorbanan. Bagaimana bisa? Saya mendapati itu dari pengalaman seorang sahabat yang pernah saya ajak bersilaturahim dan menjelajah sudut-sudut Pesantren Gedongan dengan aneka ragam tradisinya. Selalu saja ada “ketidaksetujuan” yang jika dibiarkan, dapat memunculkan sikap menyalahkan.
 
Pada hari itu tepat hari Jum’at. Saatnya para santri menikmati liburan. Layaknya pesantren salaf di kebanyakan daerah, para santri menikmati liburan dengan berbagai aktifitas yang beragam: berolah raga, saling mengunjungi, atau sekedar bersantai di pematangsawah untuk nakrir hafalan al-Qur’an atau imrity-nya. Bukan sesuatu yang aneh jika di sepanjang jalan nampak hilir mudik para santri.
 
Menjelang kumandang adzan jumat, saya mengajaknya menuju masjid Desa yang letaknya tepat di tengah-tengah pemukiman masyarakat. Tumpah ruah masyarakat dan para santri tak terelakan. Sahabat saya terus memperhatikan bagaimana mereka mengambil air wudlu dari bak besar yang menampung air cukup melimpah. Tidak seperti di pesantren lain yang pernah dikunjungi, tak ada kran air yang biasa digunakan untuk masing-masing orang. Setidaknya tak ada kontak langsung dengan sumber air. Dari situ saya mulai menangkap aroma “ketidaknyamanan” melihat tradisi Gedongan.
 
Selepas menunaikan ibadah jum’at, saya mengajaknya menuju pemakaman. Kami biasa menyebutnya maqbaroh. Bersama para santri yang lain, kami beriringan sambil berbincang. Tentang apa? Banyak dan beragam tentunya. Sudah menjadi kebiasaan bagi para santri untuk berziarah ke makam Mbah Sa’id, sang pendiri Gedongan, untuk membaca yasin dan tahlil.
 
Bukankah itu bid’ah?
 
Sepertinya semakin nampak ketidaknyamanan itu. Bukan hanya gestur, sahabat saya ini bahkan mengucapkannya. Bukankah tidak boleh meminta-minta kepada mereka yang sudah meninggal? Bukankah itu sangat mungkin jatuh pada perbuatan syirik? Beberapa santri sempat meneteskan air mata, ada pula yang seperti mabuk di sela membaca lafadz-lafadz tahlil. Mungkin dia begitu menikmatinya.
 
Itu hanya segelintir kisah. Tentang mereka yang tak begitu bisa menikmati suasana Gedongan. Sepertinya ada yang terusik, mencoba memprotes dan menjauhkannya dari suasana Gedongan yang riuh oleh suara sahut menyahut para santri yang asyik bernada ria melalui bait-bait alfiah, imrity maupun kitab lainnya.
 
Seperti saya bilang di atas, butuh waktu dan pengorbanan untuk bisa menikmati spiritualitas Gedongan. Setidaknya untuk bisa menikmatinya, seseorang perlu masuk lebih jauh dan memulai untuk memahami.
 
Gedongan mengajarkan saya satu fase dalam hidup: tawadhu’. Inilah tarbiyah. Begitu cara para kyai mengajarkan tentang satu sisi dalam kehidupan yang tak kalah pentingnya dari rasionalitas. Seperti halnya rasionalitas sangat penting bagi manusia dalam memilih jalan kebenaran, tawadhu’ juga berperan besar dalam menghadirkan spirit untuk setiap langkah kaki dan rencana yang tak selamanya itu dapat berjalan lancar atau sesuai harapan.
 
Tentu sangat bodoh menuduh para kyai mengajarkan kemusyrikan. Apalagi mengelompokkannya sebagai gerakan bid’ah. Bukankah mereka mengaji Islam melalui kitab-kitab yang juga dikaji oleh para leluhur? Rasanya terlalu amat bahaya menuduhnya sebagai perbuatan syirik.
 
Dalam mitologi Gedongan, ziarah kubur adalah tersambungnya spiritualitas antara yang telah wafat dan generasi sesudahnya. Spiritualitas tak boleh terputus, meski sang kyai atau tokoh tersebut telah terkubur di bawah tanah sana. Kesalehan, kesahajaan dan ruh jihad harus senantiasa dijaga dan dikuatkan. Generasi yang berbeda zaman, tantangan dan warna budaya dipertemukan dalam satu spirit yang sama: menjadi muslim yang unggul.
 
Membaca yasin, tahlil dan berdoa di makam seorang tokoh tentunya bukan berarti meminta agar sang tokoh memberi keberkahan, keselamatan apalagi rizki. Bukan tujuan duniawi dan materi. Karena semua itu urusan manusia dengan Allah. Melampaui semua itu, berziarah adalah momentum untuk mengenal dan meneladani spirit, attitude dan kabaikansang pemiliki kuburan. Merasakan kehadiran berbagai kebaikan dan semangatnya, itulah makna yang saya rasakan saat berziarah. Tidak lebih.
 
Berziarah itu ibarat perjumpaan yang tak kasat mata. Ada banyak perjumpaan yang mungkin terjadi saat kita membaca tahlil dan doa di makam seorang tokoh besar. Ibarat seorang pemuda yang begitu lirih memanggil nama sang kekasih, meski terpisah secara fisik, tentunya ia merasakan kehadirannya dan karena itulah ia merasakan kebahagiaan dan semangat baru.
 
Sebagai santri yang pernah menimba ilmu dan pengalaman, tentunya akan sangat merindukan semangat itu kembali menanjak tinggi di tengah segudang cita-cita dan aktifitas yang tak jarang memekakan telinga. Kesibukan dan seabreg aktfitas sering membuat saya lelah, jenuh atau bahkan stress. Maka kembali ke masa lalu, menikmati suasana alam yang sejuk, ibarat obat mujarab yang dapat membangkitkan semangat on fire lagi. Bukankah kita sering memilih berlibur di tengah kesibukan?.
 
Selalu ada alasan untuk merindumu, di Gedongan.
 
** Jaja Zarkasyi