TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Penanggulangan Radikalisme di Media Online
Thursday, 22 September 2016 | 10:04
thobib al-asyhar
Artikel

Asori S Karni
 
Perkembangan teknologi informasi melalui media online berkembangan sangat cepat. Tak terkecuali pahama-paham keagamaan radikal di Indonesia tumbuh subur. Mereka bebas berekspresi memanfaatkan politik keterbukaan informasi yang bergulir sejak awal reformasi, enam belas tahun terakhir. Bangkitnya era new media berbasis internet yang konvergen, semarak jaringan media sosial, karakter komunikasi yang makin cepat dan interaktif, menciptakan iklim makin kondusif bagi tumbuh kembang situs-situs radikal berbasis paham keagamaan.
 
Di samping konteks eksternal tersebut, dinamika internal kelompok-kelompok agama radikal, yang salah satu cirinya rentan mengalami friksi internal, juga membuat jumlah dan variasi situs radikal semakin banyak. Dikarenakan perbedaan dalam menyikapi konflik di Suriah, termasuk munculnya ISIS, misalnya, pengelola situs Islam mengalami perpecahan.
 
Fenomena bermunculannya situs radikal dan penyebarannya melalui media sosial perlu ditangani secara sistematis, terstruktur dan massif. Negara harus hadir, karena ini terkait hajat hidup orang banyak. Perangkat legal policy untuk menangani gejala situs radikal ini selama ini sudah berjalan. Tapi lebih dominan pendekatan bidang Komunikasi dan Informatika serta penindakan hukum dengan pemblokiran sejumlah situs radikal.
 
Dikarenakan situs radikal itu berbasis agama, maka penguatan penanganan berbasis agama juga diperlukan. Dengan demikian, penanganan tidak hanya di hilir, tapi juga di hulu. Penanganan tidak hanya di permukaan, tapi juga di level yang lebih fundamental. Mengingat penduduk negeri ini mayoritas muslim, situs radikal berbasis agama di Indonesia lebih banyak situs radikal berbasis Islam.
 
Kondisi Obyektif
 
Konten situs radikal berbasis agama amat berbahaya. Dalam konteks ancaman terorisme, situs radikal menjadi medium strategis untuk konsolidasi gerakan terorisme, di saat jaringan dan interaksi langsung antar sel teroris semakin tercerai berai akibat operasi anti teror aparat keamanan. Situs radikal menyediakan referensi pemahaman keagamaan yang pro terorisme atas nama jihad. Situs radikal menjadi instrumen indoktrinasi virus terorisme atas nama jihad di saat indoktrinasi langsung saat ini lebih sulit.
 
Proses rekrutmen jejaring teroris atau pengondisian pra rekrutmen banyak terbantu oleh situs-situs radikal berbasis paham keagamaan. Penerimaan publik atas aksi terorisme juga berpeluang dibentuk oleh diseminasi konten situs radikal. Bahkan, petunjuk teknis operasi teror, perakitan senjata dan bom, bisa dipandu secara manual melalui sistus internet. Interaksi dan konsolidasi operasi terorisme melalui jaringan dunia maya lebih fleksibel, personal dan interaktif dalam tempo singkat.
 
Selain aspek terorisme, dalam koteks membangun kehidupan beragama yang berdampingan secara damai, situs radikal menjadi ancaman serius, lantaran sikap intoleran dan ujaran kebencian yang mereka pelihara dan sebarkan. Situs radikal berparadigma pengklaim kebenaran sepihak dan intoleran pada kebenaran anutan pihak lain. Baik antar agama maupun antar aliran seagama.
 
Isu aliran relasi Sunny dan Syrah yang kini tengah memanas kerap dikupas dalam paradigma konflik, bukan paradigma damai. Bahkan, dinamika global di kawasan lain, seperti konflik di Suriah, Yaman dan Irak, dibaca secara simpel sebagai konflik Sunny-Syiah dan dijadikan parameter tunggal untuk mengidentifikasi dan mengadvokasi relasi Sunny dan Syiah di Indonesia. Padahal kontes domestik tak selalu pararel dengan konteks global atau kawasa lain. Situs radikal kerap mamanipulasi konflik di kawasan lain untuk memprovokasi konflik domestik. 
 
Relasi antar agama juga selalu dibaca negatif, dengan paradigma konfrontatif. Masalahnya, kerap kali, setiap momen kontestasi, seperti Pilpres dan Pilkada, kemudian dibaca sebagai ketegangan antar agama.
 
