Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
BERITA
Jadwal Imsak Dikritik, Ini Penjelasan Direktur Urusan Agama Islam
  • Friday, 24 June 2016 | 09:57
  • sigit
  • berita
Bulan Ramadhan ini, muncul kritik yang mempertanyakan keabsahan “Jadwal Imsakiyah” yang diterbitkan oleh Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama. Kritik tersebut mempertanyakan “urgensi waktu imsak” saat memulai aktivitas ibadah puasa.
 
Merespon kritik tersebut, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah mengucapkan terimakasih atas perhatian masyarakat, sekaligus memberikan penjelasan terkait penetapan waktu Imsak. Berikut bimasislam mengutipnya untuk  Anda.
**
 
 
Secara umum, kata imsak dari segi bahasa bersubstansikan makna “menahan” atau “mencegah”. Imsak bermakna pula “waktu harian yang membatasi permulaan puasa pada bulan Ramadan.’
 
Arti bahasa yang disebut terakhir ini relevan dengan imsak, yakni batas waktu untuk memulai puasa. Dari sudut penghampiran doktrin syariat jelas (tidak diperselisihkan) bahwa batas waktu memulai puasa ialah tepat pada moment terbitnya fajar shadiq (subuh). Batas waktu imsak ini ditetapkan dalam al-Qur’an dan dikuatkan oleh hadis Nabi SAW berikut:
 
 
... dan makan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. (QS. Al-Baqarah: 187)
 
 
Fajar itu ada dua. Fajar yang seperti ekor serigala tidak menghalalkan salat dan tidak mengharamkan makan. Adapun fajar yang memanjang di ufuk, maka fajar itulah yang menghalalkan salat dan mengharamkan makan.” (HR.Hakim dan Baihaqi)
 
Fikih Imsakiyah berangkat dari pandangan
1.    Ihtiyathi (kehati-hatian)
2.    Mahzhuri (siaga)
 
Imam Ibnu `Arabi ulama Fikih Maliki murid Imam Turtusy Kibar Maliki dan Imam Ghazali menjelaskan masalah imsak di dalam kitab Tafsirnya al-Jaami` Li Ahkaami al-Qur`an Juz 1:173 pada pembahasan surat al-Baqarah ayat 187 pada masalah ke 11 yaitu ta`jiilu al-fithri wa taqdiimu al-imsaak menyegerakan berbuka dan mendahulukan imsak jika fajar sudah dekat sebagai upaya menyelisihi ahli kitab. Beliau mengatakan : bila waktu shubuh sudah dekat maka tidak halal lagi bagimu makan, karena waktunya sudah masuk wilayah cegahan, meskipun demikian beliau juga mengatakan ada juga ulama yang membolehkan makan di waktu syak saat fajar sampai waktu terang.
 
Untuk implementasinya, pada akhir ayat 187 surat al-Baqarah Allah menegaskan sinyalemendengan kalimat: “tilka hudûdullâh, fa taqrabûha” Itulah batas-batas Allah, maka janganlah kalian mendekatinya. Sinyalemen fa taqrabûha” (Janganlah kalian mendekatinya) ini penting sehingga Nabi Muhammad SAW sendirimeski menganjurkan untuk mengakhirkan makan sahurtidak mentradisikan praktik makan sahur pada waktu yang sangat mepet sembari berupaya mengepas-ngepaskan saat rampungnya makan sahur itu dengan moment terbitnya fajar sadiq. Imam al-Bukhari mentakhrij sebuah hadis yang menggambarkan sebagian dari praktik santap sahur Nabi Muhammad SAW sebagai berikut.
 
Dari Qatadah, dari Anas bahwa nabiyullah SAW dan Zaid bin Tsabit bersantap sahur. Setelah rampung dari santap sahur mereka, Nabi SAW berdiri untuk salat, kemudian beliau salat. Kami bertanya kepada Anas, ”berapa lama antara rampungnya mereka dari santap sahur dan masuknya mereka ke dalam salat?” Ia berkata: ”Kira-kira sepanjang seseorang membaca 50 ayat.’
 
Atas dasar ini maka menghentikan santap sahur (memulai imsak) beberapa saat sebelum jatuhnya moment terbit fajar merupakan pilihan tindakan yang afdhal karena bukan hanya berselaras dengan praktik santap sahur Nabi Muhammad SAW (sunnah), namun sekaligus aman dari peluang melanggar batas keharaman.
 
Dalam implementasinya di Indonesia, deskripsi kualitatif yang diberikan sahabat Anas tentang jarak waktu antara selesainya santap sahur Nabi Muhammad SAW hingga beliau masuk salat subuh, yakni ”sepanjang lama bacaan 50 ayat”, dibakukan secara kuantitatif menjadi 10 menit yang kemudian populer dengan sebutan Waktu Imsak.
 
Dengan penjelasan di atas, waktu imsak di Indonesia tentu tidak dimaksudkan untuk mengubah waktu puasa dengan memajukannya dari batas yang telah didoktrinkan syariat, melainkan semata-mata dimaksudkan sebagai ikhtiar melestarikan sunnah sekaligus sebagai katup pengaman (tindakan hati-hati) agar kaum muslimin tidak terperosok ke dalam batas larangan.
 
(Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI)

[sigit/bimasislam]