Fiqih (Munakahat)

Bab Nikah Tentang Mahar

Assalamualaikum.. dalam aqad nikah harus ada syarat - syarat yg harus di laksanakan....salah
satunya adalah mahar(maskawin). yang aku tanyakan.. Bolehkah menyebutkan mahar dengan Kata kontan, sedangkan maharnya tidk ada di depan mempelai berdua.? mohon jawabannya dengan disertai dalil... trima kasih.. Wassalamualaikum

H

TanyaHamba Allah (Jakarta)

Asalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...
Saudara/i yang dirahmati Allah...
Kami ucapkan terimakasih atas kesediaan Saudara berkonsultasi dengan kami...
Jawaban dari pertanyaan Saudara adalah sebagai berikut:
 
Mahar adalah pemberiaan yang wajib diberikan dari calon suami kepada calon istri sebagai ketulusan hati calon suami, baik berbentuk uang, barang atau jasa yang tidak bertentangan dengan hukum islam. Mahar termasuk keutamaan agama Islam dalam memuliakan dan melindungi kaum wanita dengan memberikan hak yang dimintanya dalam pernikahan berupa mahar kawin (maskawin) yang besar kecilnya ditetapkan atas persetujuan kedua belah pihak karena pemberian itu harus diberikan secara ikhlas. Para ulama fiqih telah bersepakat bahwa mahar wajib diberikan oleh suami kepada istrinya baik secara tunai (kontan) maupun secara tempo, pembayaran mahar harus sesuai
dengan perjanjian yang terdapat dalam akad pernikahan.
 
Allah SWT berfirman:
“Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri)diantara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban.” (QS. An Nisa: 24)
 
Adapun Macam-Macam Mahar ialah sebagai berikut:
1. Mahar Musamma
Ialah mahar yang sudah disebut atau dijanjikan kadar dan besarnya ketika akd nikah. Ulama Fiqih sepakat bahwa pelaksanaannya, mahar musamma harus diberikan secara penuh apabila:
a. Kalau sudah benar-benar disengggamai
b. Apabila salah satu dari suami/istri meninggal dunia
2. Mahar Mitsli (sepadan)
Yaitu mahar yang seharusnya diberikan kepada perempuan atau diterima oleh perempuan, sama dengan perempuan lainnya, umurnya, kecantikannya, hartanya, akalnya, agamanya, kegadisannya, kejandaannya dan negerinya sama ketika akad dilangsungkan.
Mahar mitsli diwajibkan dalam tiga kemungkinan:
a. Dalam keadaan suami tidak ada menyebutkan sama sekali mahar atau jumlahnya
b. Suami menyebutkan mahar musamma, namun mahar tersebut tidak memenuhi syarat yang ditentukan atau mahar tersebut cacat seperti maharnya adalah minuman keras.
c. Suami ada menyebutkan mahar musamma, namun kemudian suami isteri  berselisih dalam jumlah atau sifat mahar tersebut dan tidak dapat diselesaikan.
 
Mahar Tunai dan Kredit
Dalam fiqih Islam mahar dipandang sebagai hak yang wajib diberikan kepada istri, hanya saja suami tidak harus segera menyerahkannya pada saat suksesnya akad nikah. Akan tetapi boleh menurut kesepakatan, apakah tunai seluruhnya atau utang seluruhnya, atau dibayar sebagian dan utang sebagian
(kredit). Jika mahar disebutkan secara muthlaq dan kedua belah pihak tidak ada kesepakatan tunai, utang atau kredit, keputusan kembali kepada ‘urf (kebiasaan) di negeri tersebut.
 
Maka, dalam hal ini menyebut mahar dengan kata “Kontan” (dalam kalimat ijab qobul) sedangkan maharnya tidak ada secara fisik dihadapan kedua mempelai tetapi maharnya memang benar ada wujudnya, tidaklah mengapa, diperbolehkan dan akad nikahnya tetap sah. Asalkan maharnya memang
benar-benar ada/dipersiapkan dan telah diketahui/disepakati oleh kedua mempelai, serta calon suami akan membayarkan maharnya secara kontan/tunai bukan dibayar utang.  Beda halnya jika dibayar “Utang”, calon suami memang belum memiliki maharnya, dan calon suami harus melunasi utang maharnya sesuai dengan kesepakatan, jika calon suami menyebutkan waktu tertentu, misalnya satu tahun setelah pernikahan, maka utang mahar tersebut harus dibayar persis setelah satu tahun waktu pernikahan. Karena pada dasarnya mahar tidak harus segera diserahkan pada saat suksesnya akad nikah. Mahar boleh tidak disebutkan pada saat akad, atau mahar tidak harus disebutkan secara detail. Akan tetapi sangat dianjurkan untuk menyebut mahar ketika akad agar tidak terjadi perselisihan dalam
keluarga nantinya. Salah menyebut mahar tidak mempengaruhi keabsahan akad nikah, yang penting nikah harus ada maharnya.
 
Demikian Jawaban dari kami. Waalhu a'lam bisshawwab.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
TIm Konsultasi Syariah Ditjen Bimas Islam
.

B

JawabBimas Islam