Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Kamis , 19 Oktober 2017 - 29 Muharram 1439 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Masjid Agung Malang, Simbol Dua Keharmonian

  • Monday, 13 April 2015 | 14:56
  • berita
Malang, bimasislamMasjid Agung Malang adalah salah satu masjid tertua di Jawa Timur. Masjid yang didirikan di atas tanah seluas 3000m2  ini dibangun dalam dua tahap, yakni pada tahun 1890 dan 1903. Yang unik, corak masjid ini memadukan arsitektur Arab dan Jawa secara menarik. Jika tak masuk ke dalam masjid, pengunjung atau pelancong yang melihat masjid ini dari depan tak akan mengira bahwa bagian dalam masjid sangat kental dengan nuansa arsitektural Jawa. Bagian dalam yang sekaligus merupakan bangunan asli masjid ini sangat dipengaruhi oleh arsitektur asli Nusantara. Jumlah pilar di bagian dalam terdiri dari 20 buah yang melambangkan 20 sifat Allah, beserta 4 pilar utama sebagai simbol sifat Nabi Muhammad Saw. Pilar-pilar tersebut menyangga atap berbentuk tajug bertumpang dua yang merupakan bangunan khas tradisional Jawa pada zaman dahulu. Nyaris keseluruhan bagian dalam masjid ini beraksen kayu, dengan balutan warna coklat sehingga menambah kesan desain bercitarasa Indonesia.
 
Sedangkan pada bagian depan, arsitektur khas Timur Tengah nampak dominan dengan kubah besar berwarna hijau dipadankan dengan garis-garis diagonal berwarna putih. Kubah utama beraksen lembut itu dilengkapi dengan sejumlah kubah kecil di tiap-tiap atap menara dan bagian atas serambi masjid. Sejumlah kubah ini mempercantik keseluruhan fasade masjid tiga lantai tersebut dengan ornamen geometris yang menarik.
 
Seorang jamaah yang datang dari kabupaten Lumajang, Jawa TimurIqrok Wahyu Perdana, mengatakan masjid ini seperti “bertopeng”, dalam pengertian, desain bagian depan masjid menyembunyikan desain bagian belakangnyaDari luar, padu padan Jawa-Arab ini memang tak akan nampak kecuali jika pengunjung melihat bangunan masjid dari sebelah samping. Dari sisi kanan, pencampuran dua corak ini akan nampak terilihat, dimana bagian depan masjid yang berbentuk kubah bernuansa Arab, seolah menjaga bagian belakang Masjid yang berbentuk tajug bertumpang khas bangunan Jawa.
 
Masjid yang terletak di sebelah barat alun-alun Kota Malang ini hanya berjarak sekitar 20 meter dari GPIB Immanuel, Malang. Kedua rumah ibadah ini telah berdampingan lebih dari seratus tahun yang melambangkan keharmonian umat beragama di Kota Apel tersebut. Dua bangunan bersejarah ini menjadi bukti bahwa warga kota Malang telah memiliki toleransi beragama, dan hidup dalam keharmonian jauh sebelum Indonesia merdeka. Oleh karena itu, masjid ini melambangkan dua keharmonian sekaligus, yaitu harmoni intra umat beragama yang disimbolkan dengan padu-padan arsitektur Islam bernuansa Jawa-Arab di dalam masjid,  dan keharmonian antar umat beragama dimana masjid ini telah berdampingan dengan rumah ibadah pemeluk Kristen sejak zaman penjajahan..
 
Selain itu, Masjid Agung Jami’ Malang juga telah dilengkapi dengan penyediaan air bersih bagi keseluruhan aktivitas masjid. Pengelola masjid ini telah membangun sebuah sumur bor artesis berkedalaman 205 meter. Debit air dari sumur artesis itu mencapai 15 liter per detik dan mengeluarkan air sendiri tanpa perlu menggunakan pompa.
 
Berdasarkan hasil uji PDAM kota Malang, air sumur artesis masjid ini memenuhi syarat untuk langsung diminum dengan kandungan Total Dissolved Water (TDS) mendekati kandungan TDS air zam-zam. TDS air artesis masjid jami Malang sebesar 437 sedangkan air zam-zam 430. Takmir masjid ini juga mempunyai amal usaha dengan memproduksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) sendiri  bernama Q-Jami’ dalam berbagai ukuran untuk mendukung syi’ar Islam. Tak hanya sampai di situ, masjid yang beralamat di Jalan Merdeka Barat Nomor 3, Kota Malang, ini juga memiliki stasiun radio Madinah FM  yang mengudara pada frekuensi 99,8 FM.  Pengelolaan masjid secara profesional semacam ini diharapan dapat menjadi contoh bagi takmir masjid lain di seluruh  Indonesia. (Sigit/foto:bimasislam)

Berita Lainnya

Urais Binsyar Aceh: 2016, Produk Halal Jadi Prioritas
Pastikan Aspek Halal Daging Kurban, Bimas Islam Lakukan Pembinaan
Wamen: Jihad Hidupkan Aspek-aspek Kemanusiaan, Bukan Sebaliknya
Di KUA ini, Angka Nikah di Luar Kantor Merosot Drastis Pasca Dibangun dengan Dana SBSN