Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Kamis , 29 Juni 2017 - 4 Syawal 1438 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Raja Salman, Liga Muslim Dunia, dan Toleransi Beragama

  • Wednesday, 08 March 2017 | 15:09
  • sigit
  • opini
Oleh: Hamdun*


“The Third Resolution on Phenomenon of Covering Truth with False in Indonesia and Elsewhere”.

Kalimat tersebut adalah judul resolusi ke-3 dari Enam resolusi yang dihasilkan Persidangan ke-6 Dewan Fiqih Islam, Liga Muslim Dunia (Muslim World League / Rabithah Alam Islami) yang dilaksanakan pada 9-16 Rabiul Akhir 1403 / 23-30 Januari 1983 di Makkah. Liga Muslim Dunia adalah organisasi Islam Internasional yang didirikan pada 14 Dzulhijjah 1381 / 18 Mei 1962 di Makkah. Kerajaan Arab Saudi sendiri merupakan anggota terdepan dan donatur utama Liga Muslim Dunia yang didirikan dengan tujuan untuk membantu dan menyelesaikan masalah-masalah yang dialami umat Islam.
 
Yang menarik dari judul resolusi di atas adalah penyebutan spesifik nama Indonesia dalam kaitannya dengan fenomena menghadiri festival dan upacara agama lain yang disebut prilaku menutupi kebenaran dengan kepalsuan. Dewan memutuskan bahwa partisipasi Muslim dalam festival-festival dan upacara-upacara yang tidak Islami adalah dilarang dan terlarang dalam syariat Islam. Oleh karena itu tidak diperbolehkan bagi Muslim untuk menghadiri festival-festival tersebut, memberikan hadiah-hadiah dalam penyelenggaraan acara agama lain, mengunjungi tempat-tempat mereka atau mengikuti kebiasaan mereka karena ada suatu hal yang bertentangan dengan syariat Islam.
 
Diantara ulama yang mengeluarkan fatwa adalah Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Baz, Mustafa Ahmad al-Zarqa, Saleh Ibn Othaimeen dan lain-lain. Mencermati fatwa tersebut apabila dikaitkan dengan kunjungan dan agenda Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud bersama 1.500 anggota rombongannya di Indonesia (1-9 Maret) tentu akan menjadi topik diskusi menarik bagi masyarakat Indonesia, bagi Arab Saudi, dan bagi negara-negara Liga Muslim Dunia sendiri yang mayoritas adalah negara-negara Timur Tengah. Seperti diketahui diantara agenda Raja Salman di Indonesia adalah adanya pertemuan dengan para tokoh lintas agama dan kunjungan liburannya ke Bali.
 
Bagi masyarakat Indonesia aktifitas Raja Salman tersebut dapat menjadi renungan berbagai pihak. Pertama dari sudut pandang muslim Indonesia yang notabene terdiri dari berbagai “corak”, seperti muslim radikal, fundamental, liberal, dan muslim namun anti Arab. Bagi muslim radikal dan fundamental, agenda Raja Salman yang bersedia bertemu dengan tokoh lintas agama dan berlibur ke Bali bisa saja menjadi pukulan telak di mindset-nya, karena selama ini berfikir kaku mengenai Arab sentris sehingga mudah “mengkafirkan” pihak lain. Sedangkan bagi muslim namun anti Arab, fenomena Raja Salman ini bisa menjadi obat pelipur lara karena selama ini ia geram mengapa Islam harus selalu Arab sentris. Kedua bagi masyarakat non muslim Indonesia, peristiwa ini bisa menjadi momen penting bersejarah karena ternyata Raja Saudi Arabia yang menjadi qiblatnya umat muslim bisa bersikap ramah dan toleran.
 
