Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Selasa , 22 Agustus 2017 - 30 Zulkaedah 1438 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Menag Tegaskan Pentignya Menjaga Islam Washatiyyah

  • Monday, 12 June 2017 | 09:17
  • Syam
  • berita
Jakarta, bimasislam – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengadakan dialog dengan tokoh serta pimpinan ormas Islam tingkat nasional. Dalam kesempatan itu Menag menegaskan pentingnya menjaga Islam Wasathiyyah.
 
"Semua kita tahu bahwa Islam adalah agama Rahmatan lil ‘alamin, oleh karenanya penting sekali menjaga Islam washatiyyah, Islam nusantara, Islam yang berkemajuan, Islam yang moderat, yang tidak berlebih-lebihan, yang telah dipilih oleh pendahulu kita, agar kita bisa hidup berdampingan", tegas Menag saat mengawali Dialog Pimpinan/Tokoh Ormas Islam Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Direktorat Penerangan Agama Islam, Ditjen Bimas Islam, di Jakarta, Jumat (09/06).
 
Masyarakat Indonesia, lanjut Menag adalah masyarakat yang religius. Masyarakat yang tidak bisa dipisahkan kehidupan sehari-hari dengan agama. Disaat yang sama era yang serba digital telah menghadirkan kompleksitas persoalan.
 
“Semua kita itu sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama, kami di Kemenag mencoba sedapat mungkin meskipun kita mayoritas muslim tapi sesungguhnya juga majemuk karena ada umat agama lain. Bagaimana semua agama bisa diterima oleh semua kita. Mari kita jaga keindonesian kita, karena kita mayoritas maka Islam memiliki tanggungjawab yang paling besar”, ujar Menag.  
 
Ditempat yang sama, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Ma’ruf Amin mengatakan bahwa sesungguhnya karakteristik Islam itu adalah moderat dan toleran. Kyai Ma’ruf mengatakanbahwa Islam moderat dapat disimpulkan dalam cara berpikir dan moderat dalam bergerak.
 
Rais Am PBNU ini menyebutkan berpikir moderat itu ada tiga karakteristik, yaitu moderat, tidak tektualis, dan tidak liberal. Selain itu, berpikir moderat juga harus dinamis di mana para ulama terdahulu memperbolehkan perubahan karena ada suatu alasan. "Memang para ulama kita dulu membolehkan melakukan perubahan itu, kita harus menjaganya, atau karena susah atau karena sulit dikerjakan, lalu istilah karena susah dikerjakan, jadi ada perubahan," terang Kyai Ma’ruf.      

Kyai Ma’ruf juga menjelaskanbahwa agama tidak mengajarkan gerakan yang berlebihan serta memaksakan diri. Karena itu, menurutnya ada empat karakteristik dalam bergerak secara moderat. "Saya menyebutnya ada empat karakteristik, satu dengan cara santun, tidak galak atau keras, jangan ada kelompok galakiyyin”, jelasnya.
 
“Yang kedua itu mengajak orang dengan sukarela, tidak ada paksaan, tidak ada paksaan, tidak pakai intimidasi. Ancaman dan teror itu bukan karakterkita, makanya dulu tidak pernah gaduh," tegasnya.          

Yang ketiga, lanjut Kyai yang baru saja menerima gelar Profesor ini adalah toleran, tidak egoistis, dan tidak fanatik. Sebab, karakteristik Islam itu ideologi toleran.
 
"Karena memang karakteristik Islam itu ideologi toleran. Agamaku agamaku, agamamu agamamu. Keempat itu Harakah kita itu menebarkan kecintaan dan kemudian kasih sayang, saling menyayangi, mencintai, bukan saling membenci dan bermusuhan," pungkasnya.
 
Sementara Sekretaris PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti mengajak umat Islam untuk melek teknologi. "Keadaban kita, salah satunya terlihat di medsos. Saat ini adalah jaman di mana Al-Quran dan Hadits berbentuk digital. Kita harus menguasai teknologi digital," ujar Mu'ti.
 
Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan ormas Islam seperti MUI, NU dan Muhammadiyah dari seluruh Indonesia. Beberapa pejabat Kementerian Agama Nampak hadir diantaranya Sektrerais Ditjen Bimas Islam, Muhammadiyah Amin dan Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Muhammad Thambrin. Hadir pulautusan Kantor Wilayah Kementerian Agama seluruh Indonesia. Acara diselenggarakan 9-11 Juni 2017.

(syamsuddin/bimasislam)

Berita Lainnya

Wamen: Perlu Advokasi Sengketa Wakaf sebagai Bentuk Perlindungan Negara
Matangkan RPP, Bimas Islam Gelar Temu Wicara Halal 2016
Menag LHS: Sebagian Orang Ada yang Merasa Terganggu Dekat dengan Masjid
Masjid Hunto Sultan Amay Gorontalo, Dibangun Sebagai Mahar Pernikahan