Pola Pendekatan
 
Dalam penanganan situs radikal berbasis agama, ada dua pendekatan yang dapat dilakukan:
 
Pencegahan. Penanganan di hulu. Perlu ditempuh berbagai langkah, yang bersifat lintas sektor dan elemen, kolaborasi kalangan penyelenggara negara maupun non-negara, untuk bersinergi mencegah tumbuh suburnya situs radikal. Literasi internet sehat, berupa edukasi masyarakat agar melek media, khususnya media internet, penting dijadikan gerakan nasional, agar pengaruh situs radikal tidak efektif mempengaruhi kesadaran dan opini publik, dan dalam perkembangannya, situs radikal tidak banyak diminati konsumen. Ini adalah bagian agenda pembinaan, penyuluhan dan pendidikan masyarakat. Bukan hanya masyarakat konsumen internet, juga masyarakat produsen konten internet.
 
Penindakan. Pembinaan saja tidak cukup. Pengelola situs internet umumnya militan. Bila berbagai langkah persuasi, tukar argumentasi dan advokasi tidak membawa perubahan, proses penindakan oleh otoritas harus ditempuh. Baik dengan tindakan administratif, seperti pemblokiran situs, maupun dengan tindakan pidana dengan memproses dalam sistem peradilan pidana.
 
 
LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS
 
Dari paparan di atas, beberapa program aksi penanganan situs radikal berbasis paham  keagamaan yang relevan dengan Kementerian Agama sebagai berikut:
 
Literasi Internet Sehat Berbasis Agama. Program ini berupa edukasi publik yang diprioritaskan pada dua elemen: produsen dan konsumen konten internet. Kepada produsen, didorong untuk memperbanyak konten internet berbasis agama yang sehat, tidak radikal dengan segala ciri minor di atas. Kepada konsumen, didorong untuk tidak mentah-mentah menelan konten situs radikal, cerdas mencerna, cermat memilah dan kreatif memberi respon balik. Program ini dijalankan dengan memaksimalkan seluruh elemen dan jaringan birokrasi di lingkungan Kemenag, berkerja sama dengan berbagai ormas Islam dan lembaga pendidikan Islam. Ribuan penyuluh agama digerakkan sebagai juru literasi internet sehat berbasis agama. Literasi internet sehat anti radikal juga bisa dipesankan dalam taushiyah perkawinan yang banyak dijalankan ribuan penghulu dan KUA.
 
Gerakan Situs Kontra Radikal. Kementerian Agama sedang berupaya bersinergi untuk membuat situs kontra radikal berbasis agama yang dikelola berbagai pihak: seluruh kantor Kemenag se-Indonesia, tingkat pusat, provinsi, kabupaten sampai kecamatan (KUA), puluhan Ormas Islam moderat dan sebagian situs radikal yang berbeda haluan dengan situs radikal lain. Saat ini telah dibentuk Tim Cyber Anti Radikalisme dan Narkoba yang beranggota para penyuluh agama Islam di seluruh Indoensia. Demikian juga di lingkungan Perguruan tinggi telah melakukan langkah-langkah berupa kurikulum anti radikal, begitu pula media massa, organisasi jurnalis, dan Dewan Pers. Gerakan ini bisa menjadi kekuatan dahsyat dalam “perang konten” dunia maya.  
 
MainstreamingOpini Kontra Radikal di Media Sosial. Tidak terbatas situs, jejaring media sosial, seperti facebook, twitter, istagram dan sebagainya, juga peting diperhitungkan sebagai wadah dalam membangun gerakan kontra konten situs radikal. Ciri media sosial, antara lain, berisi percakapan informal yang spontan dan interaktif, dan tak kalah efektif dalam pebentukan opini publik. Agenda ini melibatkan tokoh, individu dan komunitas yang aktif menyampaikan opini di jejaring media sosial. Ini penting untuk memperkaya konten internet berbasis agama yang moderat dan sehat, sebaga counter terhadap pengaruh situs radikal.
 
Gerakan Nasional Islam Ramah di Dunia Maya. Pada akhirnya, seluruh rekomendasi kegiatan di atas, bisa disinergikan sebagai bagian dari sebuah gerakan berskala nasional, untuk mengarusutamakan opini, pemahaman dan informasi tentang Islam yang ramah, moderat, toleran, wasathiyah, dan berbagai karakter non-radikal lainnya, dalam sebuah gerakan yang bisa disebut sebagai “Gerakan Nasional Islam Ramah di Dunia Maya”.
 
Asori S Karni
Jurnalis senior, anggota Komisi Infokom MUI