Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Ahad , 30 April 2017 - 3 Syaaban 1438 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Sri Mulyani: Pelaksanaan Reformasi Birokrasi Tanpa Jiwa Tidak Akan Berhasil

  • Wednesday, 12 April 2017 | 20:58
  • sigit
  • berita
Jakarta, bimasislam—“Reformasi Birokrasi yang kita lakukan tidak akan berhasil jika dilakukan tanpa jiwa. Kalau hanya melaksanakan step-step yang telah dirumuskan, seperti melakukan assesmen, pembuatan SOP, pembuatan laporan, dan semacamnya tanpa dibarengi dengan spirit bagi para pelaksananya maka akan berjalan tanpa hasil, bahkan sia-sia. Karena RB banyak tantangannya, khususnya kesiapan aspek internal yang belum sepenuhnya menerima”. Demikian dikatan Sri Mulyani, Menteri Keuangan, saat memberikan paparan singkat di acara Rakornas tentang Reformasi Birokrasi Kementian Agama Tahun 2017, di hotel Sultan, Jakarta (11/4).
 
Leboh lanjut mantan Pejabat Bank Dunia ini menguraikan bahwa agar Reformasi Birokrasi berhasil, setidaknya ada beberapa langkah yang harus dipastikan, yaitu: komitmen, adanya dedicated team, quick wins, pelibatan terhadap stake-holder, adanya alat ukur outcome, perubahan kultur, dan konsisten.
 
“Reformasi akan berhasil jika ada komitmen semua pihak. Komitmen menjadi penting karena akan mengakselerasi semua perubahan. Apalagi di Kementerian Agama yang memiliki Satker terbesar dan tersebar di seluruh pelosok nusantara. Juga perlu ada dedicated team, yaitu tim yang secara khusus mengawal. Kalau di Kemenkeu itu saya berdayakan para staf ahli menteri” ujarnya.
 
Selain itu, katanya, “karena RB itu besifat abstrak maka harus ada Quick Wins, suatu rumusan yang menjadi dasar melakukan langkah-langkah strategis. Hal yang juga pokok adalah perlunya pelibatan stake holder untuk kita mintai pendapat, bagaimana kebijakan yang diambil, termasuk pelayanan yang kita berikan, dan lain sebagainya”, imbuhnya.
 
Juga “adanya suatu mekanisme pengukuran outcome atas apa yang kita lakukan. Jadi seluruh tugas dan fungsi yang kita lakukan harus diukur seberapa jauh memberi manfaat kepada masyarakat. Kemudian perlunya ada perubahan kultur pegawai, meskipun merubah ini bukan hal yang mudah namun harus dilakukan karena menjadi faktor penting dalam RB. Yang tidak akalah pentingnya adalah konsistensi atas apa yang kita lakukan. Tanpa konsistensi, antara format struktur, penempatan SDM dan kemauan kebijakan akan sia-sia RB yang kita lakukan”, tuturnya.
 
Rapar Koordinasi Reformasi Birokrasi Kementerian Agama yang menambil tema Mari Akselerasi Reformasi Birokrasi diikuti oleh seluruh Kepala Kanwil Kemenag dan Kabagset, serta  Rektor PKTIN di Indonesia. Kegiatan tersebut juga menghadirkan Menteri PAN RB, Asman Abnur, yang juga memberikan materinya tentang RB di Kemenag. Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan pengukuhan Agent of Chage Kementerian Agama yang diwakili setiap unit eselon I masing-masing 1 orang.
 
(thobib/bimasislam)
 

Berita Lainnya

Kakanwil Bali: Kesuksesan STQ Cerminan Menyamu Braye Masyarakat
Halal Bi Halal, Menag Ingatkan ASN Pegang Teguh 5 Budaya Kerja
Wamen Fasilitasi Pertemuan Tokoh-tokoh Lintas Agama
Euis Sri Mulyani: Tradisi Penulisan Naskah Keagamaan Perlu Terus Dilestarikan