Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Selasa , 22 Agustus 2017 - 30 Zulkaedah 1438 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Dakwah Provokatif

  • Friday, 30 December 2016 | 11:26
  • thobib al-asyhar
  • opini
Jamil Wahab
 
Ketika terjadi insiden Tanjung Priok 1984, banyak korban dan masyarakat yg terkena peluru aparat keamanan. Guru saya KH. Fuad Hasyim (alm) dari Buntet Pesantren Cirebon, dlm salah satu ceramahnya mengkritik insiden terjadi karena banyaknya mubaligh di Jakarta yang seolah jadi “kompor”.
 
Sebelum peristiwa terjadi, di Jakarta banyak Mubaligh menyampaikan cermah-ceramah keras yang anti pemerintah. Suasana menjadi bertambah tegang, hingga meletus peristiwa berdarah itu.
 
Beliau menyebut sebuah ayat dalam al-Quran yang menyatakan: "Maka bicaralah kamu berdua kepada (fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut." (QS Thaha : 44).
 
Beliau menambahkan penjelasan, apakah para mubalig itu lebih hebat dari Nabi Musa dan Nabi Harun? dan apakah penguasa yang dihadapi saat itu lebih dzalim dari Firaun?, dalam ayat al-Quran diatas, kepada Firaun saja dakwah agar disampaikan dengan kelembutan, apalagi kepada yang lain.
 
Menurut al-Maraghi (1943: 156) Ayat ini berbicara dalam konteks pembicaraan nabi Musa As. ketika menghadap Fir’aun. Allah mengajarkan kepadanya agar berkata lemah lembut dengan harapan Firaun tertarik dan tersentuh hatinya sehingga dia dapat menerima dakwahnya dengan baik.
 
Berdakwah sebaiknya dengan mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul. Mari berdakwah dengan menggunakan berbagai media dengan cara santun dan tidak provokatif, termasuk dakwah di medsos.
 
Jamil Wahab, Peneliti Balitbang Kemenag