Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Jum'at , 20 Oktober 2017 - 30 Muharram 1439 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Tangkal Radikalisme Jangan Hanya Tutupi Lubang Tikus

  • Thursday, 29 October 2015 | 11:01
  • berita
 
Semarang, Bimasislam— Wakil Ketua Rais Syuriah Nahdahtul Ulama Provinsi Jawa Tengah, Fadholan Musyaffa mengatakan bahwa penangkalan atau penanggulangan radikalisme berbasis agama tidak boleh hanya hanya menutupi lubang tikus. Ilustrasi itu disampaikan penulis produktif tersebut di hadapan 200 peserta Sarasehan Penanggulangan Radikalisme Berbasis Agama di Hotel Crown Plaza, Semarang, Jawa Tengah, Senin (26/10).
 
Pria yang menamatkan pendidikan tinggi di Universitas Al-Azhar, Mesir dan universitas Al Neelain, Sudan itu mengatakan, penanggulangan radikalisme tidak boleh hanya sebagai reaksi atas setiap kasus tapi mengabaikan penyebab utamanya.
“(menanggulangi radikalisme berbasis agama) jangan seperti menutupi lubang tikus, sibuk m enutupi lubang di sana lalu di sini tapi penyebab utamanya dibiarkan. Kita jadi sibuk oleh pekerjaan di hilir. Makanan-makanan tikusnya ini harus juga ditangani”, Ujarnya.
 
Pria kelahiran Grobogan, 7 April 1970 ini mengaku sudah berpuluh-puluh kali menjadi pembicara dalam seminar deradikalisasi bersama dengan Kemeterian Agama, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dan Forum Komunikasi Penangguolangan Terorisme (FKPT), namun radikalisme masih saja terjadi di Indonesia. Terkait hal itu, Fadholan mengatakan penanggulangan radikalisme berbasis agama harus dilakukan secara holistic dengan melibatkan semua pihak yang terkait.
Dalam kesempatan tersebut, Fadholan juga mengeritik sikap keberagamaan sebagian mahasiswa yang mendalami agama di luar negeri namun melupakan akar tradisional yang menjadi karakter khas Indonesia.
 
“Saat ini tak sedikit orang belajar ke Saudi, saat pulang lebih Arab daripada Saudi. Pun yang belajar ke Amerika, saat pulang lebih ‘amriki’ daripada orang Amerika. Harusnya Islam Nusantara itu belajar boleh di Amerika, boleh di Timur Tengah, tapi balik ke Indonesia kembali berbatik dan pakai kopiah hitam, dalam arti tidak lupa kepada akar’” Paparnya.
 
Menurut Fadholan, hal tersebut menjadi penting, sebab karakter Islam di Nusantara yang ramah merupakan alternatif dalam membangun peradaban modern yang tetap mengedepankan agama. “Terlalu Barat atau terlalu Timur, tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia.” Ujarnya. (sigit/bimasislam)

Berita Lainnya

M. Jasin: Penyuluh Dilarang Terima Gratifikasi dari Masyarakat
Menag: Penghulu Harus Mampu Uji Ulang Khazanah Klasik dengan Isu-isu Kekinian
Masdar F. Mas'udi: Jangan Jadikan Olok-olok Sebagai Cara Dakwah!
Sedang Direnovasi, Warga Berharap Al-Mukminun Masuk Tiga Besar Masjid Teladan Nasional