Nikah di KUA GRATIS, di luar KUA membayar Rp 600 rb, disetorkan langsung ke Bank ZONA INTEGRITAS KUA, tolak GRATIFIKASI dan KORUPSI. Laporkan jika terbukti! Waspadai penyebaran paham keagamaan menyimpang, awasi lingkungan! Bayarkan zakat anda melalui BAZNAS maupun LAZ yang berizin!
BERITA
15 Tahun Menjadi PAH, Munawar Sanusi Setia Mengabdi
  • Wednesday, 23 March 2016 | 13:37
  • berita
Sukabumi, bimasislamKecamatan Ciracap ditempuh sekitar 30 menit dari Pantai Ujung Genteng. Mewadahi 9 desa, Kecamatan ini memiliki beberapa keindahan alam, diantaranya batu alam, pantai pangumbahan dan juga perkebunan. Terdapat 9 orang penyuluh agama Islam, dimana 8 diantaranya adalah honorer.

15 tahun sudah Munawar Sanusi menjadi Penyuluh Agama Islam Honorer di Desa Ciracap Kecamatan Ciracap, Sukabumi, Jawa Barat. Meneruskan kiprah sang ayah yang juga seorang penyuluh, Kang Anwar memulainya dengan penuh dedikasi. Tanpa dukungan fasilitas yang memadai, ia tak patah semangat memberi bimbingan agama kepada 2000 penduduk Ciracap. Selama itu pula, ia bahu membahu bersama para tokoh agama membangun masyarakat yang agamis.

Ditemui bimasislam di kediamnnya, lelaki kelahiran 1974 ini tengah berdiskusi dengan beberapa pegawai KUA Ciracap. Menurutnya, diskusi semacam ini biasa ia lakukan, membahasa isu-isu seputar keagamaan di wilayahnya. Sebagai penyuluh agama, selain membina keagamaan, ia dan para penyuluh lainnya juga aktif dalam kegiatan pemerintahan dan sosial kemasyarakatan.

“Hubungan umaro dan ulama di sini alhamdulillah berjalan beriringan, saling menguatkan. Terkadang kami ikut turun untuk penyuluhan selain agama yang dilaksanakan pemerintah kecamatan. Ini bukti bahwa penyuluh agama itu sentral dalam bermasyarakat,” tuturnya penuh optimis.

Disinggung motivasinya menjadi penyuluh agama honorer, ayah dua orang putri ini berkeyakinan bahwa jalan dakwah harus ditempuh, apapun cara dan lembaganya. Menjadi penyuluh agama baginya satu kesatuan dengan misi dakwah yang turun temurun dilakukan sejak kakeknya dahulu. Ketika berdakwah, tak ada yang dirasa berat, karena dakwah itu sendiri adalah ibadah yang membuatnya bahagia.

“Saya tidak berfikir keluar sebagai PAH. Ini amanat, tempat saya mengabdikan diri kepada umat dan negara, juga media aktualisais diri. Masih banyak hal yang ingin saya capai sebagai PAH,” ujarnya sengan penuh semangat.

Ada sebuah pandangan holistik yang ia temukan selama perjalanan sebagai PAH. Menurutnya, untuk membangun masyarakat secara komperehensif, masyarakat harus terbiasa dengan tarbiyah ruhiyah dan tarbiyah rupiah. Secara ruhiah, agama dan nilai-nilai harus terinternalisasi secara baik dan sehat, sehingga terbangun pribadi muslim yang moderat dan saleh sosial maupun individual. Adapun tarbiyah rupiah, bahwa masyarakat harus juga memiliki ketahanan material untuk mendukung program keagamaan. 

“Ibadah kita harus khusyu’, tertib dan berkualitas. Tapi jangan lupakan bekerja dan mencari nafkah, karena itu juga bagian dari upaya meraih ibadah yang berkualitas,” pungkasnya.

Anwar berharap, perubahan regulasi tentang penyuluh agama Islam dapat memperkuat perannya dalam sistem sosial bermasyarakat. Karena seorang penyuluh tidak sebatas petugas negara, melainkan juga penjaga umat yang meneruskan dakwah para nabi. (kangjeje-tom/foto:bimasislam)