Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
BERITA
Sesditjen: Radikalisme Lahir Akibat Keliru Pahami Agama
  • Thursday, 29 October 2015 | 10:57
  • berita
Semarang, BimasislamSekretaris Ditjen Bimas Islam, Muhammadiyah Amin mengatakan radikalisme berbasis agama yang akhir-akhir ini menjadi fenomena di tengah masyarakat merupakan akibat dari pemahaman yang keliru terhadap agama.
 
Dikatakan Amin, agama yang seharusnya menjadi panduan hidup yang ramah justru ditafsirkan sebagai faktor timbulnya kekerasan dan tero. Padahal, sambungnya, pemicu ketegangan terkadang hanya disebabkan perbedaan pandangan yang sebetulnya jamak terjadi di antara pemeluk agama.
 
Hal tersebut disampaikan mantan rektor IAIN Gorontalo itu saat menyampaikan sambutan pada Sarasehan Penanggulangan Radikalisme Berbasis Agama di Hotel Crown Plaza, Semarang, Jawa Tengah, Senin (26/10).
 
Di  hadapan 200 peserta sarasehan, Guru Besar UIN Alauddin Makassar itu mengatakan model keberagamaan yang keliru tersebut kemudian diaktualisasikan melalui sikap intoleran terhadap kelompok berbeda, mudah mengkafirkan orang lain di luar kelompoknya, serta tidak mampu berdialog dengan keragaman.
 
Amin menambahkan, arus radikalisme berbasis agama ini sebetulnya sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah umat Islam secara keseluruhan. Akan tetapi jika dibiarkan, atau tidak ditanggulangi secara serius, maka arus yang kecil ini secara perlahan tapi pasti akan menjadi gelombang yang mengancam kerukunan dan keutuhan nasional.
 
Terkait dengan hal tersebut, dikatakan Amin, maka pemerintah hadir dalam memberikan bimbingan guna mewujudkan sikap keberagamaan yang ramah dan toleran, serta mengajak kepada seluruh elemen bangsa, terutama para tokoh agama dan aparat keamanan, agar gerakan radikalisme berbasis agama ini tidak terus tumbuh dan membesar.
 
“Jika fenomena ini dibiarkan dan tidak ada upaya untuk mencegah atau menangani secara holistik dan sinergis antar lembaga terkait, bukan tidak mungkin gerakan ini akan membesar dan menjadi bom waktu yang dapat meledak, menghancurkan tatanan sosial dan kerukunan NKRI,” pungkasnya. (sigit/bimasislam)