TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Perlu Kampanye Terus Menerus Tolak Radikalisme
Friday, 06 January 2017 | 14:08
sigit
Berita

Semarang, bimasislam— Radikalisme berbasis agama telah ada sejak zaman dahulu. Gerakal radikal bahkan sudah ada sejak zaman awal penyebaran Islam dengan munculnya kelompok yang dikenal dengan sebutan ‘khawarij’. Fenomena radikalisme juga terjadi di tanah air dan menimbulkan kerugian bagi bangsa Indonesia, baik materi maupun sosial.
 
Demikian disampaikan oleh ketua PWNU Jawa Tengah Abu Hafsin dalam sebuah talkshow beberapa waktu lalu. “Sikap dan karakter penganut paham radikal zaman dulu, persis dengan orang-orang radikal yang hidup pada zaman sekarang," terangnya.
 
Di Provinsi Jawa Tengah, pihak Kanwil Kementerian Agama setempat telah melakukan pemetaan daerah-daerah yang perlu mendapat perhatian khusus terkait fenomena radikalisme tersebut. Bidang Bimas Islam Jawa Tengah juga terus berkoordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk organisasi massa Islam untuk mengkampanyekan gerakan anti radikalisme.
 
Menurut data yang berhasil dihimpun tim bimasislam di Jawa Tengah, kampanye anti radikalisme terus digalakkan oleh sejumlah instansi di provinsi yang menjadi salah satu pintu masuknya Islam di pulau Jawa itu. Awal tahun ini saja, sejumlah acara bertema menolak radikalisme marak di berbagai tempat di Jawa Tengah. Tanggal 18 Februari, sebuah talkshow bertajuk “Menggugat Paham dan Perilaku Radikalisme” digelar di di aula MA YSPIS Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang. Talkshow itu menghadirkan pembicara dari Ormas Nahdhatul Ulama dan Kejaksaan Negeri Rembang.
 
Sementara itu, tanggal 26 Februari, ribuan pelajar memadati alun-alun Kendal, Jawa Tengah. Pada kesempatan apel akbar yang dipimpin Kepala Polisi Daerah Jawa Tengah (Kapolda) Irjen Polisi Noer Ali itu, para pelajar membacakan deklarasi yang berisi penolakan terhadap paham radikalisme di tanah air karena bertentangan dengan UUD 1945 dan Pancasila.
 
Selain itu, organisasi kepemudaan juga tak ketinggalan peran, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang, Hanies Cholil Barro, juga menghimbau para pengurus untuk lebih aktif dalam menghadapi propaganda yang merongrong NKRI dan Pancasila.
 
Sebuah kegiatan bertema “Kemah Bakti Kebangsaan dan Apel Kesetiaan NKRI juga di gelar di halaman Makodam IV Diponegoro, Semarang. Kemah kebangsaan itu diikuti oleh 700 anggota Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Banser, serta 300 anggota TNI dan Polri seprovinsi Jawa Tengah yang sepakat untuk menangkal aksi radikalisme, terorisme dan semua hal yang mengancam NKRI.
 
Kampanye untuk menolak radikalisme agama ini menjadi tren di berbagai tempat di Jawa Tengah. Diharapkan kampanye yang terus menerus ini dapat melindungi generasi muda dari paham dan sikap keagamaan yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45.
 
(alatif-bowo/bimasislam)