Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Kamis , 19 Oktober 2017 - 29 Muharram 1439 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Menelusur Sejarah Islam di Kota Kembang

  • Monday, 09 October 2017 | 12:37
  • sigit
  • berita
Bandung, Bimasislam—Masyarakat Sunda sejak lama dikenal sebagai masyarakat yang religius. Sebagai suku terbesar kedua di tanah air, dimana 99,8 persen penduduknya beragama Islam, Sunda merupakan salah satu suku dengan populasi Muslim terbesar di Indonesia. Suku Sunda tersebar di daerah yang di sebut dengan Tatar Pasundan, yang meliputi Jawa Barat, Banten, DKI, dan sebagian kecil wilayah barat provinsi Jawa Tengah dan Lampung.
 
Denyut Islam di Kota Bandung, sebagai ibukota Jawa Barat, hingga kini masih terasa. Program Gerakan Maghrib Mengaji, Gerakan Salat Subuh Berjamaah, dan kegiatan lain cukup diminati warga Bandung. Berbagai perhelatan keagamaan selalu ramai diikuti oleh masyarakat.
 
Dalam sejarahnya, Islam menyebar di Tatar Sunda bermula dari pesisir Cirebon hingga Banten. Kemudian secara perhalan masuk ke wilayah pedalaman, mengisi wilayah-wilayah yang mulanya merupakan bagian dari Kerajaan Pajajaran.
 
Sejumlah ulama berpengaruh besar bagi masyarakat Jawa Barat. Para ulama tersebut umumnya merupakan tokoh-tokoh hasil gemblengan di sejumlah pondok pesantren, baik yang tersebar di Jawa Barat, maupun daerah lainnya, salah satunya Pesantren Sukamiskin.
 
Sebagai salah satu mencusuar Islam di daerah Parahiyangan, pada awalnya pusat studi Islam ini diampu ulama besar bernama KH.R. Muhammad Alqo. KHR Muhammad Alqo memimpin pondok tersebut selama 29 tahun, yakni dari tahun 1881 M sampai dengan 1910 M, sebelum akhirnya diteruskan oleh putranya KHR Dimyati.
 
Di era modern, sejumah ulama dan pahlawan nasional lahir dan tumbuh dari pesantren ini, di antaranya Pahlawan Nasional K.H. Zainal Musthofa.Kyai Dimyati sendiri sempat menuntut ilmu di Pesantren Kresek Garut yang kemudian bermukim di Mekah kurang lebih selama sembilan tahun.
 
Bersama K.H.A Sanusi, yang merupakan pendiri Pesantren Gunung Puyuh Sukabumi, Pondok Pesantren Sukamiskin yang dipimpinnya makin terkenal di daerah Jawa Barat. Pada periode ini, Pesantren Sukamiskin mengalami kejayaan. Para santri datang dari berbagai pelosok daerah di Jawa Barat. Barulah setelah beliau wafat, Pondok Pesantren mengalami kemunduran selama kurang lebih dua tahun, karena terhambat dengan adanya peperangan menjelang kemerdekaan Indonesia.
 
Setelah proklamasi, secara perlahan para kyai mulai merintis kembali Pesantren hingga kembali seperti keadaan semula meski dalam jangka waktu yang cukup lama. Pondok Pesantren Sukamiskin pada periode ke III ini, keadaannya cukup baik walaupun tidak sebaik periode ke II.
 
Berlokasi di Jalan Pesantren, Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, Pondok Pesantren Sukamiskin tetap eksis di tengah bertumbuhnya pondok pesantren modern lainnya.
 
Menyusur jalan pesanten di wilayah ini, seperti menelusuri jejak penyebaran Islam di kota kembang. Bagaimana tidak, didirikan sejak 1881, lembaga ini masuk dalam daftar 15 pesantren tertua di Nusantara.
 
(Bowo-Sigit/bimasislam)

Berita Lainnya

KUA Nogosari Boyolali, Salah Satu Proyek Percontohan Melalui SBSN 2015
Di Singapura, Tempat Cuci Piring Halal dan Non Halal Dipisahkan
Ini Dia Prosedur Sertifikasi Produk Halal di Aceh
BP4 dan BPP Masjid Istiqlal Jalin Kerjasama Penyelenggaraan Bimbingan Agama dan Keluarga