TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Kakanwil Ingatkan Tokoh Agama Jangan Jadi Provokator
Monday, 28 August 2017 | 15:21
sigit
Berita

Palangka Raya, bimasislam—Kerukunan adalah pilar terpenting dalam mewujudkan ketahanan nasional. Itu adalah prasyarat mutlak terselenggaranya pembangunan nasional yang berkelanjutan.
 
Karena itu, tokoh agama harus senantiasa mengajak umatnya agar selalu hidup rukun baik di internal agamanya, antar umat beragama maupun dengan pemerintah.
 
“Tokoh agama itu harus mendamaikan umat, bukan justru menjadi provokator, mengompor-ngompori umat untuk membenci penganut agama lain, membeci suku yang berbeda ataupun membeci pemerintah.Jadi provokator itu tidak ada untungnya, justru kerugian yang akan diderita,” ucap Kakanwil saat membuka Orientasi Peningkatan Kerukunan Umat Beragama di aula Asrama Haji Al-Mabrur Palangka Raya, Rabu (23/8/2017) malam.
 
Dikatakan Kakanwil, akhir-akhir ini media sosial banyak dimanfaatkan untuk menebar kebencian, menebar fitnah dan berita-berita hoax. Parahnya diindikasi ada beberapa orang yang dianggap tokoh agama turut menyebarkannya.
 
“Kita harus bijak menggunakan media sosial, jangan asal share. Lihat dulu konten beritanya, validitas datanya. Apakah hoax atau tidak. Jangan asal dishare. Sebab kalau tokoh yang membaginan umat akan langsung percaya,” ucapnya.
 
Ditegaskan Kakanwil, keragaman yang terjadi dinegeri ini adalah sunatullah atau ketentuan Allah. Kebinekaan suku, agama, ras, bahas dan budaya adalah desain Illahi yang harus dirawat, dijaga dan dipelihara karena tentu banyak tersimpan hikmah dan kebaikan bagi kehidupan manusia itu sendiri.
Karena itu, Kakanwil mengajak para tokoh agama untuk menjadi teladan, panutan dan terus mengajak umat beragama untuk senantiasa menjunjung tinggi budaya saling menghormati, menyayangi, toleransi dan kebersamaan. Sehinga harmoni keberagaman di negeri ini akan terus terjaga.
 
Sementara Kasubbag Hukum dan KUB, Sujono melaporkan, orientasi selama tiga hari, 23-25 Agustus 2017 itu diikuti 40 peserta perwakilan semua agama di 14 kabupaten/kota se-Kalteng. Kegiatan itu digelar untuk meningkatkan kualitas kerukunan di Bumi tambun Bungai, Provinsi Kalteng ini.
 
(rf/inmas)