TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Bentuk Tim Cyber, Bimas Islam Siap Perang Lawan Narkoba dan Radikalisme!
Friday, 06 January 2017 | 14:06
sigit
Berita

Jakarta, bimasislam— Dalam rangka melakukan pencegahan terhadap bahaya narkoba dan radikalisme yang terus menyebar melalui konten media, Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama membentuk tim cyber anti narkoba dan radikalisme. Tim Cyber sendiri berada di 33 provinsi seluruh Indonesia.
 
Dirjen Bimas Islam, Machasin mengungkapkapkan bahwa proses  rekruitmen anggota tim sudah dilakukan pada akhir Maret lalu. Untuk menegaskan peran dan fungsi tim tersebut Ditjen Bimas Islam menggelar Rapat Koordinasi Nasional Tim Cyber di Jakarta.
 
“Semestinya gerakan ini sudah kita lakukan sejak dulu. Sudah ratusan ribu situs internet yang isinya bibit-bbit atau benih-benih penyebaran faham radikal yang berpotensi memecah belah umat. Meski terlambat langkah ini penting sebagai bentuk partisipasi mencegah peredaran narkoba dan radikalisme”, terang Machasin, Senin (13/6) saat membuka Koordinasi Nasional Tim Cyber Anti Narkoba dan Radikalisme Bimas islam Tahun 2016 di Jakarta.  
 
Dikatakan Macashin, bahaya informasi tentang narkoba dan radikalisme yang terus mengancam sendi-sendi kehidupan bernegara, terutama masa depan generasi bangsa. Untuk itu, Kementerian Agama melalui Ditjen Bimas Islam bergerak cepat dengan membentuk Tim Cyber Anti Narkoba dan Radikalisme.
 
Machasin menegaskan, setidaknya dibutuhkan dua perangkat dalam sistem kerja Tim Cyber agar benar-benar dapat menghasilkan imbangan bagi publik. “Pertama adalah bahan untuk mengimbangi dan kedua ada petugas yang menyebarkan via media sosial. Bahan penyeimbang yang dimaksud akan disediakan oleh pusat. Sementara  PIC masing-masing Kanwil seluruh Indonesia yang bertanggung jawab menyebarkannya”. urai Guru besar UIN Sunan Kali Jaga ini. 
 
Selain narkoba dan radikalisme, tim juga diharapkan memerhatikan bahaya pornografi. Machasin  mengaku prihatin atas peristiwa kekerasan seksual dibeberapa daerah akhir akhir ini. “Kasus perkosaan di Bengkulu itu sangat keji, tidak manusiawi. Intinya  pornografi membuat pikiran rusak, lawan jenis dianggap obyek bukan manusia yang perlu dihormati,” tandasnya.
 
Diakhir sambutannya, Machasin berhadap agar ruang publik dapat diisi dengan konten yang positif. “Ketika ada banyak orang baik diam, maka ruang publik akhirnya dikuasai oleh orang yang kurang baik oleh karena itu kita harus melakukan sesuatu sesuai dengan tanggungjawab kita”, pungkasnya. .
 
Koordinasi nasional tim cyber sendiri diikuti oleh 99 peserta yang terdiri dari para Kabid Penerangan Agama Islam, Zakat dan Wakaf (Penais Zawa) se-Indonesia, ASN Kemenag yang ditunjuk sebagai person in charge (PIC), ASN Kementerian Komunikasi dan Informasi, MUI, BNN, serta utusan ormas Islam NU dan Muhammadiyah.
 
Selama tiga hari peserta akan dibekali materi dari para ahli, diantaranya pakar narkoba dari BNN, mantan pimpinan Jamaah Islamiah Asia Tenggara, Abdurrahman Ayyub, Deputi Pencegahan BNPT, dan Pimpinan Pesantren al-Inabah, pesantren yang terkenal dengan rehabilitasi pengguna narkoba.
 
(syam/bimasislam).