Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Selasa , 22 Agustus 2017 - 30 Zulkaedah 1438 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Para Pengabdi di Selatan Lebak (Bagian 1)

  • Thursday, 27 April 2017 | 15:40
  • sigit
  • berita
Lebak, bimasislam—Hampir dua puluh tahun sudah H. Ma’mun menghabiskan waktunya untuk mengabdi pada Kantor Urusan Agama (KUA). Baginya, menjadi penghulu adalah amanat yang harus ditunaikan, sekaligus kepasrahan atas perintah negara yang menjadi kebanggaannya. Atas alasan itulah, dirinya selalu menerima dimana pun ditempatkan, meski itu berada jauh dari perkotaan. Kini, sejak dua bulan, ia ditempatkan di KUA Kecamatan Panggarangan, Lebak, Banten. Sebelumnya ia pernah menduduki jabatan kepala KUA Bayah, Cilegrang dan Malimping.
 
Ketika dijumpai bimasislam, ia pun bertutur seputar aktifitasnya membawahi pelayanan pernikahan di 11 desa. Mayoritas wilayah 11 desa itu adalah perbukitan yang belum mendapat akses jalan yang baik. Tidak seperti empat desa yang berada di jalur Malingping-Bayah, 7 desa lainnya berada di wilayah perbukitan yang tak jarang bergelombang dan licin jika musim hujan tiba. Tak jarang ia pun memilih berjalan kaki menggunakan sepatu boot kesayangannya itu.
 
“Satu bulan rata-rata 30 s.d 40 persitiwa. Kalau satu hari ada 3 pernikahan saja, waduh itu perlu ekstra waktu dan tenaga. Kan jaraknya jauh-jauh. Ya pintar-pintar kita saja mengatur waktunya,” tuturnya dengan penuh semangat.
 
Lelaki kelahiran Lebak tahun 1965 ini menuturkan rasa syukur yang tinggi terhadap kondisinya saat ini. Menurutnya, meski ia dihadapkan pada tantangan geografis wilayah pelayanan yang rata-rata merupakan wilayah perbukitan, ia bersyukur dengan adanya berbagai terobosan regulasi pernikahan.
 
“Masyarakat sudah semakin meningkat kesadarannya untuk mencatatkan pernikahannya. Saya kira edukasi ini yang terus kami genjot. Mereka antusias melakukan penyetoran langsung ke bank persepsi, kebetulan di Kecamatan Panggarangan dan Bayah berdekatan Bank-nya. Jadi memudahkan,” lanjutnya seraya tersenyum optimis.
 
Hal yang sama diceritakan Judya Djajadiana, Kepala KUA Kecamatan Malingping, Lebak, Banten. Ia membawahi 14 desa dengan jarak terjauh adalah Dusun Senanghati yang berjarak 20 KM dari Malingping. Jika menggunakan ojek, ia harus merogoh kocek hingga Rp 50.000 untuk sekali jalan, dengan kondisi jalan yang belum teraspal.
 
“Tantangan besar kami adalah ketersediaan Bank persepsi. Selain jumlahnya hanya satu, beberapa desa yang jauh dari pusat kota terkadang terkendala. Apalagi jika musim nikah, membludak para catin yang hendak menyetorkan uang pendaftaran” ujarnya di tengah-tengah aktifitas melayani masyarakat.
 
Meski dihadapkan pada tantangan geografis, lelaki kelahiran Cianjur, Jawa Barat ini tidak merasakan sebuah penyesalan menjadi penghulu. Sejak diangkat 1995, ia adalah satu diantara penghulu yang tidak mengajukan mutasi dari Kabupaten Lebak. Baginya, melayani masyarakat jauh membahagiakan daripada keramaian kota.
 
Hal senada diungkapkan Agus Salim, Kepala KUA Kecamatan Gunung Kencana, Lebak. Meski asli kelahiran Wonogiri, ia tidak mengeluh ditempatkan di wilayah Lebak yang sebelumnya tak terbayangkan. Tekadnya bulat untuk mengabdi, karena alasan itulah ia banyak menghabiskan pengabdiannya di sekiyar Lebak.
 
“Alhamdulillah saya menikahi wanita asli Lebak, jadi betah di sini. Satu lagi, saya sangat termotivasi melayani masyarakat di desa-desa yang sangat membutuhkan layanan kami. Ada kepuasan tersendiri saat tugas selesai ditunaikan, meski harus melawan kondisi jalanan yang tidka ideal,” tuturnya.
 
Lebak bagian selatan memang dikenal dengan kondisi geografisnya berupa perbukitan dan beberapa pantai. Hal ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi para penghulu dan jajaran KUA lainnya. Meski demikian, semangat itu terus menemukan kekuatannya, seiring dengan laju kepuasan masyarakat terhadap kualitas pelayanan KUA.
 
(jaja zarkasyi-syafaat/foto:bimasislam)

Berita Lainnya

Dua Tahun Bebas Temuan, Lima Unit di Lingkungan Ditjen Bimas Islam ini Dapat Penghargaan Dirjen
Silaturahim, Kunci Kesuksesan Pembinaan Umat
Muzakarah dan Takwim Islam Tingkat MABIMS Bertekad Selaraskan Penetapan Kalender Hijriyyah
Wamen: Indonesia Lebih Maju Dibanding Negeri Jiran dalam Toleransi Beragama