Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Selasa , 22 Agustus 2017 - 30 Zulkaedah 1438 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Menikmati Megahnya Masjid Agung di Kota Santri Tasikmalaya

  • Friday, 12 May 2017 | 15:11
  • thobib al-asyhar
  • berita
Tasikmalaya, bimasislam-- Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat dikenal sebagai kota santri. Wilayah yang sangat religius karena banyaknya pondok pesantren berdiri di sana. Selin itu, kabupaten ini telah menerapkan peraturan daerah (Perda) yang bernuansa islami sebagai kearifan lokal di kota santri. Meskipun pada awalnya menuai kotroversi, namun pada akhirnya Perda tersebut membawa dampak yang positif untuk menjaga nama baik wilayah sebagai kota santri yang menjunjung tinggi nilai-nilai humanis dan kearifan.
 
Selain itu, hal menarik dari indahnya daerah ini adalah megahnya Masjid Agung yang berdiri di pusat kota, di Jalan KH Zainal Mustofa, Kota Tasikmalaya. Masjid yang berasitektur indah ini akan membuat yang melihatnya tidak akan melewatkan begitu saja. Secara umum, masjid ini memiliki ciri khas dengan konsep atap dengan warna kuning emas, dengan empat menara yang menyerupai Masjid Haram di Mekah.
 
Berdasarkan data yang ada, masjid ini dibangun oleh Bupati Sumedang Raden Tumenggung Aria Suryaatmaja pada tahun 1886 hingga 1888 masehi di atas tanah seluas 400 bata atau 6.000 meter persegi. Dilihat dari tahunnya, masjid kebanggaan warga Tasik ini dibangun jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan pada abad 19, dan hingga kini masih berdiri kokok.
 
Bangunan masjid yang sudah selesai oleh Bupati Sumedang lalu diserahkan pengelolaannya kepada Patih Demang Sukma Amijaya Tasikmalaya untuk kemudian diurus dan dikembangkan. Seiring dengan perjalanan waktu, renovasi kemudian dilakukan karena berbagai kejadian alam yang terjadi. Seperti pada tahun 1977, telah terjadi gempa hebat yang mengakibatkan bangunan masjid retak-retak yang membahayakan jamaah. Akhirnya, dilakukan renovasi secara total dengan cara menghancurkan dan mendirikan kembali bangunan masjid dengan konsep baru.
 
Pada tahun 2000 atas kesepakatan bersama pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dan para ulama dilakukan renovasi total karena banyak dikunjungi oleh wisatawan yang hendak berziarah. Warga Tasikmalaya kemudian bahu membahu menggalang dana hingga terkumpul uang sebesar Rp 7,9 miliar. Pada akhirnya, masjid tersebut direnovasi secara menyeluruh dengan arsitek Slamet Wirasonjaya. Luas lahan saat ini 7.215 meter persegi dengan luas bangunan 2.456 meter persegi. Masjid yang nampak unik ini mampu menampung 8.000 jemaah.
 
Hal menarik dari masjid ini adalah  berdirinya empat menara yang menyerupai bangunan masjid haram di Mekkah. Masjid ini juga memiliki sebuah bedug berukuran raksasa yang berhasil meraih penghargaan sebagai bedug terbesar dari MURI, dan menjadi ke hal menarik untuk dikunjungi dan merasakan nikmatnya melaksanakan shalat di sana. Anda akan menyesal jika berkunjuyng ke Tasiklamaya selain menikmati indahnya kota, ramahnya warga Tasik, tanpa sempat mapir di rumah Allah yang sangat indah ini.
 
(thobib/bimasislam) 

Berita Lainnya

KUA Kecamatan Lebak, Banten, Masih Berkantor di Aula Masjid
Selain Profesional, Panitera MTQN XXV Batam Siap Menghadapi Protes Official Peserta
RSB Yogyakarta sapa Dhuafa melalui Unit Kesehatan Keliling
Kabid Bimas Islam: Insiden Saat Nyepi Tak Akan Terjadi Jika Kedepankan Kebersamaan