Fiqih (Waris)

Pembagian Warisan

Bapak/Ibu Yth.,
Kami 4 bersaudara (seorang wanita dan tiga orang pria), kedua orang tua sudah lama meninggal dunia. Anak kedua (pria) belum lama meninggal dunia, almarhum meninggalkan Seorang isteri dan 3 orang putri. Kami mohon penjelasan mengenai pembagian waris yang benar dengan contoh warisan Rp. 225.000.000,-
Terima kasih, Wassalam

H

TanyaHamba Allah (Jakarta)

Asalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
Saudara/i yang dirahmati Allah...        
Jawaban dari pertanyaan Saudara/i adalah sebagai berikut:
 
Yang harus didahulukan pada setiap adanya kematian dalam kelurga  menurut Ilmu Al-Mawarits adalah "Penentuan Hak Waris sebelum Pembagian Harta Warisan", (At-Taqsim Qabla At-Tawzi'). Dari data yang bapak berikan, ada 3 mayit dalam keluarga bapak, Kami perlukan data mayit pertama dan kedua, Dan untuk "Penentuan" Hak Waris dari si mayit III, adalah sebagai berikut:
- Istri simayit: 1/8 (QS An-Nisa 12) karena ada 3 orang anak perempuan
- 3 Anak perempuan simayit:  2/3 (QS An-Nisa: 11) karena tidak ada anak laki-laki dan mereka 2 orang atau lebih.
 
Sisa menjadi hak waris 2 saudara kandung simayit dan 1 saudari kandung simayit dengan ketentuan 2 banding 1 (QS An-Nisa 176), jadi:
- Saudara kandung 1: 2/5 x sisa istri dan 3 anak perempuan si mayit
- Saudara kandung 2: 2/5 x sisa istri dan 3 anak perempuan si mayit
- Saudari kandung 1: 1/1 x sisa istri dan 3 anak perempuan si mayit
 
Setelah "Penentuan Hak Waris" dilaksanakan berarti sudah berpindah kepemilikan dari simayit kepada ahli waris yang paling berhak sesuai dengan hak masing-masing.
 
Selanjutnya dalam "Pembagian Harta Warisan" tersebut (setelah 'Penentuan Hak Waris') dibagi sesuai dengan hak waris diatas,  dan diperbolehkan melakukan kesepakatan dalam pembagian harta milik si mayit, baik dibagi sesuai ketentuan tersebut dengan menjual aset harta kemudian di bagi
sesuai ketentuan diatas, ataupun bersepakat dengan cara lainnya. Namun kesepakatan para ahli waris dianjurkan sekali dalam bentuk tertulis dan dengan 2 saksi (QS Al-Baqarah: 282). Kesepakatan yang diambil setelah proses penentuan bukan lagi tatanan Mawarits (Waris Islami) namun hal itu masuk dalam tatanan hadiah sesama ahli waris, dengan 'Ikrar Hadiah' sesame ahli waris, dalam bahasa fiqh nya disebut dengan Takharuj.
 
Demikian Jawaban dari kami. Wallahu a'lam bisshawwab.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
TIm Konsultasi Syariah Ditjen Bimas Islam
.

B

JawabBimas Islam