TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Syafiq Hasyim: Cegah Konten Pornografi dan Radikalisme dengan Edukasi!
Monday, 09 January 2017 | 07:50
thobib al-asyhar
Berita

Jakarta, bimasislam—Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP) Syafiq Hasyim mengatakan, untuk menekan laju konten pornografi dan radikalime pemerintah harus menggunakan cara baru yang lebih permanen yaitu dengan melakukan edukasi kepada editor dan pemilik situs website.
 
“Menurut saya pemerintah tidak perlu capek-capek memblokir situs, ada hal yang lebih penting dilakukan yaitu memberikan edukasi kepada para editor agar tidak lagi mengisi konten pornografi dan radikalisme, minimal mengurangi sedikit demi sedikit”, kata Syafiq saat menjadi salah satu panelis Focus Group Discussion (FGD) tentang Strategi Penanggulangan Masalah Internal Umat Islam yang diselenggarakan oleh Ditjen Bimas Islam, di Gedung Kementerian Agama, Jl. MH Thamrin, Jakarta (31/10).
 
Syafiq mencontohkan langkah yang dilalukan beberapa negara di Eropa, menurutnya di negara maju justru para pemilik situs website lah yang menjadi perhatian pemerintah untuk mengontrol konten, dan bukan fokus penutupan karena akan sia-sia.
 
“Di Eropa itu tidak ada penutupan karena akan sia-saia, hari ini kita tutup besok sudah ada lagi dengan alamat yang lain”, ungkap lulusan Leiden University ini.  
 
Masalahnya adalah, lanjut Syafiq, di Indonesia alamat dan pemilik situs tidak jelas sehingga akan sangat sulit untuk melakukan kontrol menyeluruh. “Kalau di negara maju jelas dimana alamat pemilik situs, jumlahnya juga tidak sebanyak di Indonesia, disini kita susah karena tidak terdaftar di pemerintah”, ujarnya.
 
Dr. Phil dari Freie University, Berlin ini juga menegaskan bahwa ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) memiliki peran strategis dalam penyelesaian masalah umat Islam. Ketiga Organisasi itu dinilai sebagai asset berharga bangsa Indonesia.     
 
"Ada yang mengatakan, apalah jadinya jika Indonesia tidak ada NU, Muhammadiyah, dan MUI. Ketiga ormas Islam itu telah berperan sangat positif dalam menjaga bangsa kita. Ketiganya merupakan aset yang harus dijaga". tegasnya.
 
Beberapa tema dibahas dalam FGD, diantaranya masalah Peta Ormas Keagamaan Islam dalam Merespon Isu-isu Aktual Umat, Peran Pers Islam dalam Menjaga Kerukunan Umat, serta Peta dan Strategi Penanggulangan Radikalisme di Media Sosial.
 
Hadir beberapa tokoh muda seperti Ketua Lakpesdam PBNU Rumadi Ahmad, Pengurus Majelis Ulama Indonesia Cholil Nafis, Wartawan Senior Gatra Asrodi S Karni, Perwakilan Muhammadiyah Usman Yatim, Peneliti muda Badan Litbang Kementerian Agama, Abdul Jamil Wahab, dll.
 
(syam/bimasislam)