Bagi Raja Salman dan umumnya masyarakat Saudi Arabia, agenda-agenda Raja Salman di Indonesia akan membuka pemahaman baru. Pemahaman tersebut adalah bahwa ternyata ada model atau opsi lain dalam usaha mempertahankan kestabilan suatu bangsa melalui budaya toleransi beragama dan perlindungan resmi negara terhadap perbdedaan agama. Bagi masyarakat Saudi agenda Raja Salman bertemu dengan tokoh lintas agama merupakan satu peristiwa “spesial”. Sehingga tidak heran apabila kemudian menjadi headline media-media Arab Saudi (news.detik.com, 05/03),  seperti koran Okaz dengan headline, "Raja Salman ke Jakarta Meninjau Berbagai Agama yang Terlindungi dan Bersatu. Khadim al-Haramain: Indonesia Negara yang Berkembang dan Memuliakan Umat dari Berbagai Macam Agama". ar-Riyadh menulis, "Khadim al-Haramain Bertemu Presiden Indonesia dan Tokoh Muslim di Sana. Raja: Agama di Indonesia Berjalan Sesuai Keinginan Pengikutnya". al-Watan menulis headline, "Khadim al-Haramain Menghormati Berbagai Macam Agama di Negara Muslim Terbesar". Dan Saudi Gazette menulis headline, "Action, Dialogue Key to Strenghten Tolerance - King".
Bagi Liga Muslim Dunia, toleransi terhadap berbagai perbedaan yang membuahkan stabilitas keamanan dan politik seperti dicontohkan Indonesia dapat dijadikan sebagai model pemahaman negara-negara Arab yang saat ini masih terdampak Arab Spring (2011). Dampak tersebut terlihat nyata dengan terjadinya perang sipil seperti di Suriah dan Yaman, instabilitas kawasan karena peperangan para jihadis, dan stagnasi ekonomi kawasan. Dalam masalah kemanusiaan krisis dunia Arab telah mengakibatkan ratusan ribu jiwa tewas dan jutaan orang terluka. Sementara mereka yang masih hidup harus kehilangan pencahariannya dan ribuan angkatan kerja terpaksa mencari uang dari perang dan menjarah. Di dunia pendidikan, jutaan anak tidak  bisa menikmati kehidupan sekolah, sementara ibu-ibu mereka harus menghadapi kerasnya hidup menjanda. Jutaan pengungsi dari dunia Arab menyebar ke seluruh penjuru dunia, jumlah yang menurut UNHCR terbesar setelah Perang Dunia ke II. Hal ini belum lagi ditambah dengan kontes proxy sengit antara Arab Saudi, Iran, danTurki dalam perebuatan hegemoni di Dunia Arab yang tidak tahu kapan akan berahir.
 
Indonesia adalah satu fakta negara unik di Dunia yang bisa di jadikan model bernegara dan berbangsa oleh negara-negara yang sedang mencari jati diri bangsa. Apabila negara-negara Liga Muslim mengatakan bahawa masalah yang mereka hadapi lebih rumit dari masalah bangsa Indonesia tentu argumen ini akan gugur dengan sendirinya. Hal ini didasarkan beberapa sebab, misalnya menurut Pew Research Center (2012), penduduk muslim di Indonesia adalah 209,120,000 merupakan rumah bagi 13% penduduk muslim di dunia (1,6 miliar).
 
Jumlah Muslim Indonesia tersebut setara dengan seluruh umat muslim yang tinggal di Empat Negara (Mesir, Aljazair, Maroko, Irak) berpenduduk muslim terbanyak diantara anggota negara Liga Muslim. Dengan jumlah muslim mayoritas di Dunia tentu Indonesia mempunyai banyak masalah, termasuk masalah sengketa Sunni-Syiah yang menjadi problem klasik negara-negara Timur Tengah. Kemudian berbicara masalah perbedaan tentu saja Indonesia adalah rumah bagi perbedaan seperti perbedaan agama, suku, ras, dan bahasa. Mujurnya Indonesia dapat mengatasi masalah-masalah tersebut bermodalkan semangat toleransi.
 
Kembali pada masalah keputusan Dewan Fiqih Islam, Liga Muslim Dunia tentang prilaku menutupi kebenaran dengan kebohongan di atas apabila dikaitkan dengan agenda-agenda Raja Salman di Indonesia, musibah yang menimpa negara-negara anggota Liga Muslim, dan makna toleransi bagi umat Islam Indonesia tentu ada banyak hikmah yang bisa diambil. Secara parsial dapat dimelihat ada anomali antara keputusan persidangan yang telah dikeluarkan 30 tahun lalu itu dengan fakta kehidupan beragama di Indonesia saat ini dibanding  dengan fakta kehidupan negara-negara Liga Muslim pada umumnya. Meski demikian bangsa Indonesia yang ramah dan toleran semestinya tidak gampang berprasangka buruk pada suatu hal, termasuk pada hasil resolusi di atas. Suatu peritiwa terjadi pasti karena ada alasan dan suatu peristiwa terjadi pasti untuk suatu alasan. Ke depan dengan semangat mempertahankan toleransi “ala Indonesia” semoga bisa menjadi lantaran bangsa Indonesia tetap bertahan, damai dan aman menikmati ibadah tanpa was-was karena perang.
 
Johor Baru, Malaysia, Senin, 7 Jumadil Akhir 1438 / 06 Maret 2017

*JFU pada Bidang Urais dan Binsyar Kanwil Kemenag Prov. Lampung, saat ini tengah melaksanakan tugas belajar pada Program Ph.D bidang Fiqh Science and Technology, Universiti Teknologi Malaysia