Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Jum'at , 20 Oktober 2017 - 30 Muharram 1439 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Hangat, Kajian Islam Bimas Islam diikuti Pegawai Perempuan

  • Monday, 19 June 2017 | 11:50
  • Syam
  • berita
Jakarta, bimasislam—Sebagai pegawai pada Ditjen Bimas Islam, memperdalam wawasan keislaman adalah sebuah keniscayaan. Bukan hanya demi kepentingan individual, wawasan keislaman para pegawai juga membawa dampak pada kualitas kebijakan yang diambil. Karena itulah, tuntutan untuk terus memperdalam Islam senantiasa digaungkan oleh para pejabat di lingkungan Bimas Islam.
 
Seperti yang nampak di lt. 20 Gd. Kementerian Agama Jl. MH. Thamrin No. 6 Jakarta, disela-sela kesibukan pekerjaan di bulan Ramadhan, Ditjen Bimas Islam mengadakan kegiatan Pembinaan Ramadhan bagi Muslimah yang telah diadakan dua kali pertemuan, yaitupada hari jumat 09 Juni dan 16 Juni 2016 pukul 11.00 – 13.00 (waktu shalat jumat. Narasumber yang dihadirkan yaitu Dra. Hj. Badriyah Fayumi, Lc., M.A., wakil sekretaris BWI sekaligus redaktur ahli majalah NOOR dengan tema dengan tema “Fiqih Ramadhan Bagi Muslimah”. Adapun Dewi Yulia, S.Sos., M.Psi, psikolog anak di Yayasan Kita dan Buah Hati memberikan materi dengan tema “Sukses mendidik anak di Bulan Ramadhan”. Kegiatan ini dihadiri pegawai perempuan di lingkungan Bimas Islam.
 
Badiyah Fayumi mengawali kajiannya dengan membedah makna puasa dalam arti yang luas. Menurutnya, secara Bahasa puasa bermakna adalah al-imsâk,menahan diri.Imsak sebaiknya juga berlaku juga bagi yang tidak berpuasa atau diluar Ramadhan. Dalam kata lain, kita juga mampu membawa spiritual Ramadhan dengan menahan diri.

“Ironisnya ketika kita sebagianwanita sedang tidak berpuasa tetapi makan ditempat terbuka disiang hari, inilah salah satu contoh kita bisa belum menahan diri,” tuturnya.
Menurut wanita yang pernah menjadi komisioner KPAI dan ketua KPAI ini, bahwa ibadah bisa dilihat dari dua aspek,yaitumelakukan pekerjaan yang diperintah dan tidak melakukan perbuatan yang dilarang. Misalnya meninaikan shalat, zakat, dan puasa,adalah ibadah yang dilakukan dengan perintah. Adapun ibadah dengan tidak melakukan perbuatan yang dilarang seperti tidak melakukan korupsi, tidak memakan dan meminum yang haram, tidak melakukan berzina dsb. 
 
Lanjutnya lagi, para ulama menyebut bahwa meninggalkan perbuatan yang dilarang lebih sulit dan lebih tinggi nilainya dibanding dengan menunaikan ibadah yang diperintah, karena seringkali kita melakukan tindakan yang disuruh tetapi dengan tidak sengaja kita juga melakukan tindakan yang dilarang.
 
Sosok yang juga pernah menjadi pengajar pada Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta ini mengingatkan, jika spirit Ramadhan ini kita bawa ke dalam kehidupan sehari-hari, dirinyayakin Inspektorat Jenderaltidak akan banyak pekerjaannya, KPK tidak sibuk menangkap orang, polisi tidak sibuk menangkap pelanggar UU.
 
“Apa jadinya jika dunia ini tidak ada spirit puasa. Namun ketika dia melakukan kesalahan atau satu keburukan akan menjadi kesalahan yang sangat fatal jika dia tidak bisa menahan diri, karena itulah fungsinya puasa, imsyak dan menahan diri. Mudah-mudahan puasa kita dibulan Ramadhan ini spiritnya bisa kita bawa ke bulan-bulan selanjutnya.”Papar Badriah menutup pertemuan pertama siang itu.
 
Pada pertemuan kedua dengan narasumber Dewi Yulia, S.Sos., M.Psi, kajian atas surat Al-Luqman ayat 12 – 19mendapat sambutan hangat dari peserta kajian. Dewi Yulia mengawali paparannya dengan pernyataan bahwa pendidikan anak sangatlah penting untuk dikaji, anak sebagai penerus bangsa juga penerus agama harus dibekali ilmu yang menjadi dasar sebagai bekal dewasa nanti dalam menghadapi tantangan kedepan. Dewi yulia pun memaparkan beberapa poin yang ada dalam surat Al-Lukman yaitu : (1)bersyukur; (2)jangan menyekutukan Allah SWT; (3)berbakti kepada orang tua; (4)setiap perbuatan akan mendapat balasan; (5)mendirikan shalat; (6)peduli dengan orang lain; (7)bersabar; (8)jangan sombong; (9)jangan berkata kasar.
 
Menurut Dewi Yulia,seringkali orang tua dan anak saling menyalahkan bahwa anak tidak dapat mengerti apa yang dialami orang tua dan begitu juga sebaliknya.
 
“Lalu sebenarnya siapa yang harus bisa memahami?. Kita sebagai orang tua pasti pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak tidak pernah menjadi orang tua, karena itu sebaiknya kita sebagai orang tua lah yang harus memahami anak-anak,”paparnya.
 
Kajian ini mendapat sambutan hangat dari kalangan pegawai perempuan Bimas Islam. Mereka umumnya menyambut baik format acara yang dikemas berupa dialog interaktif, dimana para peserta bisa langsung berbagi permasalahan yang dialami, dan bagaimana menghadapi persoalanyang dialami anak-anak.
 
(Indah-Jaja Zarkasyi)

Berita Lainnya

Masjid Raya dan Masjid Agung, Apa Bedanya?
Majelis Shalawat Aceh, Telaga Nan Bening di Taman Serambi Makkah
Siaran Pers, MTQN XXVI di NTB Diikuti 1200 Peserta
Pengelola Situs Islam: Diblokir dan Dituduh Radikal, Sakitnya Tuh di Sinii!