TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Saatnya Sinergi Tangkal Bahaya Pornografi
Thursday, 22 September 2016 | 10:42
thobib al-asyhar
Artikel

Thobib Al-Asyhar
 
Di era keterbukaan informasi yang semakin pesat saat ini, kita menyaksikan betapa telah terjadi pergeseran nilai-nilai sosial keagamaan pada semua sendi kehidupan, khususnya terkait dengan norma sosial. Ketika dahulu apa yang kita sebut sebagai hal yang tabu, kini sudah menjadi hal yang biasa. Pergaulan bebas, kumpul kebo (samenleven), perselingkungan, industri seks (seks komersial), porstitusi online, aborsi remaja, perkawinan sejenis, pemerkosaan, dan semacamnya telah menjadi fenomena masyarakat kita yang tak terbantahkan. Jika kondisi tersebut terus kita biarkan, maka pada titik tertentu bangsa kita akan mengalami kehancuran generasi sebagaimana era Jahiliyyah sebelum Islam datang.
 
Seorang futurolog pernah mengatakan, bahwa perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat merubah situasi dimana sesuatu yang awalnya awalnya sakral mejadi profan. Contoh yang dapat diungkapkan disini adalah bahwa pada zaman sebelum adanya revolusi media, nilai ”kegadisan” seorang wanita dipandang sebagai hal yang sakral, suci, dan memiliki watak kesalehan asli seorang muslimah.
 
Bagaimana dengan saat ini? Meskipun diantara masyarakat kita masih ada yang memandang penting hal tersebut, namun terdapat kecenderungan masyarakat kita yang memandang ”kegadisan” wanita sebagai hal individu dan tidak penting dianggap sebagai tolok ukur keaslian atau kesucian. Disamping alasan kebebsan individu yang diajarkan oleh media pop, juga bercampur dengan unsur ideologi hedonisme. Akibat dari pandangan ini, maka praktik perzinahan dan pergaulan bebas, baik kalangan dewasa, kaum remaja, bahkan anak-anak, semakin memprihatinkan.
 
Tentu, jika kita mencari benang merah dari fenomena masyarakat yang semakin permisif tersebut tidak dapat dilepaskan dari pengaruh budaya Barat yang menganut kebebasan tanpa batas nilai melalui kampanye budaya hedonisme di media massa. Dengan berbekal penguasaan media di semua lini kehidupan, budaya Barat masuk di ruang-ruang privat keluarga muslim yang memiliki seperangkat aturan dan nilai Islam. Dengan kekuatan kapital dan penguasaan teknologi yang canggih, media Barat dengan leluasa mempengaruhi cara pandang, sikap, dan perilaku masyarakat muslim.
 
Sebagai bangsa besar dan mayoritas umat Islam, bangsa Indonesia bersyukur telah memiliki filter dan aturan yang dapat menjaga nilai agama dan norma sosial dari ancaman pornografi dan pornoaksi. Perkembangan teknologi informasi merupakan keniscayaan sejarah yang tidak dapat kita hindarkan dengan berbagai efek buruknya. Demikian juga resiko pengaruh budaya luar yang juga tidak dapat ditolak.
 
Oleh karena itu, dalam kapasitas sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan bangsa, kita harus mendukung Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi sebagai upaya untuk menjaga masyarakat dari ancaman kerusakan massif dari pornografi. Karena pornografi adalah pintu dimana kehormatan manusia mulai tergerus oleh hawa nafsu yang dapat merusak dan menghancurkan peradaban tertinggi. Jika peradaban manusia diperoleh melalui puncak prestasi intelektual dan kesalehan akhlak, maka pornografi sebagai celah dari titik balik penghancurnya.
 
Kesadaran akan pentingnya menjaga masyarakat dari pengaruh pornografi harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan kita. Bahwa pengaruh luar sangat intensif mempengaruhi kita, namun jika kapasitas pribadi kita kuat, mengerti akan wilayah yang harus dijaga dari pengaruh luar, maka justru akan menjadi pribadi yang tangguh.  Tugas Kementerian Agama dalam pembangunan bidang agama harus menarik jarak yang tegas bahwa pornografi haram di negeri ini. Minimal sebagai pegawai Ditjen Bimas Islam perlu menjadi pioneer penyebarluasan Undang-undang Pornografi, serta menjadi teladan di lingkungan masing-masing.
 
Jika kita menengok ke belakang, kemunculan Undang-undang tersebut sempat mengundang kontroversi dan mungkin mengandung kelemahan-kelemahan. Namun demikian, Undang-undang ini merupakan terobosan yang cukup maju untuk menutup maraknya pornografi, khususnya melalui media online dan elektronik. Dengan adanya Undang-undang ini diharapkan masyarakat Indonesia memiliki benteng agar masyarakat dapat terjaga dari pengaruh negatif pornografi. Meskipun tekanan pornografi diperkirakan tidak akan pernah habis untuk menggempurkan nilai agama dan norma sosial dengan berbagai kepentingannya, seperti ekonomi, politik, dan ideologi, akan tetapi dengan adanya Undang-undang ini dapat menjadi semacam penawar yang diharapkan meminimalisir dampak buruknya.
 
Menyikapi hal tersebut, Kementerian Agama, khususnya Ditjen Bimas Islam harus mengambil peran melalui berbagai program/kegiatan yang secara nyata dapat meningkatkan kekebalan iman dan takwa umat. Program Maghrib Mengaji yang pernah digagasa oleh Menag sebelumnya perlu mendapat perhatian agar terus berjalan, demikian juga program-program lain untuk meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai agama dengan mengerahkan semua potensi yang ada.
 
Di lingkungan Bimas Islam memiliki unsur atau instansi vertikal yang dapat mendukung semua itu, seperti kantor KUA dengan perangkat Penyuluh Agama Islam yang dapat membimbing, membina, dan memberdayakan masyarakat untuk mencapai peradaban yang maju dan berakhlak mulia. Demikian juga terdapat penghulu yang bisa aktif memberikan pencerahan kepada calon-calon pengantin atau para remaja agar sadar akan bahaya pornografi.
 
Demikian juga Bimas Islam memiliki mitra strategis yang dapat diberdayakan, seperti Ormas Islam, media Islam, Majelis Taklim, para muballigh dan dai, serta tokoh-tokoh umat Islam yang dapat diajak bersinergi dalam menanggulangi bahaya pornografi. Semua itu bisa dilakukan dengan baik selama semua pihak memberikan porsi yang cukup melalui fokus dan kesungguhan yang maksimal. Sebelum semuanya terlambat, generasi kita rusak dan hancur akibat pornografi, maka saatnya kita harus ambil peran. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?
 
Thobib Al-Asyhar
Kasubag Sistem Informasi dan Dosen Pascasarjana Universitas Indonesia