Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Jum'at , 22 September 2017 - 2 Muharram 1439 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Menag: Media Sebagai Mata dan Telinga Birokrasi

  • Friday, 22 April 2016 | 17:54
  • Administrator
  • berita
Jakarta, bimasislam—“Media merupakan mata dan telinga dari aparatur negara, khususnya Kementerian Agama. Setiap pegawai di semua level harus melek terhadap media. Apalagi revolusi media menjadikan apa yang kita lakukan sangat cepat diketahui oleh publik. Jika masih ada pegawai yang tidak familiar dengan media, khususnya media sosial, maka inimenjadi masalah serius”. Demikian dikatakan oleh Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, di hadapan Ka Kanwil seluruh Indonesia, rektor, dan pejabat eselon 1 dan 2 Pusat, di Auditorium HM. Rasyidi, Kemenag, Jakarta (22/4).
 
Menag menambahkan, bahwa apa yang kita lakukan harus dikhabarkan kepada khalayak bahwa kita telah melakukan banyak hal terkait dengan tugas dan fungsi masing-masing. Ketiadaan publikasi kinerja baik yang dilakukan, maka publik tidak akan mengetahui.
 
“Mari kita lakukan speak up atau speak out melalui saluran media yang ada. Hanya saja saya justru merasa khawatir jika hasil analisis media yang dipaparkan pak Rudi (Kapus Pinmas, red) tadi menunjukkan bahwa yang banyak dikutip media justru saya. Ini pasti ada yang salah. Harusnya yang dikutip media itu institusi, Kementerian Agama, bukan Menteri Agama. Karena menteri itu datang dan pergi. Sementara Kementerian Agama harus tetap jalan dan terus bekerja. Ini jelas tidak bagus.”, tandas LHS dengan penuh semangat.
 
Sementara itu Sekjen Kemenag, Nur Syam, mengatakan bahwa Menteri Agama telah memenuhi seluruh kriteria kehumasan, sehingga selama ini Kemenag banyak terbantu dengan tampilnya Menag di depan media.
 
“Pak menteri itu mukanya media face. Jangankan para kaum wanita, kaum pria juga banyak yang suka dengan beliau. Tampilan pak menteri memenuhi seluruh kriteria sebagai humas Kementerian Agama. Sehingga Kemenag sangat terbantu dengan kehadiran beliau”, ungkap mantan Dirjen Pendis ini dengan sedikit bergurau.
 
Pengamat media, Sigit Raharjo, mengkritik Kementerian Agama yang terlalu banyak medianya, seperti alamat website yang ada nama-nama yang banyak. Seharusnya Kemenag mengintegrasikan itu menjadi satu wadah yang kuat.
 
“Saya sangat menyayangkan begitu banyak alamat website di Kemenag. Jika Kemenag hanya memiliki satu website dan dikelola secara serius, maka saya yakin akan banyak pengunjungnya. Bahkan sangat mungkin akan melebihi pengunjung seperti detik atau kompas. Masalah lain dari problem media, Kemenag perlu juga mengangkat juru bicara agar seluruh informasi dapat direspon dengan baik dan cepat”, usulnya.
 
Dalam kesempatan tersebut juga diungkapkan isu-isu di Kementerian Agama yang banyak dikutip oleh media. Beberapa masalah yang banyak dikutip adalah masalah penyelenggaraan haji, kerukunan, kehidupan umat beragama, dan juga pendidikan. (thobib/bimasislam)  

Berita Lainnya

Ses Itjen: ASN Harus Laporkan Kekayaan, Jika Tidak Akan Dihapus Status Kepegawaiannya!
Halaqah Kebangsaan, Dubes Agus Maftuh: Lawan Radikalisme dengan 4 D
Perlu Perhatian Khusus agar Bimbingan Keislaman Anak-anak di Pulau ini Terpenuhi
Ini Nama 15 Hafidz yang Lolos Seleksi Imam Masjid ke Abu Dhabi!