Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
BERITA
Ka Kemenag Kabupaten Natuna: Kami Kekurangan Penyuluh Agama!
  • Wednesday, 30 March 2016 | 14:35
  • Administrator
  • berita

Natuna, bimasislamKepulauan Natuna merupakan wilayah paling utara Indonesia. Saat ini nama kabupaten ini menjadi sorotan media karena kasus illegal fishing di perairan Laut China Selatan. Secara geografis, wilayah ini memang memiliki letak yang sangat strategis, antara pulau Kalimantan, Vietnam, Thailand, Malaysia, dan juga RRT. Hamparan lautan yang luas dan potensi alam yang melimpah, khususnya gas bumi, menjadikan tempat ini sangat menarik.
 
Dilihat dari jumlah penduduknya yang terhampar di beberapa pulau, Kepulauan Natuna memiliki jumlah penduduk tidak lebih dari 80.000 orang yang tinggal di 12 Kecamatan. Adat istiadatnya sangat kental dengan budaya Melayu, meski banyak pula penduduk pendatang yang terdiri dari berbagai suku. Kondisi sosial masyarakatnya sangat rukun dan damai dalam keragaman. Bahkan di dekat dengan Bandara Ranai terdapat rumah ibadah berbeda, Masjid dan Kelenteng, berdiri berdampingan, sebagai simbol kerukunan dan harmoni sosial.
 
Saat wawancara bimasislam dengan Kepala Kan Kemenag Kabupaten Natuna, Sudarmadi (23/3), bahwa kehidupan masyarakat Natuna sangat rukun. Meski terdapat berbagai perbedaan, hingga saat ini masih kondusif, meski terdapat banyak tantangan di masa mendatang.
 
“Di sini masyarakat sangat rukun. Perbedaan paham dan kelompok tidak menjadikan kami berselisih. Hanya saja seiring dengan perkembangan sosial, Kabupaten Natuna menghadapi banyak problem sosial, seperti penyebaran Narkoba, kehidupan bebas, juga mulai ada kelompok yang sering membidáhkan kelompok lain”, tegasnya.
 
Menghadapi berbagai persoalan tersebut, Sudarmadi mengharapkan adanya peningkatan jumlah penyuluh agama, khususnya tenaga penyuluh honorer untuk meningkatkan pemahaman kegamaan dan bimbingan moral masyarakat. Menurutnya, jumlah penyuluh agama di Kabupaten Natuna masih belum mencukupi, apalagi banyak dari mereka yang sudah tidak produktif lagi.
 
“Kami di sini masih kekurangan penyuluh honorer pak. Masyarakat yang tinggal di berbagai pulau masih membutuhkan penyuluh agama untuk membimbing mereka. Apalagi banyak penyuluh agama yang kurang produktif. Makanya kami kalau kedatangan tamu dari Pusat (Jakarta) akan meminta mengisi ceramah di masjid atau majelis taklim. Orang Jakarta yang datang ke sini kami anggap sebagai orang tua kami”, tegas Sudarmadi.
 
Hal sama juga disampikan oleh Kepala KUA Pulau Tiga, Ayaturrahman. KUA yang menaungi tiga pulau besar ini juga mengeluhkan kurangnya tenaga penyuluh honorer. Sementara penyuluh honorer yang ada hanya bisa membina di desa masing-masing. Rata-rata adalah guru ngaji di pedesaan.
 
“Kami butuh penyuluh agama yang muda dan memiliki kemampuan ilmu agama yang cukup. Banyak anak-anak lulusan MA atau bahkan STAI tetapi mereka tidak mau karena kurang mampu menyampaikan pesan-pesan agama di podium keagamaan. Kami mohon Pusat bisa mempertimbangkan untuk mengirimkan alumni-alumni pesantren yang ditugaskan di Natuna”, tutupnya. (thobib/bimasislam)