Selamat datang di Website Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam .
Selasa , 22 Agustus 2017 - 30 Zulkaedah 1438 H

Direktorat Jenderal

Bimbingan Masyarakat Islam

Membimbing, Melayani, Memberdayakan, dan Mengembangkan Masyarakat Islam

Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin! Ditjen Bimas Islam Turut Berduka Cita yang Sedalam-dalamnya atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

Dirjen: Agama tanpa Toleransi Sebabkan Benturan

  • Thursday, 29 October 2015 | 10:59
  • berita
Semarang, BimasislamSikap beragama yang tidak dibarengi dengan toleransi dan saling pengertian sangat rawan menyebabkan benturan antar penganut agama. Sikap keberagamaan seseorang memiliki potensi untuk menjadikan citra agama sebagai rahmat atau justru sebagai laknat atau kutukan. Hal ini tergantung pada bagaimana seseorang mengimplementasikan sikap keberagamaannya.
 
Hal tersebut disampaikan oleh Dirjen Bimas Islam, Machasin, saat membuka Sarasehan Penanggulangan Radikalisme Berbasis Agama di Crown Plaza Hotel, Semarang, Jawa  Tengah, Senin (26/10).
 
Dikatakan Machasin, agama bisa menjadi berkah, jika membuat penganut agama lebih bisa mengontrol nafsunya. Tapi kalau agama menjadikan penganutnya dikuasai nafsu, agama justru akan menjadi laknat.
 
Mantan Kepala Badan Litbang Kemenag itu menambahkan, agama akan menjadi berkah, jika dengan beragama seseorang menjadi semakin peka terhadap penderitaan orang lain. Namun jika agama menjadikan seseorang menjadi tidak sensitif terhadap penderitaan sesama manusia, maka agama akan menjadi menjadi laknat.
 
“Agama akan menjadi berkah kalau membuat hubungan antar manusia itu sederajat. Tidak ada yang merasa dominan, tidak ada yang merasa ditindas. Sebaliknya, jika agama menjadikan seseorang sebagai warga negara kelas dua, maka agama menjadi kutukan. Apa yang terjadi di Tolikara dan Singkil, itu adalah kutukan.” Ujarnya.
 
Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam itu mengatakan agama harus menjadikan penganut-penganut agama sebagai warga negara sejajar, tidak ada yang dominan satu terhadap yang lain.
 
“Kita perlu mengembalikan misi agama sebagai berkah bagi kemanusiaan, radikalisme bukan berkah karena tidak mau merasakan penderitaan orang yang berbeda.” katanya.
 
Sarasehan Penanggulangan Radikalisme Berbasis Agama dilaksanakan selama satu hari mulai pukul 08.00 dan berakhir pukul 16.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh 200 peserta dari Ormas Islam, Aparat Keamanan, Tokoh Agama, Penyuluh Agama Islam (PNS dan Non PNS), Pimpinan Pondok Pesantren, Forum Mubaligh dan tokoh masyarakat dengan menghadirkan narasumber dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Intelkam Mabes Polri, dan pengamat radikalisme. (thobib/bimasislam)

Berita Lainnya

Inilah 10 Besar Juara MTQ Nasional XXV 2014 di Kepulauan Riau
Radikalisme Berbasis Agama di Sulteng, Kelompok Santoso Masih Jadi Ancaman
Ketua DWP Ditjen Bimas Islam: Komunikasi dan Kerjasama Kunci Wujudkan Cita-cita
Liputan Khusus Nikah di KUA dengan Biaya Nol Rupiah