Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
OPINI
Nisfu Syakban
  • Friday, 12 May 2017 | 07:35
  • sigit
  • opini
Oleh: Faruq Hamdi

Bulan Sya’ban merupakan bulan yang di dalamnya terdapat berbagai peristiwa bersejarah, yakni peristiwa berpindahnya arah kiblat dari Masjidil Aqsha Palestina menuju Ka’bah, peristiwa diturunkannya QS. al-Baqarah: 144, diturunkannya ayat yang menganjurkan untuk membaca shalawat (QS. al-Ahzab: 56), diangkatnya amal-amal manusia menuju kehadirat Allah SWT dan berbagai peristiwa lainnya.
 
Menilisik dari segi linguistik, al-Imam ‘Abdurra?m?n al-Shafury dalam literatur kitab momumentalnya "Nuzhat al-Majalis wa Muntakhab al-Nafa’is" mengatakan bahwa kata Sya’ban merupakan singkatan dari huruf shin yang berarti kemuliaan. Huruf ‘ain yang berarti derajat dan kedudukan yang tinggi yang terhormat, Huruf ba’ yang berarti kebaikan. Huruf alif yang berarti kasih sayang. Huruf nun yang berarti cahaya.
 
Bila ditinjau dari segi amaliyah Islamya, termaktub beberapa hal yang lazim dilaksanakan pada malam Nisfu Sya’ban, yakni membaca Surat Yasin sebanyak 3 x yang dilanjutkan dengan berdoa. Tradisi demikian selain sudah berkembang di nusantara ini juga menjadi amaliyah tahunan yang dilaksanakan secara rutin terutama oleh masyarakat NU. Rasulullah Saw berstatemen dalam sebuah hadits sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Dailami, Imam ‘Asakir dan al-Baihaqy
 
 “Ada 5 malam dimana doa tidak tertolak pada malam-malam tersebut, yaitu: malam pertama bulan Rajab, malam Nisfu Sya’ban, malam jumat, malam Idul Fitri dan malam Idul Adha.”
 
  “Siapa saja yang menghidupkan dua malam hari raya dan malam Nisfu Sya’ban, niscaya tidaklah akan mati hatinya pada hari dimana pada hari itu semua hati menjadi mati”.
 
“Sungguh telah dikumpulkan doa ma’tsur yang terkait khusus dengan malam Nisfu Sya’ban. Doa tersebut dibaca oleh para muslimin pada malam yang diberikan anugerah secara sendiri-sendiri dan beramai ramai. Seorang dari mereka mentalqin doa tersebut & jamaah mengikutinya atau ada juga salah seorang yang berdoa dan jamaahnya meng-aminkan saja sebagaimana ma'lumnya. Tata cara pertama adalah: Membaca Surat Yasin dibaca 3 x pasca shalat maghrib diawali dengan berdoa.
 
Berdasarkan informasi tersebut tentu bisa mengindikasikan bahwa melaksanakan ibadah pada malam Nisfu Sya’ban merupakan suatu anjuran dari syariat Rasulullah Saw. Oleh karena itu, siapapun yang tidak sepakat dengan amaliyah untuk menghidupkan malam Nisfu Sya’ban, tentu tidak sepatutnya memberikan kecaman yang tidak berdasar, karena sikap demikian selain dapat menganggu kerukunan antar masyarakat juga dapat mengganggu pelaksanaan ibadah bagi orang yang bersedia mengerjakanya.
 
Upaya menata stabilitas hati dan pikiran merupakan sikap yang sangat bijak untuk dapat diimplementasikan, bahkan berprinsip pada; “pendapatku mengandung kebenaran dan bisa berpeluang juga dalam kesalahan” merupakan suatu keniscayaan untuk memelihara persaudaraan antar sesama muslim. Di sisi lain penting untuk diperhatikan juga bahwa amaliah menghidupkan malam Nisfu Sya’ban merupakan persoalan furu’iyyah yang tetap membuka ruang perbedaan tapi tetap dalam semangat yang saling toleran. Pelaksanaaan amaliyah ini berfungsi untuk mempertebal keimanan hamba terhadap Tuhannya.
 
Oleh karena itu, tidak sepatutnya untuk diarahkan pada dimensi sakralitas hukum. Sakralitas hukum terhadap persoalan keimanan juga bisa berimplikasi pada munculnya gesekan-gesekan. Selama semua amaliyah memiliki dasar dan pijakan ilmu pengetahuan tentu tidak perlu untuk dipertentangkan. Perbedaan merupakan suatu keniscayaan (sunnatullah), tapi menyikapi perselisihan dengan hal yang tidak bijak tentu semakin menjauhkan umat Islam dari nilai-nilai luhur ke-Islaman-nya.
 
Islam adalah agama yang fleksibel terkait perkara prinsip dasar (usuliyyah) bergerak secara eksklusif, sedangkan terkait perkara cabang (furu’iyyah) bergerak secara inklusif. Urusan-urusan yang termasuk unity of diversity (al-ijtima’ fi al-ikhtilaf) merupakan bentuk keluasan dari ajaran Islam itu sendiri. Wallahu a'lam
 
*Penulis adalah Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PWNU DKI Jakarta & Staf Komisi Dakwah MUI Pusat