Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Selasa , 23 Mei 2017 - 26 Syaaban 1438 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Pesan Kerukunan Lewat Peringatan Isra Mikraj di Belu

  • Tuesday, 09 May 2017 | 09:03
  • sigit
  • berita
Belu, bimasislam -- Meskim inoritas, masyarakat muslim di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dapat melaksanakan kegiatan keagamaan dengan khidmat dan penuh kemeriahan. Seperti terlihat pada peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1438 H di Masjid Agung Hidayatullah, di kecamatan Atambua Barat Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Kamis (4/5). Hal ini menandakan bahwa kerukunan umat beragama di Belu masih terjaga dengan baik.
 
Ribuan masyarakat muslim tampak memadati masjid yang dikelola secara bersama-sama masyarakat lokal dan pendatang. Tidak hanya orang tua, para pemuda juga turut meramaikan kegiatan rutin dalam rangka memperingati hari besar umat Islam ini.
 
Di pintu masuk ke lokasi pengajian anggota Gerakan Pemuda Ansor berjaga mengatur lalu lintas dan menyambut tamu yang datang. Sementara itu, diluar masjid puluhan anak usia dibawah 10 tahun berlalu lalang bermain penuh riang gembira.
 
Dalam ceramahnya, Kyai Afdhali menyampaikan pentingnya menjaga kerukunan umat beragama serta menjauhi sikap dendam. “Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa kita harus hidup rukun, dengan siapa saja dan menjauhi sifat dendam”, ujar Kyai Afdhali.
 
Kyai yang juga pengurus PBNU itu menegaskan bahwa jika ada orang yang tidak mau hidup rukun dan memiliki sifat pendendam maka dia bukanlah umat Nabi Muhammad SAW. “Kalau bukan mengikuti Rasulullah kita mau ikut siapa, kalau ada orang pendendam, suka menyalahkan yang lain Itu bukan umat nabi Muhammad SAW”, tukasnya.
 
Lebih lanjut Afdhali menegaskan bahwa Islam adalah agama damai, agama yang melindungi umat manusia serta tidak suka bermusuhan. “Islam itu agama damai, agama yang merangkul bukan memukul, agama yang penuh cinta dan tidak suka mencaci”, tegas Afdhali.
 
Selain tausiyah dari Kyai Afdhali, pengajian tampak meriah karena beberapa kali shalwat yang dilantunkan ribuan jamaah pengajian diiringi marawis. Masyarakat Belu memiliki tradisi memperingati hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an serta Tahun Baru Hijriyah.
 
Protret kerukunan di Belu memang tidak hanya cerita belaka tapi nyata. Ust. Luthfi, salah seorang pengurus masjid menuturkan bahwa umat beragama di Belu memegang prinsip saling menghargai satu sama lain. “Alhamdulillah, hidup disini sangat tentram, kita saling menjaga dan menghargai seperti saat natal dan idul fitri”, ungkap pria kelahiran Jakarta ini.
 
[syamsuddin/bimasislam]

Berita Lainnya

Wakili Kemenag, Sesditjen Bimas Islam Dilantik Jadi Anggota TIMPORA
Susun Regulasi Wakaf, DPRD Kabupaten Langkat Studi Banding Ke Bimas Islam
Ses Ditjen: KUA Harus Jaga Integritas, Bulan Mei 2015 Inspektorat Akan Turun Ke Lapangan
Bidang Bimas Islam NTB Siap Kembangkan Destinasi Wisata Syariah