TIM CYBER ANTI NARKOBA, PORNOGRAFI, DAN RADIKALISME

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI
Langkah Bimas Islam dalam Penganggulangan Radikalisme
Friday, 06 January 2017 | 08:34
thobib al-asyhar
Artikel

Thobib Al-Asyhar

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama memiliki tugas membimbing, melayani, memberdayakan, dan mengembangan masyarakat Islam. Salah satu fokusnya adalah penanggulangan radikalisme yang berbasis pada pemahaman dan keyakinan agama. Berbagai kebijakan telah dilakukan, diantaranya adalah:
 
Pertama, pemberdayaan penyuluh agama Islam, baik yang berstatus PNS yang berjumlah 4000 orang  dan non PNS yang berjumlah lebih75.000 orang di seluruh pelosok nusantara. Mereka diberikan tugas untuk membimbing, membina, dan mengarahkan kepada umat Islam untuk tetap setia kepada Pancasila dan NKRI, dengan membangun kesadaran dan paham Islam rahmatan lil-alamin. Mereka dibekali pedoman atau buku panduan, serta pelatihan tentang bagaimana menyampaikan materi dakwah yang moderat, berpandangan inklusif tehadap keragaman, dan penghormatan terhadap sesama. Setiap penyuluh agama Islam dipastikan memiliki kelompok binaan, seperti Mejelis Taklim, Majelis pengajian mingguan, atau harian, dan semacamnya, sehingga pesan-pesan kedamaian selalu disampaikan.
 
Kedua, pemberdayaan dai atau muballigh moderat melaluiprogram Pembibitan Calon Dai Muda (PCDM) yang diadakan setiap tahun.Pesertayang diikutsertakandari kader-kader dai muda seluruh Indonesia. Mereka dididik selama kurang lebih sebulan dan diberikan materi tentang wawasan kebangsaan, paham-paham Islam moderat, penghormatan terhadap hak asasi manusia, problem solving, dan lain-lain. Selesai mengikuti pelatihan intensif, mereka ditugaskan ke seluruh pelosok nusantara untuk menyampaikan dakwah Islamiyah sesuai dengan karakter bangsa yang lembut, toleran, guyub, dan mengajak kepada mad’u atau obyek dakwah untuk tetap menjaga NKRI dan setia terhadap Pancasila. Program ini merupakan kegiatan unggulan Bimas Islam yang telah mendapat apresiasi dari banyak pihak, sehingga dapat dijadikan sebagai bentuk kehadiran negara dalam pencegahan terhadap munculnya gerakan radikalisme berbasis agama.
 
Ketiga, kemitraan strategisyang melibatkan seluruh elemen masyarakat, yaitutokoh Ormas Islam, Kepolisian, Kejaksaan, Kesbangpol, dan akademisidalam penanggulangan radikalisme berbasis agama. Bimas Islam telah menyelenggarakan kegiatan terkait hal tersebut dengan melibatkan sekurangnya 200 orang pada setiap provinsi dari berbagai elemen masyarakat yaitu di provinsi Jawa Barat, Banten, Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah,dan Sulawesi Tengah. Kegiatan ini merupakan hasil dari kerja sama Bimas Islam dengan BNPT, Mabes Polri, Kementerian Polhukam, dengan melibatkan pimpinan Ormas Islam.
 
Keempat, pembinaan pelaksanaan nilai-nilai Syariah hingga level Kebupaten/Kota dan Kecamatan melalui aparatur Bimas Islam daerah, baik provinsi, kabupaten/kota dan juga kecamatan yang dimotori oleh kepala KUA. Aparatur daerahterjun langsung di masyarakat untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat bagaimana ajaran Islam dijalankan dan dijadikan sebagai tradisi bermasyarakat. Melalui program ini telah dikeluarkan pola dan pedoman pembinaan Syariah yangdibagikan secara cuma-cuma kepada publik. 
 
Kelima, program pendeteksian dini terhadap paham dan aliran keagamaan menyimpang dan radikal untuk bisa dipetakan, didiagnosa, dan dicarikan solusi terbaik agar tidak menjadi masalah yang melebar. Salah satu program ini dilakukan kegiatan berupaWorkshop Standar Penilaian Paham Radikalime dan Aliran Sempalan. Kegiatan ini melibatkan banyak pihak, khususnya tokoh masyarakat setempat untuk memberikan masukan tentang penerapan standar penilaian terhadap ajaran radikal dan menyimpang agar dalam penanganannya serta pendekatannya tidak kontradiktif sebagaimana yang disinyalir oleh banyak pihak.
 
Keenam, kampanye dan sosialiasi pentingnya memperjuangkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil-alamin, baik melalui iklan di media massa, website, media sosial, pembagian stiker, penyebaran film dokumenter, animasi, dan motion graphic, serta sosialisasi melalui berbagai kegiatan, seperti pameran pada event MTQN/STQN, pameran Sekaten tahunan yang diselenggarakan oleh Pemda Provinsi Yogyakarta, juga pameran lain yang relevan. Dalam penyebaran buku-buku yang dibagikan ke seluruh provinsi telah dan akan dibagikan buku-buku, seperti buku berjudul: Islam Rahmatan Lil-Alamin, Atlas Walisongo,Perbedaan Bukan Perpecahan, Pembinaan Masyarakat Multikultural, buku saku “Berlomba Dalam Kebaikan” dan lain-lain.