Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
BERITA
Australia, Jepang, dan Amerika, Tiga Besar Peristiwa Kawin Campur di KUA Kuta
  • Wednesday, 10 December 2014 | 14:40
  • Administrator
  • berita
Kuta, bimasislam—  Sebagai Kantor Urusan Agama (KUA) di daerah minoritas Muslim yang sekaligus merupakan pusat wisata kelas dunia, KUA Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, tidak berbeda dengan KUA di tempat lain. Namun demikian, komposisi penduduk yang lebih heterogen menjadikan KUA Kecamatan Kuta tetap memiliki keunikan, terutama sering terjadinya peristiwa kawin campur, atau pernikahan berbeda warga negara.
 
Kepala KUA Kecamatan Kuta, Fathurrahim, mengatakan bahwa setiap tahunnya KUA yang berlokasi tak jauh dari pantai Kuta itu mencatat sekitar 50 peristiwa kawin campur. “Semua prosesnya sama, termasuk penerapan tarif baru pencatatan nikah pasca keluarnya PP 48 tahun 2014” ujar Fathur ketika ditemui bimasislam, Rabu (3/12). Menurut Fathur, dari keseluruhan pernikahan yang melibatkan warga negara asing itu, mayoritas didominasi oleh warga negara Australia, Jepang, dan Amerika Serikat, dimana 70 persennya adalah WNA sebagai pihak mempelai laki-laki.
 
Meski hanya dibantu satu orang penghulu, menurut Fathur peristiwa pencatatan nikah masih dapat ditangani dengan sangat baik karena setiap bulan rata-rata hanya terjadi sekitar 20 kali pernikahan. “pada bulan tertentu paling tinggi 50 kali, masih bisa ditangani” katanya.
 
Dengan satu tenaga penghulu, KUA ini bertugas memberikan pelayanan pencatatan nikah bagi sekitar sembilan ribu pemeluk agama Islam yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Kuta, Kecamatan Kuta Utara, dan Kuta Selatan, dua kecamatan terakhir adalah hasil pemekaran yang masih belum memiliki KUA. Kantor KUA Kuta sendiri hingga kini masih berdiri di atas tanah wakaf. Fathur berharap agar lembaga yang dipimpinnya bisa memiliki kantor di luar tanah wakaf, sehingga aset wakaf yang selama ini digunakan dapat lebih diproduktifkan secara ekonomis.  (ska, foto: lukihermanto.com)