Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Jum'at , 22 September 2017 - 2 Muharram 1439 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Dirjen: Penyuluh Punya Peran Penting Cegah Kekerasan

  • Wednesday, 11 May 2016 | 18:07
  • berita
 
Jakarta, bimasislam— Peran penyuluh agama di tengah-tengah masyarakat seperti derap langkah yang sunyi. Berjuang tetapi masih kurang diperhatikan. Padahal, tak sedikit di antara penyuluh tersebut yang menerabas hutan, atau menyeberang antar pulau untuk membimbing masyarakat dalam mendalami agama.
 
Oleh karena itu, Ditjen Bimas Islam memberikan prioritas terhadap penyuluh dan memasukannya ke dalam program prioritas bersama dengan KUA dan Penghulu. “Program prioritas Bimas Islam terutama adalah KUA, Penyuluh, dan Penghulu,” ujar Ditjen Bimas Islam, Machasin, saat membuka Konsinyering Penyusunan Pagu Indikatif Ditjen Bimas Islam Tahun Anggaran 2017 di Hotel Lumire, Senen, Jakarta Pusat, Rabu (11/5).
 
Machasin mengatakan, penyuluh agama memiliki peran yang penting, termasuk dalam hal pencegahan terhadap kekerasan, pornografi, juga perlindungan terhadap keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

Kepada peserta konsinyering, mantan Kepala Badan Litbang Kementerian Agama itu berpesan untuk membuat program yang disebutnya semodel dengan ‘Community Parenting’ atau kewajiban setiap orang dewasa untuk melindungi anak-anak dimana pun berada.
 
 “Buatlah program semacam community parenting, dimana orang-orang dewasa kemudian memiliki kesadaran untuk melindungi anak-anak dari kekerasan,”katanya.
 
Dikatakan Machasin, penyuluh harus memiliki peran dalam memberikan kesadaran kepada masyarakat, bahwa melindungi anak-anak dimana pun merupakan kewajiban agama.
 
Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, itu menambahkan bahwa dalam membuat program tersebut, perlu ditekankan empat aspek penting, yaitu metode, materi, buku panduan, serta pengorganisasian termasuk pengevaluasiannya.
 
“capaian atas program tersebut bukan hanya pada realisasi anggaran, tapi juga dari segi out come  atau dampak yang di rasakan oleh masyarakat,” pesan Machasin.
 
Kegiatan Konsinyering Penyusunan Pagu Indikatif Ditjen Bimas Islam Tahun Anggaran 2017 digelar selama tiga hari dari tanggal 11 hingga 13 Mei 2016 di hotel Lumire, Jakarta Pusat. Selain menghadirkan pembicara dari Kementerian PPN/Bappenas, kegiatan yang diikuti oleh 66 peserta itu juga mendatangkan narasumber dari Direktorat Jenderal Anggaran, Kementerian Keuangan.
(sigit/bimasislam)

Berita Lainnya

Dirjen: Sebagai Ruh Perdaban, Informasi (Keagamaan) Harus Disajikan Secara Lengkap dan Akurat!
Tanggulangi Radikalisme Berbasis Agama, Bimas Islam Gelar Rapat Koordinasi Lintas Lembaga Negara
Bimas Islam Siap Kerjasama Pengembangan Wakaf dengan Iran
Pastikan Program Ramadhan Tak Melenceng, 15 Stasiun TV ini Dipantau MUI