Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Kamis , 29 Juni 2017 - 4 Syawal 1438 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Selamat Jalan, Mbah Hasyim

  • Thursday, 16 March 2017 | 22:05
  • sigit
  • berita
Depok, Bimasislam—Bangsa Indonesia kembali kehilangan tokoh terbaiknya, sang Guru Bangsa KH Hasyim Muzadi. Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) yang juga merupakan anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu telah berpulang pada Kamis pagi (16/3) pukul 06.00 WIB.
 
Sebelumnya, Kyai Hasyim telah menjalani perawatan secara intensif di RS Lavalette, Malang, Jawa Timur. Selang tiga hari dirawat, kondisi Kyai Hasyim sempat membaik dan disarankan untuk beristirahat secara total. Namun pada akhirnya Tuhan berkehendak memanggilnya.
 
Sejumlah tokoh nasional sempat menjenguk kyai Hasyim saat terbaring sakit, tak terkecuali Presiden Joko Widodo yang sempat menjenguk tepat satu hari sebelum Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS) itu wafat. Saat itu, Presiden mendoakan agar Kyai Hasyim segera diberikan kesembuhan.
 
Selama hidupnya, Pimpinan Pondok Pesantren al-Hikam itu dikenal sebagai tokoh Islam moderat yang nasionalis. Petuah dan nasihat-nasihatnya dikenal sangat berbekas di telinga umat, tak hanya di kalangan Nahdhatul Ulama, tetapi juga seluruh bangsa Indonesia. Kyai Hasyim bahkan mendapat tempat tersendiri yang khas di berbagai organisasi massa Islam di tanah air. Hal itu karena kepedulian dan cinta tulusnya yang mendalam kepada NKRI.
 
Kepedulian Kyai Hasyim terhadap bangsa Indonesia tidak lekang sampai menghembuskan nafas terakhirnya. Di masa sakitnya, kyai kelahiran Tuban 8 Agustus 1944 itu bahkan masih sempat berpesan agar perseteruan terkait siapa aktor dibalik aksi 4 November 2016 diakhiri agar tidak menlahirkan konflik yang berkepanjangan antar sesama anak bangsa.
 
Sepanjang hidupnya, Kyai Hasyim besar dan tumbuh di lingkungan Nahdhatul Ulama (NU). Ia memimpin ormas terbesar di Indonesia itu mulai dari tangga paling bawah di tingkat ranting, kemudian secara perlahan naik menjadi ketua MWC NU, Ketua PCNU, PWNU, hingga menjadi ketua Umum PBNU menggantikan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
 
Di kalangan warga NU, Kyai Hasyim dikenal dengan ceramahnya yang jenaka namun kaya akan nilai-nilai kebijaksanaan. Prinsip kebijaksanaan itulah yang menyebabkannya memberi nama Al-Hikam pada institusi pesantren yang dipimpinya, yang bermakna ‘Hikmah-kebijaksanaan’. Ia mampu menyampaikan pesan Islam secara bijak dan sederhana kepada masyarakat bawah, masyarakat menengah, hingga kalangan istana.
 
Yang diingat oleh umat terhadap kyai Hasyim, adalah penggunaan kata yang seperti sudah menjadi trade mark-nya, yaitu kalimat-kalimat yang seringkali dibolak-balik. Seperti “kita harus bisa membedakan mana pengurus dan mana yang menjadi urusan,” “Mungkin dia salah paham, atau jangan-jangan pahamnya yang salah.” dan sebagainya.
 
Soal kerendahan hati, Kyai Hasyim dikenal dengan sikap rendah hati dan tak sombong atas keluasan ilmu yan dimilikinya. Dalam satu kesempatan, ia pernah diminta berceramah di Kementerian Perumahan Rakyat. Namun setelah tiba di lokasi, ternyata ia justru duduk di barisan hadirin sehingga panitia pun bahkan tak mengetahui kedatangannya. Yang memohon beliau maju ke panggung justru penceramah pertama yang kebetuan melihat Kyai Hasyim tengah asyik mendegarkan taushiyah.
 
Begitulah Kyai Hasyim, meski memiliki puluhan ribu santri dan jutaan umat, tetap rendah hati dan tak membedakan posisi dirinya sebagai ulama besar dengan rakyat biasa yang menjadi peserta tabligh akbar.
 
Selamat Jalan, Mbah Hasyim…  


(Sigit-afief/bimasislam)

Berita Lainnya

Proyek Berbasis SBSN, Tantangan Berat Kanwil Jawa Tengah
Terima Kasih Prof. Djamil dan Selamat Bertugas di Tempat yang Baru
Bimas Islam Gelar Sosialisasi UU JPH di Lingkungan Kementerian Agama
Prof Sukoso: Halal Tidak Sekedar Urusan Sertifikat