Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
BERITA
Di Tasik, Angka Perceraian dan Penikahan Anak Perlu Dapat Pehatian
  • Friday, 12 May 2017 | 14:39
  • thobib al-asyhar
  • berita
Tasikmalaya, bimasislam— Angka perceraian akahir-akhir ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Berbagai alasan menjadi sebab terjadinya perpecahan keluarga Indonesia, diantaranya masalah ekonomi, perselingkuhan, tidak bertanggung jawab, ketidakcocokan, dan lain sebagainya. Tahun 2015, sebagaimana dicatat dalam buku Bimas Islam Dalam Angka (BIDA) yang diterbitkan oleh Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama yang diambil dari data Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung RI, jumlah perceraian di Indoensia sebanyak 349.774 peristiwa. Jika angka tersebut dibandingkan dengan jumlah peristiwa nikahpada tahun yang sama, yaitu 1.958.400, berarti sekitar 17 persen.
 
Di Tasikmalaya, Jawa Barat, berdasarkan penelusuran bimasislam(28/4), angka perceraia terus meningkat. Data dari Pengadilan Agama Tasikmalaya, pada bulan Januari dan Februari 2017 sebanyak 588. Pada bulan Januari sebagai 291 dengan rincian sebanyak 79 cerak talak (suami gugat cerai) dan 212 kasus cerai gugat (isteri gugat suami). Sedangkan pada bulan Februari sebanyak 297 perkara dengan rincian 84 cerai talak dan 213 cerai gugat.  
 
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Tasikmalaya, Asep Husain Yahya Sutedja, mengatakan bahwa semua pihak harus ikut berkontribusi pada masalah ini, khususnya Kantor Urusan Agama (KUA) agar melakukan pembinaan terhadap calon pengantin.
 
“Masalah perceraian perlu penanganan dari semua pihak. Kantor Urusan Agama (KUA), harus melakukan pembinaan terhadap pasangan yang akan melangsungkan pernikahan, seperti bagaimana tanggung jawab sebagai seorang suami dan isteri”, katanya sebagaimana dikutip oleh radartasikmalaya.
 
Selain masalah perceraian, yang juga harus menjadi perhatian adalah tingginya jumlah pernikahan anak di Kota Tasikmalaya. Data dari Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Tasikmalaya menunjukkan, pada tahun 2016 lalu tercatat sekitar 20 kasus pernikahan anak.
 
“Tingginya angka pernikahan anak di Kota Tasikmalaya itu 99 persen akibat hamil di luar nikah, untuk pernikahan anak murni itu sangat jarang terjadi,” ujar ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah Kota Tasikmalaya, Eki Sirojul Baihaqi.
 
Terkait dengan hal tersebut dibutuhkan peran dari berbagai sektor untuk menekan tingginya angka pernikahan anak di Kota Tasikmalaya. Menurutnya, MUI harus bisa memerankan peranya dalam mengawal umat, tokoh-tokoh masyarakat, guru dan orang tua jangan sampai lepas pengawasannya terhadap anak.
 
Berdasarkan catatan bimasislam,bahwa Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam telah menyiapkan program khusus Bimbingan Perkawinan yang akan diselenggarakan oleh KUA dengan modul khusus. Setiap calon pengantin akan mendapatkan bimbingan selama 16 jam bimbingan yang berhubungan dengan fikih munakahat, hukum perkawinan, problem solving, dan lain sebagainya. Sedangkan terkait dengan dengan perkawinan anakKUA mengintensifkan sosialisasi tentang pentingnya pendewasaan usia nikah kerja sama dengan berbagai sekolah dan organisasi remaja.
 
(thobib/bimasislam)