Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
BERITA
Gubernur NTB: Riba Eksploitatif, Zakat Memberdayakan
  • Thursday, 01 February 2018 | 18:19
  • sigit
  • berita
Lombok, bimasislam— Gubernur Nusa Tenggara Barat, TGB Zainul Majdi menyambut baik pelaksanaan Musyawarah Nasional ke-8 Forum Zakat yang digelar di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).  Hal itu disampaikan gubernur yang juga merupakan alumni Universitas al-Azhar itu saat memberikan sambutan pada acara tersebut. Terlebih wilayahnya dipilih sebagai salah satu pilot project “Kampung Zakat” yang menjadi program prioritas Ditjen Bimas Islam.
 
Dalam sambutannya, TGB, demikian ia akrab disapa, menyebut bahwa zakat merupakan sebuah pranata ekonomi yang mewakili keseluruhan konsep pemberdayaan ekonomi dalam ajaran Islam. 
 
“Zakat tidak hanya menjadi bagian dari sistem keyakinan kita, tetapi lebih dari itu ia adalah satu konsep yang mewakili keseluruhan upaya menyejahterakan umat dalam Islam,” ujarnya, Kamis (1/2/2018).
 
Konsep ekonomi zakat berbasis pada pemberdayaan. Hal inilah yang menurutnya menjadi pembeda yang tegas antara sistem ekonomi berbasis zakat dengan konsep riba. Bahkan, ia mengutip ayat Alquran Surat Rum ayat 39 yang membandingkan antara keburukan riba dan keadilan zakat. 
 
“Allah membandingkan secara jelas dua konsep yang berbanding terbalik secara diametral, yaitu riba dan zakat.” Ujar gubernur yang juga tokoh agama itu.
 
Dijelaskannya, riba merupakan instrumen ekonomi yang eksploitatif. “Bisa tumbuh secepatnya, untung sebanyak-banyaknya, tetapi tak peduli bagaimana kondisi orang lain di sekitarnya.”
 
Sementara itu, ia menambahkan, konsep zakat tidak eksploitatif, tetapi justru memberdayakan ekonomi masyarakat dengan asas keadilan dan proporsionalitas.  Untuk itulah, konsep pemberdayaan masyarakat berbasis zakat perlu dikembangkan di Indonesia. 
 
“Dari perbedaan itu, meski bermakna sama-sama tumbuh, nilai esensial yang berbeda antara riba dan zakat adalah al-barakah, keberkahan .” 
 
Itu sebabnya, imbuh pria berkacamata itu, lembaga pengelola dana zakat memiliki peran yang sangat penting dalam memberdayakan masyarakat. 
 
“Anda sebagai para pejuang zakat memiliki peran yang sangat penting untuk kemajuan umat dan bangsa kita.” Pungkasnya
 
Munas ke-8 Forum Zakat dihadiri 250 Lembaga Amil Zakat dari seluruh Indonesia. Selain dihadiri Gubernur NTB TGB Zainul Majdi, nampak hadir dalam acara yang dibuka oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bersama Ketua MUI KH Makruf Amin itu, di antaranya Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Fuad Nasar, Ketua MUI Provinsi NTB, serta jajaran pejabat tingkat provinsi dan kabupaten kota se-NTB.
 
Tiga isu pokok yang akan dibahas dalam Munas tersebut yaitu penguatan kolaborasi antar lembaga, peningkatan kapasitas amil zakat, dan penguatan regulasi zakat.
 
(sigit/bimasislam)