Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
BERITA
Abdul Djamil: Dulu Sembunyi dari Wartawan, Sekarang Harus Dihadapi!
  • Monday, 10 April 2017 | 12:14
  • sigit
  • berita
Jakarta, bimasislam—Dalam paparannya di hadapan peserta Bimtek Peningkatan Kualitas Kehumasan Bimas Islam di Hotel Lumire (6/4), mengatakan bahwa semua pihak harus memiliki spirit yang sama, terutama perubahan kultur dari mindset tertutup menjadi mindset terbuka. Dari yang semula tidak mau ekspose, jadi mau ekspose.
 
“Dari yang semula bersembunyi dari wartawan, sekarang harus menghadapi wartawan. Karena saat ini lembaga layanan publik dituntut untuk transparan. Sudah waktunya kita harus responsive terhadap hal semacam ini. Kita bisa berkomunikasi anytime tanpa ada unsur kepatutan dan lain sebagainya”, ujar Plt Dirjen Bimas Islam, Abdul Djamil.
 
Lebih lanjut Djamil mengatakan bahwa Kegiatan semacam ini merupakan respon atas peningkatan tata kerja dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat. Ini mencerminkan responsibilitas dan dinamika agar Bimas Islam tidak tertinggal dengan dinamika yang terjadi di tengah masyarakat yang tak pernah berhenti.
 
“Dalam konteks direktorat zakat dan wakaf misalnya, dulu masih berdiri sendiri-sendiri, namun saat BAZNAS dan BWI sudah menjalankan tugasnya dengan baik seperti saat ini, maka keberadaan direktorat zakat dan wakaf kurang efisien”, katanya.
 
Oleh karena itu, imbuhny! BWI dan BAZNAS akan semakin mendapatkan kesempatan untuk melakukan aktualisasi dan inovasi supaya lebih berdaya, pada saat yang sama kita melakukan efisiensi. Sementara pada sekretariat, juga muncul bidang baru yang relevan dengan tuntutan masyarakat terhadap layanan Instansi pemerintah.
 
Menurutnya, model komunikasi saat ini juga merubah cara kita berinteraksi dengan orang lain, bahkan lupa nama atau wajah dan hanya bertemu di grup Whastapp. Demikian juga dengan pola komunikasi media saat ini, berbeda dengan dulu. Berita saat ini langsung dirilis saat kejadian bahkan saat momentum masih berlangsung.
 
“Instansi kita saat ini berada di tengah hiruk pikuk rantai pesan seperti itu, bagian Humas harus memahami fenomena tersebut dan tidak boleh tertinggal dari dinamika semacam itu”, pesannya.
 
Selain itu, tambahnya, arus informasi yang menyesatkan saat ini juga tidak kalah dahsyatnya, baik itu berita bohong, provokasi, ujaran kebencian, dan sebagainya, bertebaran dengan demikian bebasnya.
 
“Instansi pemerintah perlu bergerak cepat dalam merespon fenomena tersebut. Makna dakwah saat ini juga telah mengalami pergeseran. Dakwah di mimbar-mimbar telah digantikan oleh pengemasan secara online, baik yang sekadar hiburan, kajian  serius hankan hingga yang cukup mengkhawatirkan”, tutupnya.
 
(thobib/bimasislam)