Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Jum'at , 22 September 2017 - 2 Muharram 1439 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Peran Penyuluh Berdayakan Ekonomi Umat

  • Monday, 18 April 2016 | 14:50
  • Administrator
  • berita
Jakarta, bimasislam-- Penyuluh Agama Islam (PAI) identik dengan tugas-tugas penyuluhan keagamaan, seperti pengajian, majelis taklim, dan semacamnya. Hal ini sesuai dengan pengertian formilnya, yaitu PNS yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan bimbingan atau penyuluhan agama Islam dan pembangunan melalui bahasa agama.
 
Adalah Wakhid Setiyawan, PNS Penyuluh KUA Wadaslintang bersama lima belas penyuluh Non PNS lainnya telah memperluas kiprah mereka dari sekedar berceramah agama. Bersama Kepala KUA Wadaslintang, Syarif Hidayat, mereka mengajak ormas keagamaan dan Baznas Kabupaten Wonosobo untuk menginisiasi Dakwah Berbasis Kandang. Yaitu, pengembangbiakan kambing, diantaranya hasil dari bantuan BAZNAS Kabupaten Wonosobo dalam rangka pemberdayaan ekonomi umat.
 
“KUA bekerjasama dengan penyuluh dan penyuluh Non PNS mulai tahun 2012,  ICMI, dan MUI membentuk binaan di 3 tempat, yaitu:  Dusun Brongkol, Dusun Windusari, dan Dusun Besuki,” kata Wakhid Setiyawan saat dihubungi, Minggu (17/04) malam.
 
KUA Wadaslintang merupakan wilayah paling selatan Kabupaten Wonosobo. Cakupan tugas penyuluh KUA ini mencakup 17 desa.  Dari jumlah itu, sementara baru tiga yang dipilih sebagi binaan karena keterbasan waktu dan tenaga mengingat daerahnya yang agak terpencil.
 
Kantor KUA tempat Wakhid dan penyuluh lainnya bekerja terletak di pusat kota Kecamaatan Wadaslintang. Jarak dari KUA ke tiga dusun itu sebenarnya tidak terlalu jauh, sekira 8 – 10 km. Namun demikian, ketiganya berada di kawasan terpencil sehingga akses ke sana tidak gampang.
 
“Kalau ke Brongkol sekitar 8 km. Tapi jalannya lumayan ekstrim, nanjak terus karena di pegunungan. Kalau di Besuki sekitar 8 km juga. Kalau di Windusari, sekitar 9 – 10 km,” tuturnya.
 
“Akses jalan menuju Besuki  lumayan sulit karena melewati tengah hutan perhutani, jalannya masih berupa batu pecahan. Kalau di Windusari dan Brongkol, meski melewati hutan, tapi baru dipelur jadi lumayan bagus,” tambahnya.
 
Pemberdayaan Ekonomi
 
Pemberdayaan ekonomi yang dilakukan penyuluh disebut Wakhid dengan istilah Dakwah Berbasis Kandang. Berawal dari kesadarannya bersama kawan-kawan, bahwa pembinaan keagamaan tidak cukup hanya dengan ceramah agama. Menurutnya, agama juga harus hadir dalam memberdayakan umatnya.  Untuk itu, sekitar awal tahun 2012, Wakhid bersama kepala KUA, MUI, dan ICMI menjalin kerjasama dengan Baznas Kab. Wonosobo untuk membuat desa binaan.
 
Dengan bantuan Baznas, Wakhid dan kawan-kawannya mulai melakukan dakwah bil maal. Mereka memotivasi masyarakat binaan untuk mengaji dengan cara memberdayakan mereka melalui dana bantuan stimulant dari Baznas untuk dibelikan hewan ternak.  “Karena di daerah pegunungan sehingga potensi pakan ternak kan banyak,  kami bekerjasama dengan Baznas Kab. Wonosobo memberi bantuan stimulant berupa kambing,” akunya.
 
Bantuan itu masih dalam bentuk uang, karena masyarakat memilih untuk membeli kambingnya sendiri.  Setiap dusun memperoleh dana stimulant sebagai modal awal sebesar Rp10 juta. Dana itu digunakan untuk membeli 10 indukan untuk kemudian digulirkan kepada masyarakat binaan. “Kita mengawasi saja. Misalnya mau belinya kapan? Kita antar lalu kita yang membayar,” ujarnya.
 
“Kita bantu kambing tapi syaratnya harus mengaji. Di pengajian itu, diberikan materi terutama kaitannya dengan keluarga sakinah dan pendidikan agama bagi anak,” tambahnya.
 
Wakhid mengaku objek binaannya saat ini kebanyakan adalah keluarga muda dan anak-anak. Menurut pria yang sejak 2009 tercatat sebagai CPNS ini, kegiatan pembinaan ini memang diorientasikan untuk menyiapkan generasi penerus yang lebih baik di bidang agama. dia mengaku bahwa  mengharapkan kalangan tua dari masyarakat sekitar agak sulit.
 
Pembinaan diawali dengan pembentukan majelis taklim. Awalnya, kegiatan pengajian hanya diikuti oleh kalangan isteri penerima bantuan. Di Dusun Brongkol misalnya,  dari 50 an anggota, yang mengikuti majelis taklim kebanyakan isteri penerima bantuan. Kalau bapak-bapaknya, paling 4 – 5 orang saja. Selain itu, ada juga sekitar 40 anak yang ikut dalam pengajian TPQ.
 
