Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Jum'at , 20 Oktober 2017 - 30 Muharram 1439 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Menag: Tingkatkan Profesionalitas Amil, Program Sertifikasi Perlu Didukung

  • Wednesday, 15 March 2017 | 11:49
  • thobib al-asyhar
  • berita
Jakarta, bimasislam—Konferensi World Zakat Forum (WZF) kembali digelar di Jakarta di hotel Sari Pan Pasifik, Jakarta (14/3). Dalam sambutan pembukaan Menag, Lukman Hakim Saifuddin, mengatakan bahwa potensi zakat umat Islam cukup besar dan jika kelola secara profesional akan sangat membantu tugas negara dalam mengatasi ketimpangan ekonomi dan kemiskinan.
 
“Potensi zakat sangat besar. Jika dimobilisasi dengan baik melalui sistem pengumpulan dan pendistribusian yang rapi dan tepat sasaran, maka akan sangat membantu tugas-tugas negara, seperti pengentasan kemiskinan dan kesejahteraan sosial”, katanya di hadapan berbagai delegasi antar negara.
 
Menag menambahkan, bahwa untuk mewujudkan hal tersebut perlu upaya-upaya bersama dalam rangka meningkatkan profesionalisme Amil Zakat agar mereka bekerja secara profesional, amanah, jujur, dan bersikap adil kepada semua golongan.
 
"Untuk itu, para amil zakat harus bekerja profesional, amanah, jujur, tidak berpihak pada suku dan golongan, serta memiliki loyalitas yang tinggi terhadap tugasnya. Dalam kaitan itu, pemerintah memandang gagasan tentang perlunya sertifikasi profesi amil zakat patut didukung sebagai salah satu upaya menuju peningkatan profesionalitas dan akuntabilitas pengelolaan zakat," kata Menag.
 
Dalam kesempatan tersebut, Menag yang biasa dipanggil LHS berharap, melalui Konferensi World Zakat Forum (WZF) ini dapat melahirkan pemikiran-pemikiran keilmuan baru, terkait dengan fikih zakat kontemporer. Salah satunya, imbuhnya, terkait dengan kriteria asnaf penerima zakat atau mustahik dalam konteks masa kini. Sehingga, kata Menag, bila perlu dilakukan redefinisi dan reinterpretasi tentang delapan asnaf penerima zakat sebagaimana ditetapkan dalam Al Quran surat At-Taubah ayat 60, bagaimana pemahaman dan interpretasinya secara dinamis dalam konteks kekinian.
 
"Dengan kata lain, perlu ada terobosan ijtihad atau pemikiran hukum Islam supaya dana zakat lebih dirasakan manfaat dan maslahatnya bagi kalangan masyarakat luas dalam koridor yang dapat dibenarkan dalam prinsip-prinsip syariah," ujar Menag saat membuka resmi Konferensi World Zakat Forum (WZF) di Jakarta, Rabu (15/3).
 
Dikatakan Menag, pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Agama sebagai pemegang otoritas kebijakan makro perzakatan menaruh ekspektasi besar kepada organisasi pengelola zakat dan para pegiat zakat dunia untuk terus menggulirkan agenda-agenda kerjasama perzakatan antar-bangsa dan memaksimalkan manfaat zakat untuk tujuan kesejahteraan masyarakat.
 
"Pemerintah telah mengakomodasi potensi dan peran zakat dan wakaf dalam Masterplan Arsitektur Keuangan Syariah yang disusun oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Hal itu sekaligus menjadi tantangan bagi semua pemangku kepentingan perzakatan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan zakat yang memberi manfaat maksimal untuk menunjang kesejahteraan bangsa dan pengurangan kemiskinan,"kata Menag.
 
Selain itu, lanjut Menag, pemerintah menyambut baik disusunnya konsep Zakat Core Principles (ZCP) sejak tiga tahun lalu yang difasilitasi oleh Bank Indonesia dan melibatkan partisipasi pegiat zakat dari manca negara. Pemerintah juga mengapresiasi diluncurkannya Indeks Zakat Nasional (IZN) oleh BAZNAS. Tahun ini juga akan lahir Standarisasi Kepatuhan Syariah (Shariah Compliance) dalam Sistem Pengelolaan Zakat Nasional yang merupakan inovasi atau proyek perubahan dari Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf.
 
"Saya ingin menggaris-bawahi bahwa semua instrumen tersebut merupakan milestone untuk mendorong kebangkitan zakat dan meningkatkan kepercayaan publik kepada organisasi pengelola zakat," ucapnya.

Selain dihadiri oleh Ketua Baznas Bambang Sudibyo dan Sekjen WZF Ahmad Juwaini, konferensi juga menghadirkan para penggerak zakat dari 16 negara yaitu, Arab Saudi, Bosnia Herzegovina, Maroko, Malaysia, Bangladesh, Sudan, Brunei Darussalam, Uganda, Nigeria, Jepang, Australia, Vietnam, Kamboja, dan Cyprus.
 
WZF adalah forum kerjasama lembaga-lembaga zakat sedunia, Konferensi diadakan tiga tahunan dengan mengundang orang-orang yang bekerja pada urusan dan kegiatan zakat dari berbagai belahan dunia, termasuk dari negara non muslim. Periode 2014, acara ini digelar di New York, Amerika Serikat. Selain pembahasan sejumlah isu terkait zakat, konferensi menggelar suksesi pemilihan Sekretaris Jenderal WZF yang baru.
 
(thobib/dm/bimasislam)
 

Berita Lainnya

Majelis Taklim dan Grup Seni Islam Turut Meriahkan Pawai Taaruf STQ Bali
Direktur Penais: Dakwah Harus Hormati Kelompok Lain
APRI Siap Bersinergi dengan Bimas Islam untuk Melahirkan Penghulu Professional
Ari Ginanjar: Islam Harus Kembalikan Kekuatan Agama, Sains, dan Ekonomi Secara Bersamaan