Fiqih (Munakahat)

Pernikahan

Assalamualaikum,
Saya ingin bertanya ttg bagaimana mengatasi masalah ini menurut agama Islam. Saya ingin menikah dengan seorang sahabat yang satu tahun yg lalu menjadi mualaf atas kemauannya sendiri. Saya dan bbrp teman saya mengajarkan dia ttg Islam selama setahun ini dan karena kami semakin akrab, akhirnya kami menjadi saling tertarik dan memutuskan untuk menikah. Tapi, orangtua saya tidak menyutujui ini. Ibu saya tidak setuju karena orgtua dia bukan Muslim dan salah satu syarat untuk saya bisa menikah Dengan dia adalah orgtuanya harus masuk Islam. Dia sendiri selalu berda'wah Kepada keluarganya sejak awal dia masuk Islam, tapi kami tahu kalau ini akan memakan waktu dan membutuhkan kesabaran.
 
Menurut Ibu saya, ada hadits yg menyatakan bahwa utk menikahi seseorang, sebaiknya keluarganya dari keluarga yg baik. Menurutnya, agama Islam satu2nya syarat. Bagaimana pendapat agama Islam ttg ini? Apakah ada hadits trsb? Argumen valid apa (dari hadits atau quran) yg bisa saya sampaikan ke Ibu saya? Apakah saya bisa menikah dgnnya melalui wali dari KUA, misalnya? (kalau semua keluarga saya tidak menyutujui) Terimakasih.
Wasslam

H

TanyaHamba Allah (Bandung)

Asalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
Saudara/i yang dirahmati Allah...
Kami ucapkan terimakasih atas kesediaan Saudara berkonsultasi dengan kami...
Jawaban dari pertanyaan Saudara adalah sebagai berikut:
 
Menikah dalam Islam sangat mempunyai peran penting dalam membangun suatu tatanan sosial kemasyarakatan. Islam menetapkan berbagai macam tuntunan dan ajaran agar tujuan kita membangun rumah tangga sesuai dengan harapan dan kebaikan di dunia dan akherat. Islam mengajarkan kita, mencari calon pasangan dengan 4 kreteria ideal: Agama, harta, ketampanan/kecantikan dan keturunan serta mengajarkan agar kita memilih kriteria utama adalah dari sisi Agama pasangan tersebut karena itulah yang dapat menjadi kendali atas problematika rumah tangga di kemudian hari.
 
Dalam membangun rumah tangga, Islam sangat memperhatikan peran orang tua sebagai wali atas anak perempuannya yang akan menjalin pernikahan. Calon pasangan (suami) anaknya merupakan sosok penerima amanat dan tanggun jawab dalam menjaga anaknya. Tiada orang tua yang rela memberikan tanggung jawab tersebut kepada orang yang tidak layak terlebih lagi tidak mempunyai track record yang jelas. Sebagai wali nikah, orang tua harus selektif memberikan dan menyerahkan amanat tersebut.
 
Berbanggalah saudari mempunyai orang tua dan tetaplah berbakti kepada keduanya terutama saat menjalin hubungan rumah tangga. Rumah tangga harus dibangun atas kepercayaan dan pengertian satu sama lain tidak ada hal yang ditutup-tutupi. Keinginan baik saudari dalam menikah jangan dinodai dengan langkah yang salah melanggar ketaatan kepada orang tua.
 
Telah dilakukan segala bentuk ikhtiar, istikhoroh, doa dan usaha dengan penuh harapan kebaikan dari Allah atas niat saudari menikah dengan mualaf tersebut dihiasi bunga-bunga kesabaran tanpa tergesa-gesa. Berusaha dan yakinkanlah bahwa pasangan saudari layak menjadi pemimpin bagi anaknya.
Bukti-bukti yang mendukung benar-benar seorang yang komit dan konsisten terhadap Islam nampak dalam prilaku kesehariannya, simbol-simbol amanah kepemimpinan telah hadir dalam prilaku dan akhlaknya. Sehingga saudari punya alasan kuat untuk menjalin pernikahan dan memperkenalkan kepada
orang tua.
 
Ketika saat dan kondisi itu hadir dalam calon pasangan saudari, silahkan saudari datang meminta restu kepada orang tua dengan mengingatkan akan sabda Nabi saw yang diriwayatkan oleh Attirmidzi, Ibnu Majah dan Baihaqi: “Jika datang untuk meminang seseorang yang engkau ridhoi agama dan akhlaknya maka nikahkanlah, bila tidak dikhawatirkan terjadi fitnah di dunia atau kerusakan yang meluas.”
 
Demikian Jawaban dari kami. Waalhu a'lam bisshawwab.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
TIM Konsultasi Syariah Ditjen Bimas Islam
.

B

JawabBimas Islam