Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Selasa , 23 Mei 2017 - 26 Syaaban 1438 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Keluarga Kunci Kerukunan Umat Beragama di Belu

  • Tuesday, 09 May 2017 | 09:11
  • sigit
  • berita
Belu, bimasislam-- Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang memiliki peranan penting dalam menciptakan kerukunan umat beragama. Tanpa diawali dari keluaraga, kerukunan akan sulit dicapai dalam wilayah yang lebih luas. Budaya hidup rukun itulah yang menjadi kunci dari terjaganya kerukunan secara luas di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur hingga kini. 
 
“Kerukunan itu sudah menjadi budaya turun temurun di tempat kami, satu rumah bisa terdapat dua penganut agama yang berbeda, kebanyakan Islam dan Katolik, jadi menjaga kerukunan kita awali dari keluaraga”, hal itu diungkapkan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, saat ditemui bimasislam di ruang kerjanya, rabu (3/5). 
 
Ope Rafael mengatakan, bahwa keluarga memiliki tanggungjawab menjaga prilaku baik di dalam maupun diluar rumah, termasuk mengingatkan untuk taat beragama. “Saya selalu berpesan karena anda masuk Islam jadilah Islam yang baik dan bertanggungjawab, jangan bikin malu keluarga, anda menjadi katolik juga demikian”, ujar Rafael.
 
Keluarga lanjut Rafael, juga memiliki tanggungjawab atas kehadiran orang baru baik tamu atau penduduk pendatang. “Kalau ada orang baru dari luar maka keluarga akan mendapat tanggungjawab. Keluarga memiliki tanggungjawab melaporkan kepada aparat desa, hal ini untuk meminimalisir kecurigaan dan hal-hal yang tak diinginkan”, terangnya.
 
Masyarakat Belu, tambah Rafael memiliki budaya dan tradisi saling menghormati. Oleh karenanya orang dari luar diminta menyesuaikan dengan budaya setempat. “Contoh hal kecil, disini beda agama saling membantu kebutuhan sehari hari itu biasa. Jadi keluaraga adalah kunci menjaga kerukunan umat beragama”, tegas Rafael.
 
Ditemui terpisah, Kepala Seksi Pendidikan dan Bimas Islam Kemenag Belu Akrim Moka juga menyampaikan bahwa kuatnya kerukunan di daerah perbatasan Indonesia dan Timor Leste ini karena sistem kekeluargaan yang sangat kuat. 
 
“Jika anda menikah dengan orang sini (NTT-red) maka sudah dianggap menjadi saudara, meski beda agama anda akan dijaga dan dihormati”, ujar Akrim.
 
Selain unsur keluarga, Akrim menambahkan bahwa kerukunan di Belu terawat hingga kini karena kerjasama antara pimpinan agama berjalan dengan baik. “Alhamdulillah komunikasi antar pimpinan pemerintahan dan tokoh agama berjalan dengan baik, kita harus saling memahami kehususan dan kehasan agama masing masing”, imbuhnya.
 
[syamsuddin/bimasislam]

Berita Lainnya

Di Tasik, Angka Perceraian dan Penikahan Anak Perlu Dapat Pehatian
Berziarah ke Makam Syaikh Yusuf di Makassar
Sudah Seharusnya UKM Domestik Pahami Potensi Mereka
Menag Launching Sistem Informasi Manajemen Bimas Islam (SIMBI)