Kondisi yang hampir sama juga terjadi di Desa Besuki. Dengan anggota sekitar 40 an, rata-rata pengajian majelis taklim diikuti kaum ibu. Adapun untuk Dusun  Windusari, anggota majelis taklimnya lebih berimbang antara ibu-ibu dan bapak-bapak, dengan jumlah sekitar 50-an juga.
 
Menurut Wakhid, model pembinaan keagamaan yang disertai pemberdayaan ekonomi atau yang disebutnya sebagai Dakwah Berbasis Kandang ini disambut baik masyarakat.  Hal ini terbukti dengan kemauan mereka untuk membentuk majelis taklim dari yang sebelumnya tidak ada dan aktif dalam kegiatan pengajian. “Tadinya tidak ada pengajian, kami wajibkan yang menerima kambing untuk mengaji. Tapi yang mengaji akhirnya tidak hanya yang menerima kambing, masyarakat lain juga banyak yang ikut,” jelasnya.
 
Kambing Bergulir
 
Pengelolaan dana bantuan dalam Dakwah Berbasis Kandang di tiga dusun ini dilakukan dengan pendekatan berbeda, sesuai dengan kesepakatan dan memperhatikan kearifan lokal di masing-masing daerah.
 
Di Dusun Besuki yang beranggotakan 40-an orang, sistem yang berlaku adalah dengan mengembalikan indukan kepada pengurus Majelis Taklim. Setelah dana bantuan dibelikan indukan kambing (betina), maka setiap indukan diberikan kepada satu anggota untuk dipelihara di rumahnya masing-masing. Jika sudah melahirkan, maka induknya dikembalikan  ke pengurus kelompok, tentunya setelah anaknya disapih atau setelah berusia 6 – 7 bulan.
 
Lalu bagaimana dengan anak kambingnya? Wakhid menjelaskan bahwa masyarakat Dusun Besuki bersepakat bahwa  anak kambing itu ditaksir harganya dan untuk memilikinya, anggota yang memelihara harus membayar 20% dari taksiran harganya. “Jadi jamaah latihan untuk bersedekah.  20% dari harga anakan itu menjadi kas kelompok untuk membeli kambing lagi,” jelasnya.
 
Berbeda lagi sistem yang berlaku di Brongkol. Di dusun ini, program pembinaan sudah berjalan tiga tahun dan sekarang memasuki tahun keempat. Dari jumlah indukan yang awalnya hanya 10, kini sudah berkembang menjadi 50 ekor kambing.
 
Berbeda dengan Besuki, di Dusun Brongkol, kalau indukan yang dipelihara melahirkan, maka anak kambingnya justru yang diserahkan ke pengurus. Indukannya menjadi milik anggota yang menerima. Anak-anak kambing itu kemudian dikumpulkan oleh pengurus, lalu  dijual untuk membeli calon indukan baru dan diserahkan ke anggota lain yang belum mendapat guliran bantuan kambing.
 
Berbeda lagi dengan sistem guliran kambing di Dusun Windusari. Dengan anggota sekitar 40 an orang, mereka membaginya menjadi 10 kelompok dengan masing-masing beranggotakan 4 orang. 10 kambing indukan yang dibeli dari bantuan awal Baznas kemudian diserahkan ke masing-masing kelompok. Artinya, setiap indukan menjadi tanggung jawab 4 keluarga. “Misalnya, Pak A ,B, C dan D diberi satu kambing. Indukannya muter di empat orang itu. Nanti setelah semuanya dapat anakan, nanti induknya dikembalikan ke pengurus,” kisah Wakhid.
 
“Nanti pengurus memikirkan ke depannya apakah akan dijadikan simpan pinjam untuk modal uang atau digunakan untuk kepentingan keagamaan misalnya untuk merehab masjid atau lainnya,” tambahnya.
 
Mekanisme yang seperti ini terus berlangsung di masing-masing dusun. Bahkan, khusus untuk dusun Brongkol yang programnya sudah berjalan 3 tahun, guliran kambing indukan sudah melebar hingga keluar anggota. Adapun di  Besuki dan Windusari, baru berjalan 2 tahun dan saat ini belum bergulir ke semua anggota.
 
Sampai dengan saat ini, lanjut Wakhid, program Dakwah Berbasis Kandang ini berjalan dengan baik. Review tiga tahun pelaksanaan program di Dusun Brongkol yang dihadiri Wabup Wonosobo,  menunjukan hasil yang lumayan bagus. Pola pembinaan di Brongkol pun akhirnya dijadikan sebagai  percontohan untuk pembinaan di dusun lainnya. bahkan, dari sebagian penyisihan dana penjualan kambing, saat ini bisa dimanfaatkan untuk  membantu mendirikan PAUD, TPQ, dan mengurus pembuatan Badan Hukum TPQ Nurul Hidayah dan PAUD Mawar Asri. (thobib-mkd/bimasislam)

Berita Lainnya

Hamka: Lakukan Pendataan Aset Wakaf untuk Pemberdayaan Secara Optimal
Muhammadiyah Amin: Pemerintah Apresiasi Institusi yang Sosialisasikan UU JPH
Musuh Teroris Bukan Hanya Polisi, Tapi Semua Elemen Masyarakat
Nanti Malam Terjadi Gerhana Bulan, Umat Islam Dihimbau Perbanyak Zikir dan Ibadah